Dark/Light Mode

Ketika Kebisingan Jadi Industri

Selasa, 30 Juni 2026 06:18 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Masalah terbesar zaman digital bukan lagi kekurangan informasi, melainkan melimpahnya kebisingan. Ironisnya, semakin banyak informasi diproduksi, semakin sulit publik membedakan fakta dan manipulasi. Yang paling cepat menyebar bukanlah kebenaran, tapi emosi.

Algoritma media digital tidak dirancang untuk mencari yang benar, tetapi mempertahankan perhatian pengguna dan pembaca. Ya, kita-kita ini. Dalam ekonomi digital, “benci, cinta dan rindu”, bahkan menjadi komoditas paling menguntungkan.

Akibatnya, ruang publik perlahan berubah menjadi pasar emosi. Argumentasi dikalahkan sensasi, data ditenggelamkan oleh persepsi. Sementara yang viral sering kali lebih dipercaya daripada yang tervalidasi.

Kondisi ini bukan sekadar kesan. Digital News Report 2025 dari Reuters Institute menunjukkan kepercayaan publik terhadap berita di banyak negara masih rendah. Di sisi lain, konsumsi informasi melalui media sosial dan video pendek terus meningkat.

Baca juga : Ide Besar Saja Belum Cukup

Di saat yang sama, kecerdasan buatan membuat produksi konten berlangsung instan dalam skala masif. Informasi menjadi semakin murah, tetapi kemampuan berpikir kritis dan jernih justru semakin mahal.

Indonesia ada di arus itu. Persoalan mendasar seperti korupsi, ketimpangan sosial ekonomi, kualitas demokrasi, penegakan hukum, hingga kerusakan lingkungan kerap tenggelam oleh hiruk­pikuk dan kebisingan yang sengaja dipelihara.

Kita lebih sibuk memperdebatkan narasi daripada menyelesaikan persoalan. Kita sibuk memperdebatkan arah angin, sementara kapal kehilangan haluan dan bocor di sana sini.

Korupsi pun mengalami metamorfosis. Korupsi tidak hanya menggerogoti keuangan negara, tetapi juga kesadaran publik. Fakta dipelintir, dan persepsi direkayasa. Yang dikorupsi bukan sekadar anggaran, melainkan kemampuan masyarakat membedakan kebenaran dari rekayasa dan kebisingan.

Baca juga : Harga Sebuah Janji Mulia

Dalam situasi seperti itu, menulis, dan mengamati apa pun secara konsisten, bukan sekadar rutinitas. Menulis dan mecermati apa pun, bisa menguji asumsi, “mengganggu” kemapanan berpikir, dan mengembalikan fakta dan kebenaran ke tempat yang semestinya.

Karena, demokrasi bisa lemah bukan hanya oleh kepemimpinan yang tidak cakap atau legislatif dan yudikatif yang lemah, tetapi juga oleh rakyat yang berhenti berpikir jernih dan kritis.

Yang harus dijaga bukan hanya kebebasan berbicara dan berekspresi, melainkan kualitas percakapan publik. Melatih nalar. Menjaga independensi berpikir.

Pekerjaan merawat kejernihan tidak pernah selesai. Setiap orang dapat memulainya: dengan membaca lebih teliti, mengamati lebih tajam, berpikir lebih independen, dan menyuarakan kebenaran serta kebaikan.

Baca juga : Ironi Demokrasi Digital

Ketika kebisingan menjadi industri dan komoditas, kejernihan berpikir harus dirawat. Perlu dijaga dan diperjuangkan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.