RM.id Rakyat Merdeka - Gerakan Sepak Bola untuk Rakyat (GSR) menggelar aksi 1000 Lilin & Doa Bersama untuk Sepak Bola Indonesia di Gedung Joang 45, Jakarta Pusat, Selasa (4/4).
Acara yang dihadiri ribuan suporter dari perwakilan klub di tanah air itu menghadirkan tiga narasumber, yakni Richard Achmad (Sekjen Presidium Nasional Suporter Sepak Bola Indonesia), Amsori Bahruddin Syah (Ketum Forum Akademisi Penggemar Sepak Bola Indonesia), dan Sigit Nugroho (Pengamat Olahraga Nasional).
Koordinator Nasional GSR Ferri Bastian mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan harapan publik terhadap perbaikan sepak bola Indonesia di masa yang akan datang setelah gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20.
"Kita melakukan diskusi dan aksi 1.000 lilin serta doa bersama untuk menjaring aspirasi para suporter yang kecewa karena Indonesia gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20, kita sama-sama menundukkan kepala untuk kembali tegak menatap masa depan," kata Ferri.
Menurut Ferri, ribuan lilin dinyalakan sebagai bentuk harapan dari para suporter agar sepak bola Indonesia kembali bangkit dari kegelapan.
Hal itu dilakukan sekalipun memberikan dukungan kepada ketua Umum PSSI Erick Thohir yang saat ini tengah berjuang
"Ibarat jalan lorong yang gelap dalam sepak bola, ribuan lilin ini merupakan titik terang bagi lahirnya harapan baru sepak bola Indonesia," ungkap Ferri.
"Lilin ini juga mengiringi langkah Pak Erick yang kita tau saat ini beliau lagi berjuang melobi FIFA agar Indonesia tidak mendapatkan sanksi berat," tambahnya.
Sementara itu, narasumber yang hadir sama-sama mengutarakan rasa kesedihannya seusai mendengar Indonesia batal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada Mei mendatang.
“Soal perasaan saya pikir sama seluruh Indonesia, kecuali para tokoh politik yang merasa sukses menggagalkan. Kalo saya jujur sedih karena saya juga tahu persiapan cukup lama terutama pemain ya,” ujar Pengamat Sepak Bola Nasional, Sigit Nugroho, saat menghadiri diskusi kopi darat di Gedung Joang 45.
Baca juga : Buntut Gagal Jadi Tuan Rumah Pildun U-20, Sandiaga Taksir RI Rugi Rp 3,7 T
Hal itu juga dirasakan Sekjen Presidium Nasional Suporter Sepak Bola Indonesia, Richard Achmad yang mengaku batalnya Piala Dunia U-20 menjadi tragedi yang menyedihkan dalam sejarah sepak bola Indonesia.
“Sama lah, bahwa sedih dan kecewa. Yang awalnya kita bangga dan karena kita akan menjadi bagian sejarah panjang Indonesia soal sepak bola,” ucap Richard.
Sementara itu, dari kalangan akademisi, gagalnya Piala Dunia U-20 menjadi duka bukan hanya bagi timnas, tetapi dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.
“Tetap sama lah perasaan. Apapun ceritanya, timnas kan jadi simbol, simbol sebuah negara. Ketika timnas kita gak bisa hadir di Piala Dunia tentunya ini menjadi duka bagi Ibu Pertiwi, duka kita semua, duka seluruh masyarakat Indonesia,” kata Amsori.
Meski sempat merasa sedih, ketiga yang hadir tersebut kini sudah “move on” dan menatap lembaran baru untuk tetap optimis agar sepak bola Indonesia berjalan lebih baik lagi ke depannya.
Baca juga : Jokowi: Rakyat Kecewa Dan Sedih, Saya Pun Sama
"Ketika Piala Dunia U-20 batal, terpukul. Tapi bagaimana kita memitigasi rasa kecewa menjadi sebuah energi yang baru, energi yang bisa buat sepak bola jadi lebih baik,” kata Sigit.
"Optimisnya Erick Thohir kita juga harus optimis sepak bola kita akan lebih maju,” ujar Richard.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.