Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Ketika jenazah Maolana Purwa Wibowo diidentifikasi, di saku celananya ditemukan uang Rp 13.000. KTP mendiang neneknya juga terselip di dompetnya.
Maolana berusia 18 tahun. Sejak SMP, anak yatim piatu ini bekerja serabutan. Dia berangkat dari Cilacap menuju Kalimantan untuk mencari pekerjaan, membantu kakek dan adiknya. Dia juga mengejar sebuah cita-cita sederhana: memiliki sepeda motor.
Dia naik kapal untuk pertama kalinya. Dia tidak sedang mengejar kemewahan. Dia sedang mengejar harapan dan kehidupan. Lalu kapal itu tenggelam.
KM Virgo Transport 8 membawa 243 orang dan 89 kendaraan ketika berlayar dari Surabaya. Di Perairan Masalembo, 13 September 2026, pukul dua dini hari, kapal buatan Jepang berusia 39 tahun itu, tenggelam.
Baca juga : Sistem Di Balik Pintu
Pemerintah kemudian menjanjikan investigasi menyeluruh, termasuk terhadap kondisi kapal dan proses pemeriksaan kelayakannya.
Pertanyaannya: mengapa keselamatan banyak orang masih harus bergantung pada “apakah sistem bekerja atau tidak?”.
Pertanyaan itu semestinya tak pernah diajukan lagi setelah rangkaian kecelakaan sebelumnya.
Mestinya tidak terjadi lagi setelah ada tekad “kecelakaan ini yang terakhir”. Atau, “mari kita ambil pelajaran dan hikmahnya”.
Baca juga : Mengapa Bukan Kita?
Tapi kecelakaan itu terjadi. Pertanyaan lainnya: siapa yang memastikan kapal itu laik berlayar? Bagaimana risiko cuaca dinilai? Apa dasar keputusan bahwa pelayaran tetap aman dilakukan? Bagaimana kondisi muatan dan distribusi kendaraan diperiksa?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang menjadi inti tata kelola keselamatan. Sebab keselamatan bukan sekadar memiliki aturan di atas kertas. Keselamatan adalah kemampuan membuat aturan sebelum kapal berangkat.
Jika cuaca memburuk, harus ada keberanian menunda pelayaran. Jika kondisi kapal tidak memenuhi standar, kapal harus berhenti. Jika muatan berisiko mengganggu stabilitas, keberangkatan tidak boleh menjadi pilihan.
Jika ada pelanggaran, sanksinya harus nyata. Jelas. Tegas. Tak ada negosiasi. Di sinilah negara tidak boleh sekadar menjadi penerbit sertifikat dan pemeriksa dokumen. Negara harus menjadi penjaga terakhir.
Karena, bagi Maolana, dan banyak penumpang lainnya, di laut, darat dan udara, perjalanan menggunakan moda angkutan adalah jembatan menuju masa depan. Mengusung banyak harapan.
Karena itu, negara mestinya hadir jauh sebelum sirene kapal berbunyi dan tim SAR turun ke laut. Pertolongan terbaik adalah mencegahnya tenggelam.
Ketika kapal itu tenggelam di dasar Laut Jawa, yang hilang bukan hanya seorang pemuda, seorang anak, adik, kakak, ibu atau bapak. Yang ikut tenggelam adalah masa depan yang sedang diperjuangkan dengan seluruh keberanian.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.