RM.id Rakyat Merdeka - Ambisi Marc Marquez merebut gelar juara dunia MotoGP untuk kali kesembilan kembali menemukan momentum. Dua kemenangan di Aragon membuat pembalap Ducati Lenovo itu memangkas jarak dengan Jorge Martin menjadi 19 poin.
Namun, di tengah kebangkitan tersebut, Marquez masih menyimpan kekhawatiran terhadap satu seri: MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika.
Marquez tampil sempurna di Aragon. Ia menyapu bersih Sprint Race dan balapan utama, sekaligus mengoleksi kemenangan keempatnya musim ini. Hasil itu menjadi tambahan tenaga dalam perburuan gelar yang sebelumnya sempat menjauh setelah akhir pekan buruk di Silverstone.
Di Silverstone, Marquez hanya finis kesembilan pada Sprint Race dan ketujuh dalam balapan utama. Akibatnya, jaraknya dengan Martin sempat melebar menjadi 40 poin.
Kini situasinya berubah. Hasil maksimal di Aragon membuat Marquez kembali menempel Martin. Dengan beberapa seri masih tersisa, peluang untuk membalikkan keadaan tetap terbuka.
Baca juga : Rekor, IFF 2026 Sedot Pengunjung Dari 43 Negara
Namun, perjalanan menuju gelar kesembilan itu tidak sepenuhnya mudah. Mandalika menjadi salah satu ganjalan terbesar karena rekam jejak Marquez di Indonesia nyaris selalu berakhir mengecewakan.
Pada 2022, Marquez bahkan tidak sempat mengikuti balapan utama. Ia mengalami kecelakaan hebat dalam sesi pemanasan yang menyebabkan gegar otak. Setahun kemudian, ia kembali gagal finis setelah mengalami kecelakaan.
Masalah teknis kemudian menghentikan langkahnya pada 2024. Marquez kembali tidak mampu menyelesaikan balapan utama. Sementara pada MotoGP Indonesia 2025, ia tersingkir setelah terlibat insiden dengan Marco Bezzecchi. Kecelakaan itu menyebabkan cedera patah tulang bahu yang hingga kini masih memberikan dampak.
Empat musim, empat cerita buruk. Catatan tersebut membuat Mandalika menjadi seri yang paling diwaspadai Marquez pada sisa musim 2026.
“Berkaca dari pengalaman, Indonesia adalah yang terburuk bagi saya, karena setiap tahun saya memiliki kenangan buruk di sana,” ujar Marquez seperti dikutip dari Crush, kemarin.
Baca juga : Hadiri Peresmian Gedung Pusat Kebudayaan Tionghoa Di Bandung
Kondisi bahu kanan yang belum sepenuhnya pulih membuat tantangan tersebut semakin berat. Marquez harus pintar mengelola kondisi fisiknya sembari memaksimalkan poin di sirkuit yang sesuai dengan karakter Ducati.
Bagi Marquez, kehilangan poin di trek yang menjadi kekuatannya bisa menjadi kemunduran besar dalam persaingan dengan Martin. Karena itu, ia memilih pendekatan sederhana: menjalani setiap balapan satu per satu.
“Jika kami ingin memiliki setidaknya sedikit peluang untuk bersaing memperebutkan gelar juara, kami tidak boleh kehilangan poin di sirkuit yang menguntungkan bagi kami,” katanya.
Marquez juga menyadari persaingan tidak hanya datang dari Martin. Marco Bezzecchi diprediksi bakal menjadi salah satu pembalap yang mampu mengganggu perburuan gelar pada seri-seri tersisa.
“Saya yakin Martin dan Marco akan tampil sangat cepat di sisa musim ini,” kata Marquez.
Baca juga : Prabowo: Menkeu Tolak Utang IMF
Setelah Aragon, Marquez kini mengalihkan perhatian ke Misano. Namun, Mandalika tetap menjadi ujian yang berbeda. Bukan hanya karena pentingnya poin dalam klasemen, tetapi juga karena sejarah buruk yang terus membayangi setiap kali ia datang ke Indonesia.
Jika kali ini Marquez mampu memutus kutukan tersebut, bukan tidak mungkin Mandalika justru menjadi titik penting dalam perjalanan menuju gelar dunia kesembilan. [DNU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.