RM.id Rakyat Merdeka - Nestapa tim Prancis yang harus puas menyabet peringkat keempat Piala Dunia 2026 sedikit terobati lewat prestasi luar biasa Kylian Mbappe. Penyerang Les Blues itu berhasil memboyong penghargaan Sepatu Emas usai mengemas 10 gol sepanjang turnamen.
Namun, di balik panggung gemerlap pencapaian pribadinya, terselip sebuah ironi besar yang mengiringi langkah pemain berusia 27 tahun tersebut. Ia kini terjebak dalam sebuah paradoks: bergelimang rekor dan penghargaan individu yang prestisius, namun nirgelar bergengsi baik di level negara maupun klub.
Keberhasilan Mbappe merengkuh Sepatu Emas tak lepas dari dominasinya di atas lapangan yang tak mampu dikejar oleh rival terdekatnya, Lionel Messi. Koleksi 10 gol milik penyerang Real Madrid itu resmi tak tersentuh setelah Messi gagal menambah perbendaharaan golnya pada partai puncak. Dalam laga final yang berakhir dengan kemenangan 1-0 Spanyol atas Argentina melalui babak perpanjangan waktu, kapten Tim Tango itu terkunci di angka delapan gol. Kegagalan Messi mencetak gol di laga krusial tersebut secara otomatis menahbiskan Mbappe sebagai penguasa tunggal daftar pencetak gol terbanyak.
Pencapaian ini mengukir tinta emas baru dalam buku sejarah sepak bola dunia. Mbappe menjadi pemain pertama yang sukses menyabet gelar top skor dalam dua edisi Piala Dunia secara beruntun, sebuah rekor yang tak pernah tersentuh sejak turnamen ini bergulir pada 1930. Torehan 10 gol dalam satu edisi juga menjadikannya pewaris takhta rekor legendaris Gerd Muller dari Jerman Barat pada 1970 silam.
Baca juga : Andy Burnham Cuci Piring Kekacauan Pendahulunya
Meski demikian, sang pemain menyikapi rekor luar biasa ini dengan nada kepahitan yang tak bisa disembunyikan. “Saya lebih memilih untuk tidak menjadi pencetak gol terbanyak dan bermain di final,” ujar Mbappe memendam kekecewaan mendalam atas kegagalan timnya.
Sisa kekecewaan sang megabintang sejatinya sangat beralasan karena torehan golnya terasa hampa tanpa trofi kejuaraan. Ia sempat menuturkan bahwa pencapaian luar biasa ini mungkin akan sangat berarti bagi warisan kariernya di masa depan setelah ia gantung sepatu, namun untuk saat ini, kebanggaan personal semacam itu sama sekali tidak ada di dalam benaknya.
Padahal, dua gol penutup yang ia lesakkan ke gawang Inggris dalam laga perebutan tempat ketiga, dimana Prancis takluk 4-6 telah mengantarkannya memecahkan rekor gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia. Dengan total 22 gol dari tiga edisi turnamen, Mbappe resmi melewati rekor 21 gol milik Lionel Messi.
Kematangan Mbappe di atas lapangan hijau tidak luput dari pandangan pelatih Prancis yang akan segera purnatugas, Didier Deschamps. Sang juru taktik yang telah mendampingi jatuh bangun perjalanan karier Mbappe di tiga edisi Piala Dunia itu memberikan sanjungan tertinggi bagi pilar utamanya. “Ia pemain yang luar biasa. Ia adalah kapten yang brilian,” puji Deschamps.
Baca juga : Cinta Laura, Ingin Bayarin Kuliah Aspri
Di sepanjang turnamen, insting membunuh Mbappe memang didukung penuh kebebasan taktis yang diberikan sang pelatih, serta koneksi mematikannya dengan Michael Olise yang menyumbangkan lima assist akurat berharga.
Ketajamannya di turnamen internasional juga berbanding lurus dengan performa brutalnya di level klub bersama Real Madrid sepanjang musim 2025/2026. Ia sukses menyabet penghargaan Pichichi sebagai pencetak gol terbanyak La Liga dengan torehan 25 gol dari 31 penampilan, mengungguli penyerang Mallorca, Vedat Muriqi. Lebih dari itu, Mbappe juga menobatkan diri sebagai top skor Liga Champions musim ini berkat lesakan 15 gol dalam 11 pertandingan.
Rentetan angka ini menjadi bukti sahih bahwa secara individu, kualitas mesin gol asal Prancis tersebut berada di level yang nyaris tanpa cela.
Keberhasilan mempertahankan trofi Pichichi dalam dua musim berturut-turut di Spanyol memasukkan nama Mbappe ke dalam kelompok elite yang sangat eksklusif. Di abad ke-21, hanya dua alien sepak bola bernama Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang mampu meraih penghargaan tersebut secara beruntun.
Baca juga : Banyak Kepala Daerah Kena OTT, KPK: Ongkos Politik Mahal
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, pemain terakhir selain dua ikon tersebut yang mampu mencatatkan rekor serupa adalah legenda Real Madrid, Hugo Sanchez, pada kurun waktu 1984 hingga 1988. Sebuah pencapaian langka yang semakin mengukuhkan status Mbappe sebagai salah satu penyerang paling menakutkan dalam sejarah sepak bola modern. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.