Dark/Light Mode

Pangan Jangan Panggung

Senin, 12 Oktober 2026 08:13 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Gudang Bulog sedang penuh kabar baik. Cadangan beras pemerintah tahun ini sempat mencapai 5,4 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah. Serapan beras melampaui target. Pemerintah semakin percaya diri berbicara tentang swasembada dan kedaulatan pangan. Capaian itu patut dicatat. Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting daripada seberapa penuh gudang negara: seberapa baik kehidupan orang yang mengisi gudang itu?

Pangan memang selalu menggoda menjadi panggung politik. Presiden berbicara tentang swasembada. Menteri menunjukkan stok. Pejabat mengunjungi sawah. Kamera menangkap bulir padi yang menguning. Semua tampak menjanjikan. Namun beras memiliki perjalanan lebih panjang daripada seremoni panen. Ia harus melewati petani, penggilingan, gudang, distributor, pedagang, dan akhirnya dapur keluarga. September lalu harga beras masih mengalami inflasi tahunan 3,73 persen. Stok nasional yang besar ternyata tidak otomatis membuat seluruh persoalan pangan selesai.

Baca juga : Pajak Jangan Buta

Di sawah, ukuran keberhasilan berbeda dari ukuran di podium. Petani menghitung ongkos pupuk, benih, sewa lahan, air, tenaga kerja, dan harga gabah setelah panen. Ketika harga gabah naik, pendapatan petani berpeluang membaik. Tetapi ketika beras mahal, konsumen menanggung tekanan. Pemerintah harus menjaga keduanya tanpa menjadikan salah satu pihak korban kebijakan. Lebih rumit lagi, banyak petani berlahan sempit juga membeli beras untuk kebutuhan rumah tangganya. Mereka produsen sekaligus konsumen. Kedaulatan pangan karena itu bukan sekadar urusan menumpuk produksi, melainkan membangun keseimbangan yang adil.

Michael Pollan dalam The Omnivore's Dilemma mengajak kita melihat pangan sebagai sebuah sistem, bukan sekadar barang yang muncul di rak pasar. Di balik makanan terdapat tanah, energi, teknologi, kebijakan, ekologi, dan hubungan ekonomi yang menentukan siapa memperoleh keuntungan serta siapa menanggung biaya. Pelajaran pentingnya bagi Indonesia: keberhasilan pangan tidak cukup dibaca dari tonase. Produksi yang meningkat memang menggembirakan, tetapi keberlanjutan sistem pertanian ditentukan pula oleh kesehatan tanah, ketahanan air, kesejahteraan petani, dan kemampuan generasi berikutnya untuk tetap memproduksi pangan.

Baca juga : Kerja Jangan Hilang

Ancaman sesungguhnya justru bisa datang ketika kita terlalu percaya pada angka keberhasilan hari ini. El Niño mengingatkan bahwa stok besar bukan jaminan panen berikutnya aman. Irigasi yang rusak tidak dapat diperbaiki dengan konferensi pers. Sawah yang beralih fungsi tidak tumbuh kembali hanya karena target dinaikkan. Petani yang menua membutuhkan penerus, sementara anak muda membutuhkan alasan ekonomi untuk masuk ke pertanian. Jika bertani tetap identik dengan kerja berat, risiko tinggi, dan keuntungan tipis, swasembada akan terus bergantung pada generasi yang semakin sedikit bersedia menanam.

Karena itu, APBN 2027 harus memperkuat fondasi pangan, bukan sekadar memperbesar angka pengadaan. Irigasi, riset benih, penyuluhan, mekanisasi yang sesuai kebutuhan, perlindungan lahan, pembiayaan murah, asuransi pertanian, dan akses pasar harus bekerja sebagai satu sistem. Bulog perlu menjalankan penyerapan dan stabilisasi secara transparan, menjaga mutu cadangan, serta memperhatikan dampak kebijakan harga terhadap petani dan konsumen. Impor, bila diperlukan dalam keadaan tertentu, harus diputuskan berdasarkan kebutuhan nyata dan data yang terbuka, bukan gengsi politik. Kedaulatan pangan berarti memiliki kemampuan produksi dan ketahanan menghadapi krisis, bukan sekadar mengumumkan bahwa kita tidak membeli dari luar.

Baca juga : Seragam Jangan Sibuk

Swasembada bukan piala yang cukup diangkat sekali, lalu dipajang lima tahun. Ia harus dipelihara setiap musim tanam, setiap perubahan cuaca, dan setiap pergantian generasi. Negara boleh bangga pada gudang yang penuh. Tetapi kebanggaan itu belum lengkap jika petani tidak memiliki masa depan yang layak. Pangan jangan dijadikan panggung. Sebab padi tidak tumbuh dari pidato, dan kedaulatan pangan tidak akan bertahan tanpa petani yang mau bertahan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.