RM.id Rakyat Merdeka - Ada satu kata yang selalu menarik ketika sejarah dibuat. Kata itu: Pertama. Ada medali pertama. Presiden pertama. Anak pertama yang masuk sekolah atau kuliah. Sekarang ada “perempuan pertama”.
Ya, Destry Damayanti menjadi perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia sejak lembaga itu berdiri. Dia menjadi Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031. Baru dilantik.
Tentu ini patut dicatat. Tetapi justru kata “pertama” itu yang membuat kita bertanya. Kenapa? Karena Bank Indonesia sudah berusia lebih dari 70 tahun. Kenapa baru sekarang?
Karena, selama itu, banyak perempuan Indonesia sudah menjadi ekonom, bankir, akademisi, pengusaha, pejabat, bahkan Presiden.
Baca juga : “Kami Di Atas Politik”
Jawabannya: mungkin memang belum ada yang terpilih. Mungkin kesempatan belum datang. Mungkin belum zamannya. Karena, “setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya”.
Dulu ada yang bertanya: “Apakah perempuan bisa memimpin bank sentral?”. Pertanyaan itu sekarang sudah tidak relevan.
Karena sekarang seorang perempuan sudah duduk di sana. Pertanyaan berikutnya jauh lebih sederhana: “Apakah dia bisa bekerja dengan baik?” Ini pertanyaan yang sehat. Juga sangat penting.
Sebab setelah simbol “perempuan pertama” dicatat, Destry harus menghadapi persoalan yang sama dengan gubernur-gubernur BI sebelumnya: inflasi, rupiah, suku bunga. Stabilitas sistem keuangan. Pertumbuhan ekonomi. Independensi. Banyak lagi.
Rupiah tidak bertanya siapa yang mengatur suku bunga. Inflasi tidak peduli siapa yang membuat kebijakan. Pasar keuangan tidak membedakan suara “she” dan “he”. Yang dibutuhkan adalah kemampuan.
Tidak ada satu pun yang akan menjadi lebih lunak atau privilege hanya karena yang memimpin seorang perempuan.
Kalau Destry berhasil memimpin sebuah lembaga besar, kita seharusnya tidak berhenti pada kalimat: “Hebat, perempuan pun bisa”. Kalimat itu justru masih menyimpan cara pandang lama. Yang lebih tepat: “Dia mampu. Titik.”
Simbol “pertama” memang penting, tetapi kemudian kita harus segera kembali ke intinya: setelah sejarah dibuat, pekerjaan harus selalu dikerjakan dengan baik, benar, dan mencetak prestasi. Bahkan harus ada “legacy” hebat yang layak dicatat sejarah dengan text bold.
Baca juga : Bayangkan Api Itu Di Jakarta
Sehingga, setelah itu kita tidak lagi terlalu sibuk menghitung siapa perempuan pertama, kedua, atau ketiga. Kita akan mulai menghitung sesuatu yang lain: seberapa baik dia mengerjakan pekerjaannya. Apa gebrakan dan prestasinya.
Dan, suatu hari nanti kita tidak lagi menulis “perempuan pertama”. Bukan karena perempuan tidak penting. Tetapi karena kata itu sudah tidak perlu dijelaskan lagi.
Maka, saat itu, yang dikedepankan bukan lagi Destry sebagai “Gubernur Perempuan Pertama”. Dia akan disebut sebagai “Gubernur BI yang Berhasil”. Kita tunggu.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 dan 6, edisi Minggu, 6 September 2026 dengan judul "Perempuan Pertama"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.