Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Ketika harga beras naik, air mulai langka, sawah mengering, dan panas kian menyengat, apakah kita baru menyadari ada ancaman?
Padahal, saat dampaknya sudah terasa di dapur, di sawah, dan di keran air rumah, El Nino, ancaman itu, sesungguhnya telah bekerja jauh lebih dulu. Ancaman ini tidak datang mendadak. El Nino bergerak perlahan sehingga sering luput dari perhatian.
El Nino adalah pemanasan berkala suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mengubah pola cuaca di berbagai belahan dunia.
Samudra itu ibarat “kompor raksasa” yang apinya membesar lalu menyebarkan panas ke berbagai wilayah. Akibatnya, suhu meningkat dan jadwal hujan berubah, termasuk di Indonesia.
Baca juga : Usulan Untuk Pilkada Hemat
Kedengarannya jauh. Samudra Pasifik terasa bukan urusan kita. Padahal, dampaknya bisa sampai ke dapur, sawah, dan keran air di rumah.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan peluang berkembangnya El Nino sekitar 80 persen dan berpotensi menguat mulai Juli ini.
Di Indonesia, BMKG memprediksi dampaknya paling terasa pada Juli hingga September, dengan puncak kekeringan pada Agustus. Curah hujan diperkirakan menurun tajam.
Musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering.
Baca juga : Musang Di Kandang Ayam
Suhu udara pun terasa lebih menyengat. Wilayah seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara termasuk yang paling rentan.
Masalahnya, kekeringan itu merambat pelan. Dan “tiba-tiba” saja sawah mulai kehilangan air. Hasil panen menurun. Harga pangan naik. Sumber air bersih menyusut. Risiko kebakaran hutan meningkat. Bahkan pembangkit listrik tenaga air ikut terancam karena debit air di waduk menurun. Semua itu saling berkaitan.
Sayangnya, kita sering menganggap El Nino sebagai urusan para ahli cuaca. Padahal, ketika harga beras mulai naik, air bersih harus dihemat, dan kita lebih banyak mengeluarkan uang untuk membeli minuman kemasan karena kehausan dan kepanasan, persoalannya sudah menjadi urusan semua orang.Jadi masalah kita semua.
Pengalaman berbagai negara semestinya menjadi pengingat, tanpa harus membuat kita panik. Gelombang panas ekstrem yang saat ini melanda Eropa menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi cerita tentang masa depan. Dampaknya sudah terjadi dan dirasakan sekarang. Di depan mata.
Baca juga : Tidak “Seksi” Tapi Menentukan
Kalau Eropa bergulat dengan suhu yang mematikan, Indonesia menghadapi ancaman kekeringan yang menggerus ketahanan pangan dan ketersediaan air. Tanda-tandanya pun mulai kita rasakan melalui udara yang kian panas dan musim kemarau yang saat ini semakin keras kita rasakan.
Karena itu, respons kita tidak boleh sekadar menunggu hujan turun. Tentu, pemerintah sudah menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Yang terpenting sekarang adalah memastikan pelaksanaannya berjalan efektif di lapangan.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran. Air perlu dihemat. Pembakaran lahan harus dicegah. El Nino mungkin belum mengetuk pintu rumah kita hari ini. Namun, “tamu tak diundang” itu sedang berjalan ke arah kita.
Pertanyaannya bukan lagi apakah tamu itu akan datang, melainkan apakah kita sudah benar-benar siap menyambutnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.