Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Mengupas Dampak Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi
Badiul Hadi: Berpotensi Mendorong Kenaikan Angka Inflasi
Sabtu, 13 Juni 2026 07:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pertamina melakukan penyesuaian harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green. Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp 16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 (RON 95) menjadi Rp 17.000 per liter.
Penyesuaian harga tersebut dilakukan setelah melalui koordinasi dengan Pemerintah sebagai regulator dan mengacu pada mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar yang berlaku.
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan, penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green telah dilakukan sesuai formula harga yang ditetapkan Pemerintah.
Baca juga : Firman Soebagyo: Kenaikan Pertamax Cs Tak Bebani Rakyat Kecil
"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan Pemerintah," ujar Roberth dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2026).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan, untuk harga BBM subsidi, yakni Pertalite dan Solar, tidak akan mengalami kenaikan, meskipun harga Pertamax telah disesuaikan.
Menurut Bahlil, keputusan untuk mempertahankan harga BBM subsidi merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. "Untuk BBM subsidi dan LPG subsidi tidak ada kenaikan. Itu perintah Bapak Presiden. Tidak ada kenaikan," tegas Bahlil, saat menghadiri Musyawarah Nasional HIPMI, di Lampung, Rabu (10/6/2026).
Baca juga : DPR Akan Perkuat Kelembagaan Pangan
Penyesuaian harga Pertamax ini memunculkan beragam respons di tengah masyarakat. Sebagian pihak menilai kenaikan tersebut membebani masyarakat dan berpotensi menekan daya beli. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa penyesuaian harga masih berada pada tingkat yang wajar mengingat lonjakan harga minyak dunia.
Anggota Fraksi Golkar DPR Firman Soebagyo menilai, kenaikan harga Pertamax masih dapat dimaklumi jika dibandingkan dengan peningkatan harga minyak dunia akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Ia juga berpandangan bahwa dampaknya terhadap masyarakat tidak akan terlalu besar karena Pertamax pada umumnya digunakan oleh kelompok masyarakat menengah ke atas.
Sebaliknya, Manajer Riset Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA) Badiul Hadi memperkirakan, kenaikan harga Pertamax memberikan tekanan terhadap perekonomian masyarakat dan berpotensi menurunkan daya beli.
Baca juga : Revitalisasi 71 Ribu Sekolah Bakal Serap 1,1 Juta Pekerja
Untuk mengetahui lebih jauh pandangan Badiul Hadi terkait penyesuaian harga Pertamax tersebut, berikut hasil wawancaranya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya