Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - “Puasa, ikut kelompok A atau B?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Ringan. Seperti obrolan di warung kopi menjelang Ramadan. Tidak terdengar interogatif. Tapi kadang, nadanya bisa berubah. Dari tanya biasa menjadi penanda kubu dan “identitas”.
Di negeri ini, perbedaan awal Ramadan, sebenarnya bukan cerita baru. Sudah seperti menjadi rutinitas. Menjadi semacam ujian pembuka sebelum memasuki Ramadan. Terutama ujian untuk menahan ego.
Puasa pertama, ada yang merujuk rukyat. Ada yang berpegang pada hisab. Semua punya dasar. Semua punya dalil. Semua punya niat yang sama: beribadah.
Bayangkan jika perbedaan awal puasa berubah menjadi bahan saling sindir di media sosial. Retaknya bukan lagi pada kalender. Retaknya bisa menimpa umat.
Dua hari lalu ada diskusi menarik mengenai “hisab rukyat” ramadan di medsos. Sepertinya, “pematerinya” anak-anak muda yang memiliki pengetahuan luas. Diskusinya seru. Argumentatif. Menarik.
Karena diskusi ini berlangsung terbuka, semua bisa ikut serta. Ketika banyak peserta mengajukan argumentasi masing-masing dengan semangat tinggi, suasana berubah “hangat” cenderung panas.
Di sinilah masalahnya. Bukan perbedaannya yang menjadi persoalan. Tapi bagaimana membicarakan, mendiskusikan serta mengelola perbedaan itu. Perbedaan apa pun. Bukan hanya soal memulai puasa.
Baca juga : Taruhan Nyawa Di Lubang Aspal
Sesungguhnya, persatuan bukan berarti semua harus sama atau seragam. Bukan itu. Persatuan berarti saling menjaga saat berbeda. Bisa duduk bersama dalam satu meja. Saling menghormati.
Puasa boleh saja dimulai di hari yang berbeda. Tapi jangan memulai permusuhan di hari yang sama. Maka, jawaban terbaik untuk pertanyaan “ikut mana?” adalah: ikut menjaga persaudaraan dan kedamaian. Ikut menahan diri.
Jangan sampai, kita terlalu sibuk memandangi langit sampai lupa melihat ke dalam hati. Ke kedalaman ego. Karena, Ramadan dengan segala dinamikanya bisa menjadi madrasah ketenangan, bukan medan laga pembenaran diri atau menyalahkan pihak lain.
Jadi, “ikut yang mana? Yang A atau yang B”?. Ketika itu ditanyakan kepada seorang kawan yang suka becanda, dia menjawab santai, “saya ikut yang cepat bagi-bagi takjil”.
Baca juga : Kemanusiaan Di Atas Angka
Kawan yang lain menimpali “saya ikut istri saja, karena dia yang nyiapin makanan saat sahur dan buka”.
Seorang kawan yang dikenal bijak, menjawab dengan tenang, “saya ikut yang mengajarkan cinta, persaudaraan dan kedamaian”.
Selamat menunaikan dan menikmati ibadah puasa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.