RM.id Rakyat Merdeka - Hari ini Sumpah Pemuda berusia 98 tahun. Upacara digelar, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan ikrar 1928 kembali dibacakan. Pemerintah mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Semuanya penting untuk merawat ingatan kebangsaan. Tetapi hampir satu abad setelah para pemuda mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, pertanyaan yang patut diajukan bukan lagi apakah generasi muda hafal isi sumpah itu. Pertanyaannya: apakah republik yang mereka warisi masih memberi cukup alasan untuk percaya bahwa masa depan dapat dibangun di tanah air sendiri?
Ada jarak antara nasionalisme yang diajarkan dan nasionalisme yang dialami. Di ruang kelas, pemuda diminta mencintai Indonesia. Di media sosial, mereka menyaksikan ketimpangan kesempatan, perdebatan tentang privilese, dan persaingan mencari pekerjaan. Mereka diminta berprestasi, tetapi tidak selalu berhadapan dengan arena yang setara. Mereka diajari bahwa kerja keras membuka jalan menuju keberhasilan, sementara kedekatan sosial dan akses terhadap jaringan tertentu kadang terlihat lebih menentukan. Nasionalisme tentu tidak boleh direduksi menjadi transaksi keuntungan pribadi. Namun kecintaan terhadap bangsa juga membutuhkan pengalaman bahwa negara memperlakukan warganya secara adil.
Generasi digital memiliki cara berbeda dalam memahami tanah air. Mereka belajar dari kampus, tetapi juga dari internet. Mereka membangun usaha melalui platform, bekerja lintas negara, dan membandingkan kesempatan hidup secara global. Sebagian melihat masa depan melalui peluang bekerja di luar negeri. Pilihan itu tidak otomatis menandakan kurangnya patriotisme. Mobilitas manusia merupakan bagian dari dunia modern. Persoalan yang lebih penting adalah apakah Indonesia mampu menyediakan lingkungan yang membuat anak-anak mudanya ingin berkarya, berinovasi, dan kembali membawa pengetahuan. Cinta tanah air seharusnya menjadi kekuatan yang membuka kemungkinan, bukan alasan untuk mempersempit pilihan.
Karl Mannheim dalam esainya “The Problem of Generations” menjelaskan bahwa generasi bukan sekadar kelompok manusia yang lahir pada rentang waktu berdekatan. Kesadaran generasional terbentuk melalui pengalaman sejarah dan perubahan sosial yang mereka hadapi. Bahkan orang-orang dalam satu generasi dapat merespons keadaan yang sama secara berbeda. Pemuda 1928 dibentuk oleh pengalaman kolonialisme dan kebutuhan membangun persatuan melampaui identitas kedaerahan. Pemuda 2026 menghadapi tantangan lain: ekonomi digital, kecerdasan buatan, perubahan iklim, kompetisi global, serta ketidakpastian pekerjaan. Karena pengalaman sejarahnya berbeda, cara mereka menghayati nasionalisme pun tidak harus seragam.
Baca juga : Santri Jangan Pajangan
Kekeliruan terjadi ketika generasi lama menganggap perbedaan ekspresi sebagai kemerosotan kecintaan terhadap bangsa. Anak muda yang kritis disebut kurang menghormati negara. Mereka yang mempertanyakan kebijakan dianggap tidak memahami perjuangan pendahulu. Padahal para pemuda 1928 sendiri melakukan sesuatu yang radikal pada zamannya: menolak menerima begitu saja batas-batas identitas yang diwariskan kepada mereka. Mereka tidak sekadar mengulang bahasa politik generasi sebelumnya. Mereka menciptakan imajinasi kebangsaan yang baru. Jika keberanian berpikir merupakan bagian dari warisan Sumpah Pemuda, mengapa generasi sekarang justru diminta membuktikan patriotisme dengan tidak banyak bertanya?
Tugas negara bukan memproduksi generasi yang hanya pandai mengucapkan sumpah, melainkan membangun kesempatan agar mereka mampu mewujudkannya. Meritokrasi harus lebih dari slogan dalam seleksi pendidikan, pekerjaan, dan jabatan publik. Akses pelatihan teknologi perlu menjangkau pemuda di luar kota besar. Kewirausahaan membutuhkan pembiayaan dan pasar, bukan hanya kompetisi proposal. Partisipasi politik anak muda juga harus dibuka melampaui forum seremonial dan undangan menjadi peserta acara. Pemerintah, kampus, dunia usaha, dan organisasi masyarakat perlu menyediakan ruang tempat gagasan generasi muda benar-benar memengaruhi keputusan. Persatuan akan lebih kuat ketika setiap orang merasa memiliki kesempatan untuk ikut membangun negeri.
Baca juga : Kuasa Harus Berbekas
Sumpah Pemuda bukan benda pusaka yang harus disimpan dalam lemari sejarah. Ia adalah janji antargenerasi yang perlu diperbarui maknanya. Pada 1928, para pemuda berani membayangkan Indonesia yang belum merdeka. Pada 2026, tantangannya adalah memastikan Indonesia yang sudah merdeka tetap memberi ruang bagi keberanian membayangkan masa depan yang lebih adil. Generasi muda tidak harus berpikir persis seperti pendahulunya untuk mencintai bangsa yang sama. Pemudanya berubah. Jangan nasionalismenya cuma disuruh menghafal. Sebab sumpah yang paling setia kepada sejarah adalah sumpah yang berani menjawab zamannya sendiri.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.