Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah memasang target ambisius: kemiskinan turun menjadi 6–6,5 persen pada 2027. Angka terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan kemiskinan masih 8,07 persen, atau 22,93 juta jiwa. Artinya, jutaan orang harus keluar dari kategori miskin agar sasaran tercapai. Target memang diperlukan untuk menggerakkan kebijakan. Tetapi kemiskinan bukan perlombaan memperkecil angka. Ada manusia di balik setiap desimal. Mereka membutuhkan kehidupan yang lebih baik, bukan sekadar status statistik yang berubah.
Statistik memiliki garis. Kehidupan tidak. Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional berada di angka Rp 669.235 per kapita per bulan. Mereka yang pengeluarannya sedikit di atas garis itu tidak lagi tercatat miskin. Secara metodologis, penghitungan tersebut sah dan diperlukan. Namun kehidupan keluarga tidak otomatis aman hanya karena melewati batas administratif. Satu anggota keluarga sakit, pekerjaan terputus, harga pangan melonjak, atau biaya sekolah meningkat, mereka bisa kembali jatuh. Negara boleh mengeluarkan seseorang dari kategori miskin. Jangan sampai kemiskinan tetap tinggal di rumahnya.
Baca juga : Menhaj Tekankan, Pengelolaan Dana Haji Harus Aman dan Produktif
Bayangkan keluarga pekerja informal dengan dua anak. Penghasilan bulan ini cukup untuk makan, membayar kontrakan, dan ongkos sekolah. Bulan depan belum tentu. Tidak ada tabungan memadai. Tidak ada kontrak kerja tetap. Sepeda motor rusak saja bisa mengacaukan keuangan keluarga. Mereka mungkin tidak tergolong miskin menurut ukuran resmi, tetapi hidup hanya satu musibah dari kemiskinan. Inilah kelompok rentan yang sering menghilang dari perhatian ketika kebijakan terlalu terpaku pada mereka yang berada di bawah garis. Padahal mencegah orang jatuh miskin sama pentingnya dengan mengangkat orang keluar dari kemiskinan.
Peter Townsend dalam Poverty in the United Kingdom mengembangkan pemahaman tentang kemiskinan sebagai deprivasi relatif. Seseorang tidak cukup dinilai dari kemampuannya memenuhi kebutuhan biologis minimum. Kemiskinan juga berkaitan dengan keterbatasan sumber daya untuk menjalani pola hidup, aktivitas, dan partisipasi sosial yang dianggap wajar dalam masyarakatnya. Perspektif ini tidak berarti ukuran kemiskinan resmi harus dibuang. Justru ia mengingatkan bahwa garis statistik hanya menangkap sebagian kenyataan. Orang bisa berada di atas garis kemiskinan tetapi tetap terhalang memperoleh pendidikan bermutu, pekerjaan layak, layanan kesehatan, dan kesempatan memperbaiki nasib.
Baca juga : Birokrasi Jangan Lomba
Persoalan pembangunan muncul ketika keberhasilan terlalu cepat disimpulkan dari turunnya persentase. Bantuan sosial dapat menjaga konsumsi dan mencegah keluarga jatuh lebih dalam. Itu penting. Namun bantuan yang tidak dihubungkan dengan penciptaan pekerjaan, peningkatan keterampilan, kesehatan, dan akses terhadap aset produktif berisiko hanya mempertahankan keluarga di sekitar garis kemiskinan. Lebih berbahaya lagi jika perubahan kategori penerima dianggap sebagai bukti kemandirian ekonomi. Nama boleh hilang dari daftar bantuan, tetapi persoalan penghasilan belum tentu selesai. Kemiskinan boleh turun di tabel. Jangan orang miskinnya hanya dipindahkan kategori.
Karena itu, strategi pengentasan kemiskinan 2027 perlu mengukur mobilitas sosial, bukan hanya penurunan angka sesaat. Pemerintah harus mengetahui berapa keluarga yang berhasil mempertahankan kesejahteraannya selama beberapa tahun, berapa yang memperoleh pekerjaan formal, berapa anak dari keluarga miskin mampu melanjutkan pendidikan, dan berapa rumah tangga memiliki perlindungan ketika menghadapi guncangan ekonomi. Data sosial perlu diperbarui secara akurat, disertai mekanisme pengaduan yang mudah. Bantuan harus melindungi mereka yang membutuhkan, sementara kebijakan pendidikan, kesehatan, perumahan, dan ketenagakerjaan membuka jalan agar keluarga tidak selamanya bergantung pada bantuan.
Baca juga : Birokrasi Jangan Lomba
Kemiskinan bukan sekadar kondisi ketika uang seseorang berada di bawah garis tertentu. Ia juga berarti sempitnya pilihan, rapuhnya keamanan hidup, dan tertutupnya jalan menuju masa depan. Negara patut merayakan setiap penurunan kemiskinan yang benar-benar terjadi. Namun ukuran keberhasilan yang lebih tinggi adalah ketika anak dari keluarga miskin tidak harus mewarisi kemiskinan orang tuanya. Jangan hanya membuat orang miskin keluar dari statistik. Buatlah kemiskinan kehilangan jalan untuk kembali.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.