RM.id Rakyat Merdeka - Sirkuit Silverstone menjadi momok bagi Marquez bersaudara akhir pekan lalu. Alih-alih bisa mendulang poin besar untuk merebut posisi puncak klasemen, sang kakak, Marc harus mengibarkan bendera putih lebih awal.
Ironi serupa menimpa sang adik, Alex yang harus menelan kenyataan pahit gagal menjejakkan kaki di podium akibat kesalahan elementer yang menyesakkan dada. Keduanya pun gigit jari pada seri balapan MotoGP Inggris yang penuh drama.
Harapan untuk menandingi ketangguhan motor-motor Aprilia pada balapan kali ini juga pupus. Marc yang membela panji Gresini Racing harus puas mengakhiri balapan di posisi ketujuh, sebuah hasil yang membuatnya semakin tertinggal dalam perburuan gelar.
Pencapaian ini sekaligus memperlebar jaraknya dengan pemuncak klasemen sementara, Jorge Martin, menjadi selisih 40 poin.
Baca juga : Pendemo Vs Polisi Saling Lempar Batu Dan Adu Jotos
Sementara Alex –yang sejatinya memiliki peluang emas untuk finis di posisi kedua atau ketiga– harus puas berada di urutan keempat setelah kehilangan kendali pada momen krusial.
Marc menyadari betul batasan tunggangannya di lintasan kali ini. Ia mengakui bahwa motor dan ban sebenarnya bekerja dengan baik, namun ada celah kecepatan yang sulit untuk diatasi secara teknis.
“Tahun lalu ketika saya ada dalam kondisi terbaik, Alex juga lebih cepat dibandingkan saya di sirkuit ini,” ujar Marc, Minggu (9/8/2026).
Pemegang delapan gelar juara dunia ini menegaskan bahwa dari sudut pandang paling optimistis sekalipun, target utamanya hanyalah menembus lima besar, mengingat ia tak mampu mengejar ritme Fabio Di Giannantonio maupun Alex yang sama-sama memacu motor Ducati.
Baca juga : Destry Jadi Calon Tunggal Gubernur BI
Kegagalan mendulang posisi apik ini sepenuhnya dipikul Marc sebagai kesalahan pribadi. Ia merasa tidak mampu memaksimalkan potensi motor layaknya yang dilakukan Alex, meski keduanya memacu kuda besi dengan spesifikasi pabrikan yang sama.
Selain masalah pencarian ritme balap, faktor kebugaran fisik yang harus dijaga ekstra ketat selama mengaspal di lintasan juga menjadi salah satu tantangan berat yang membuatnya urung tampil menekan hingga akhir putaran balapan di Inggris.
Nasib yang tak kalah ironis dialami Alex Marquez. Pembalap asal Spanyol ini melakoni balapan yang terbilang sangat solid dengan memulai dari urutan ketujuh dan merangsek maju hingga sukses mendahului Marco Bezzecchi di pertengahan balapan.
Namun, petaka datang tepat di Tikungan 1 saat ia kehilangan daya cengkeram ban belakang akibat perhitungan pengereman yang meleset. “Sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dimaafkan dari sisi saya,” kata Alex.
Baca juga : Mensesneg: Everything Is Okay
Manuver yang dinilainya terlalu optimistis itu seketika membuang peluang mengamankan posisi kedua yang sudah ada di depan mata. Saat berusaha menyalip, ia melakukan pengereman agak terlambat dengan mengandalkan rem depan, yang berujung pada hilangnya traksi roda belakang secara tiba-tiba. Insiden tersebut menjadi titik mula dimana ia merasakan penurunan performa ban yang signifikan, memaksanya untuk membalap dengan lebih hati-hati di sisa putaran.
Pada akhirnya, Alex harus mengakui kecerdikan strategi Marco Bezzecchi yang terbukti mampu mengelola keausan ban belakang untuk dimaksimalkan pada dua putaran terakhir.
Walaupun sempat berusaha bangkit, menenangkan diri, dan mencatatkan waktu lebih cepat dari Pedro Acosta, efek aerodinamika dari sayap besar motor-motor di sekitarnya membuat laju Ducati yang ditungganginya menjadi tidak stabil.
Penurunan daya cengkeram yang drastis menjelang garis finis menuntaskan penderitaan Marquez bersaudara di daratan Inggris, meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi mereka untuk seri balapan selanjutnya. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.