RM.id Rakyat Merdeka - Korupsi bukan sekadar soal siapa yang ditangkap. Yang terpenting: apakah sistem yang melahirkannya ikut dibongkar atau tidak. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan: Indonesia berlari maju, jalan di tempat, atau bahkan mundur.
Saat ini, kasus demi kasus bermunculan. Harta fantastis yang diduga berasal dari korupsi ditemukan. Penangkapan dilakukan. Penyelidikan bergulir. Publik menyambutnya dengan harapan sekaligus rasa penasaran. Siapa lagi? Berapa lagi? Kapan lagi? Dimana lagi?
Semua itu penting. Tetapi ada satu hal yang jauh lebih penting. Jangan sampai pemberantasan korupsi berubah menjadi serial yang selalu berganti episode, tetapi tidak pernah tuntas.
Pengalaman mengajarkan, negeri ini tidak kekurangan kasus besar. Bahkan sudah sangat banyak. Hebohnya luar biasa.
Yang sering kurang justru penuntasannya. Hari ini publik membicarakan satu perkara. Besok lusa muncul perkara lain. Akhirnya, perhatian masyarakat berpindah lebih cepat daripada penyelesaian hukumnya.
Karena itu, ukuran keberhasilan pemberantasan korupsi atau “bersih-bersih” tidak boleh berhenti pada jumlah tersangka. Atau, pejabat mana yang menjadi tersangka. Bukan sekadar itu.
Setidaknya ada empat penanda atau ukuran yang lebih bermakna. Pertama, penyidikan harus berani mengikuti ke mana pun alat bukti mengarah. Jangan berhenti pada pemain lapangan jika ada dugaan aktor utama yang belum tersentuh.
Kedua, proses peradilannya jangan mainmain. Harus transparan dan dipercaya, memenuhi rasa keadilan, dan tuntas. Di situlah kepercayaan atau trust publik bisa dibangun.
Baca juga : Yang Sial Dan Beruntung
Ketiga, aset negara harus kembali. Menangkap koruptor tanpa memulihkan kerugian negara ibarat menangkap pencuri, tetapi membiarkan barang curiannya tetap hilang.
Keempat, setiap perkara harus menghasilkan perubahan. Regulasi diperbaiki. Tata kelola dirombak. Pengawasan diperketat. Sistem ditata ulang. Kalau tidak, korupsi hanya akan berganti pelaku.
Pekerjaan seperti ini memang tidak mendapat tepuk tangan meriah. Tidak seramai penggerebekan. Tidak seviral penyitaan uang atau harta pejabat penting. Tetapi justru di situlah kualitas dan keseriusan pemerintahan diuji.
Rakyat sangat berharap, ada komando tegas serta kepastian bahwa seluruh aparat bekerja dengan kompas yang sama: hukum tidak mengenal warna politik, kedekatan, ataupun jabatan. Tidak ada perkara yang dipercepat karena tekanan. Tidak ada perkara yang diperlambat karena kepentingan.
Baca juga : Kompor Raksasa” Di Dapur Kita
Di mata para investor keseriusan ini sangat penting. Mereka tidak datang hanya karena melihat banyak orang ditangkap. Investor datang ketika yakin hukum bekerja konsisten.
Rakyat juga, sama. Hanya membutuhkan kepastian bahwa setiap kasus bisa membuat Indonesia lebih bersih dibanding kemarin.
Sejarah tidak akan terlalu mengingat siapa yang paling sering membongkar tembok korupsi. Sejarah akan mengingat siapa yang membangun fondasi atau sistem sehingga tembok itu tak pernah berdiri lagi. Itu intinya. Itu Legacy, dengan L besar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.