RM.id Rakyat Merdeka - Dua kasus, satu benang merah.
Pertama, negara tetangga memprotes asap kebakaran hutan dan lahan dari Indonesia. Kedua, MSCI “mengancam” menurunkan status pasar modal kita, dari emerging market menjadi standalone market. Itu bukan turun satu anak tangga. Itu longsor. Amblas dua kasta sekaligus.
Benang merahnya bukan soal komunikasi, melainkan soal kepercayaan pada tata kelola kita. Sanggupkah Indonesia membenahinya dengan sungguh-sungguh? Itulah pertanyaan yang paling penting.
Di dalam negeri, kita bisa saja mengatakan “fundamental ekonomi kita kuat.” “MSCI tak selalu benar.” “Negara tetangga juga punya andil, jangan hanya menyalahkan kita.” Bisa jadi, semua itu benar.
Tapi pihak luar tidak menunggu pembelaan. Investor dan negara tetangga menuntut hal lain: perubahan nyata, konsisten, dan bisa diuji.
Karena itu, diplomasi kita harus bergeser. Dari yang defensif menjadi yang berbasis pembenahan. Pembenahan yang terukur dan bisa diverifi kasi secara independen.
Membela dan memperjuangkan kepentingan nasional tetap perlu. Itu wajib. Namun, pembelaan akan sangat kuat bila ditopang bukti. Bukan sekadar “pemadam kebakaran”. Atau aksi yang terlihat “anget-anget tahi ayam”.
Di pasar saham, investor ingin diyakinkan, apakah informasinya terbuka, perdagangannya adil serta manipulasi apa pun bisa dikendalikan. Mereka ingin melihat data kepemilikan yang kian akurat, dan aturan yang berlaku tanpa pandang bulu.
Baca juga : Rupiah Pingsan, Dompet Menjerit
Dalam urusan karhutla, tetangga kita menuntut keyakinan serupa. Bahwa kebakaran bisa dicegah. Pelakunya ditindak. Dampak lintas batasnya dikendalikan. Walau pun, mereka juga tidak bisa lepas tangan atas karhutla.
Memadamkan api saja tidak cukup. Itu kerja pemadam kebakaran. Yang dibutuhkan adalah pencegahan yang konsisten dan berjangka panjang, supaya tahun depan api tak kembali. Supaya tahun depan, asap tidak lagi menyebar kemana-mana.
Citra baik serta kredibilitas yang bisa bertahan lama tidak lahir dari memenangkan debat. Tidak lahir dari sekadar pembelaan diri. Citra dan kredibilitas lahir ketika pihak lain mengakui bahwa masalahnya memang sedang diselesaikan, dengan serius. Konsistensinya terjaga.
Maka, Indonesia harus membuktikan satu hal: kritik dan peringatan bisa berujung pada perubahan yang lebik baik.
Baca juga : Api di Hutan, Emas di Kantor
Kredibilitas dan kepercayaan dibangun lewat tata kelola yang konsisten, hari demi hari. Dari situ dunia akan melihat Indonesia sebagai negara yang serius, dapat diprediksi, dan layak dipercaya.
Dengan demikian, mereka akan berbondong-bondong datang. Mengetuk pintu-pintu lahan investasi. Bahkan mengejar kita.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.