Dark/Light Mode
- Bangun 29 Bendungan, Waskita Karya Perkuat Ketahanan Pangan Dan Ekonomi Daerah
- Terima Ancaman Bom, SDN Srengseng Sawah 15 Jaksel Disisir Densus 88
- TikTok Perkuat Transparansi dan Literasi Konten Buatan AI
- PGN Sebut Jaringan Gas Sumatera Makin Kuat, Investor Diajak Lihat Langsung
- Disebut sebagai Sahabat, Kapolri Panggil Jaksa Agung Kakak Asuh
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam sebulan ini, kita menyaksikan beberapa kepala daerah mengenakan “rompi oranye”. Rompi itu menjadi penanda seseorang menjadi tersangka kasus korupsi. Menyaksikan itu, rakyat bersorak seolah-olah keadilan akhirnya menang.
Entah sejak kapan bangsa ini merasa bahwa penetapan tersangka atau mengenakan rompi oranye dinilai sebagai puncak keberhasilan pemberantasan korupsi.
Setelah rompi dikenakan, ada kesan, perhatian perlahan surut. Persidangan yang panjang, padahal banyak fakta penting, tak lagi menarik. Ada kepuasan atau emosi yang datang terlalu cepat.
Sayangnya, hukum dan pemberantasan korupsi tidak bekerja mengikuti logika emosi. Dalam hukum, “rompi” dan penetapan tersangka hanyalah pintu masuk.
Baca juga : Yang Sial Dan Beruntung
Masih ada proses pembuktian yang harus adil. Masih ada kemungkinan muncul pelaku lain. Masih ada uang negara yang harus dilacak. Masih ada aset yang harus dirampas. Masih ada sistem yang harus diperbaiki agar kejahatan yang sama tidak terulang.
Jika perhatian publik berhenti pada “rompi oranye” atau penetapan tersangka, bangsa ini sesungguhnya hanya menikmati kemenangan simbolik melawan korupsi.
Puncak rangkaian kasus korupsi bukanlah penetapan tersangka atau saat “mengenakan rompi oranye atau pink”. Korupsi harus membicarakan pemberi, penerima, perantara, penikmat hasil, bahkan pelindung politik dan birokrasi.
Dalam banyak kesempatan, Presiden Prabowo mengungkapkan kegeramannya terhadap “ekosistem” seperti ini. Presiden menyebutnya deep state. Ini semacam kekuasaan informal yang memengaruhi jalannya negara dari balik layar. Ibarat “negara dalam negara”.
Baca juga : Kompor Raksasa” Di Dapur Kita
Tekad kuat dan kegeraman Presiden terhadap deep state mestinya menjalar sampai ke bawah. Bisa dijalankan secara konsisten di lapangan. Tanpa pandang bulu. Di semua instansi.
Kita juga berharap, masifnya pengungkapan kasus korupsi saat ini (sepanjang 2026 saja sudah 10 kepala daerah yang terjaring OTT), bisa berjalan beriringan dengan perbaikan sistem. Diperlukan gebrakan serius untuk memperbaiki tata kelola.
Karena, ukuran keberhasilan tidak hanya dilihat dari “siapa atau berapa banyak yang mengenakan rompi oranye” melainkan “apakah sistemnya sudah diperbaiki?”
Bangsa yang dewasa dan maju tidak terpesona oleh adegan pembuka yang heboh. Bangsa yang dewasa mengawal cerita sampai halaman terakhir. Sebab, rompi oranye bukanlah kemenangan. Itu hanyalah pengingat bahwa pekerjaan besar baru saja dimulai.
Baca juga : Usulan Untuk Pilkada Hemat
Jika pemberantasan korupsi berjalan lamban atau berhenti pada “momen rompi”, bangsa ini hanya memenangkan pertunjukan. Tetapi kalau perkara dituntaskan, aset dipulihkan, seluruh pelaku dimintai pertanggungjawaban, dan sistem diperbaiki, barulah negara dan rakyat benar-benar menang.
Dan, kemenangan seperti itulah yang seharusnya dirayakan. Bukan sekadar saat mengenakan rompi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.