Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Janji kesejahteraan selalu ada tagihannya. Ada harganya. Harus dibayar. Bahkan bisa sangat mahal.
Kalimat ini terasa relevan ketika cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dikurangi atau disesuaikan karena tekanan anggaran.
Program ini punya tujuan yang sulit dibantah: memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan makanan bergizi agar tumbuh sehat dan kuat. Tujuan dan targetnya sangat mulia. Itu pasti.
Tetapi ada pertanyaan sederhana yang sering dilupakan: apakah program tersebut benar-benar mampu “dijaga”, ditingkatkan kualitasnya serta dibiayai sampai akhir?
Baca juga : Ironi Demokrasi Digital
Negara bisa diibaratkan seperti keluarga. Orang tua tentu ingin memberi yang terbaik untuk anaknya: sekolah bagus, makan, sandang, papan tercukupi. Masa depannya cerah. Tapi semua itu harus disesuaikan dengan penghasil an. Kalau pengeluaran terus lebih besar dari pemasukan, niat baik bisa berubah menjadi masalah.
Begitu juga negara. Banyak contoh di dunia menunjukkan hal tersebut. Sejumlah negara berkembang, seperti di Amerika Latin, memperluas program kesejahteraan terlalu cepat, sebelum pendapatan negaranya cukup kuat.
Akibatnya, anggaran tertekan, utang meningkat, dan program yang semula menjanjikan harapan justru sulit dipertahankan.
Ketika ekonomi melemah atau penerimaan tidak sesuai harapan, programprogram itu terpaksa dipotong atau “disesuaikan”. Bukan karena tidak penting atau tidak mulia. Bukan karena itu. Tetapi karena tidak sanggup dibiayai.
Baca juga : Piala Dunia Milik Siapa?
Di sinilah pentingnya melihat suatu program. Program apa pun. Apalagi yang masif dan berbiaya super jumbo.
Menimbang, mengukur, menguji dan menjajal berbagai macam program dengan sangat akurat, menjadi sangat krusial. Ukuran “pasak dan tiang” yang pas, sangat menentukan arah sebuah bangsa. Pilihan model pembangunan ini akan menentukan masa depan generasi berikutnya.
Apakah Indonesia akan membangun negara kesejahteraan yang kuat dan tahan lama? Atau justru memperluas janji sosial lebih cepat daripada kemampuan membiayainya?
Apa pun pilihan yang ambil, tidak berdampak hari ini saja. Dampaknya akan terasa sampai puluhan tahun ke depan. Anakanak yang hari ini bersekolah akan menjadi orang dewasa. Mereka akan menjadi pemimpin, birokrat, pengusaha, pekerja UMKM, menjadi orangtua dan menjadi rakyat penopang bangsa ini.
Baca juga : Tikus Tak Lagi Takut Kucing
Jika mereka tumbuh sehat dan punya pendidikan yang baik, Indonesia akan memperoleh generasi yang kuat. Tapi jika programprogram penting tidak bisa bertahan karena anggaran tidak cukup, dikorupsi, atau salah sasaran, maka peluang itu bisa hilang. Runtuh.
Karena itu, yang diuji bukan hanya niat baik dan mulia. Tapi juga kemampuan menjaga niat, program dan target tersebut tetap berjalan baik, berkualitas, serta konsisten dalam jangka panjang.
Ini sangat penting. Karena, negara yang kuat dan maju sangat ditentukan oleh kemampuan mewujudkan harapan dan janjijanji mulia untuk rakyat, hari ini dan di masa depan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.