Dark/Light Mode

Ide Besar Saja Belum Cukup

Minggu, 28 Juni 2026 06:44 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - “Ide-ide besar Presiden tidak dibarengi dengan perencanaan yang matang.”

Pengakuan Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan soal MBG tersebut layak dicatat. Sangat penting. Pengakuan ini menyentuh persoalan yang jauh lebih mendasar.

Ini bukan tentang satu program saja. Tapi bagaimana semua kebijakan dirancang, dibangun, dijaga dan dituntaskan dengan baik. Kapan pun. Di mana pun.

Sering kali kita sangat cepat melahirkan ide besar. Namun, sering lupa, ide besar membutuhkan fondasi yang juga besar.

Sejarah menunjukkan pola yang hampir selalu sama. Program diluncurkan. Anggaran disiapkan. Target ditetapkan. Harapan dibangun.

Baca juga : Harga Sebuah Janji Mulia

Di tengah jalan, persoalan mulai bermunculan. Koordinasi belum rapi. Pengawasan belum siap. Daerah belum memiliki kapasitas yang sama. Sistem baru dibenahi ketika masalah sudah terlanjur muncul.

Sebenarnya, pelajarannya sudah banyak. Sebut misalnya kasus distribusi Raskin dan penyimpangan Dana Desa di sejumlah daerah. Atau, kasus korupsi Bansos pada saat Covid-19 yang memenjarakan seorang Mensos. Sayangnya, kasus-kasus tersebut lewat begitu saja. Terulang dan terulang lagi.

Pelajarannya sederhana: Program besar membutuhkan arsitektur yang juga besar, rapi dan kuat.

Lihat saja, negara-negara yang memiliki sistem akuntabilitas, transparansi, dan pengawasan kuat, umumnya mampu menghadirkan layanan publik yang lebih baik. Mereka bisa menekan risiko penyimpangan.

Apakah karena negeri-negeri tersebut memiliki orang-orang yang lebih jujur? Saya tidak yakin. Tata kelola mereka baik karena sistemnya rapi dan kuat. Dirancang sangat matang, sehingga penyimpangan semakin sulit dilakukan dan semakin mudah ditemukan.

Baca juga : Ironi Demokrasi Digital

Di sinilah arti penting pengakuan Luhut. Mengakui kekurangan bukanlah kelemahan. Justru itu tanda bahwa sebuah pemerintahan masih mau mendengar. Mau belajar.

Tetapi, belajar tidak cukup dengan evaluasi. Belajar harus melahirkan perubahan. Ada perbaikan. Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar “siapa yang salah?”

Yang jauh lebih penting adalah, “apa yang harus diubah agar kesalahan yang sama tidak terulang?”.

Jawabannya tidak terlalu rumit. Mulailah dengan menguji program dalam skala terbatas sebelum diperluas. Jangan langsung jor-joran.

Bangun sistem pengawasan sejak hari pertama, bukan setelah masalah muncul. Lalu, jadikan evaluasi sebagai kebiasaan dan kewajiban. Bukan sekadar respons ketika krisis datang.

Baca juga : Piala Dunia Milik Siapa?

Bukan reaktif. Apalagi denial.

Kita yakin, Indonesia tidak pernah kekurangan gagasan besar. Ide-ide mulia serta program-program yang baik, stoknya banyak. Pejabatnya pintar-pintar.

Yang sering kurang adalah kesabaran dan kesiapan membangun institusi yang menopangnya. Termasuk hukumnya. Sebab, visi hanya menunjukkan arah. Tetapi hanya sistem yang kokoh yang mampu mengantarkan sebuah bangsa sampai ke tujuan.

Ibarat membangun gedung, kemegahan atap tidak pernah mampu menutupi rapuhnya fondasi. Begitu pula program-program berbiaya besar dan mulia. Tanpa sistem yang kokoh, yang runtuh bukan hanya program dan kebijakannya, melainkan juga kepercayaan publik.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 28 Juni 2026 dengan judul "Ide Besar Saja Belum Cukup"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.