Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kemendikdasmen Batasi Penggunaan Gawai Di Sekolah, Apakah Efektif?
Mansur: Harusnya Bukan Sekadar Imbauan, Tapi Larangan
Sabtu, 1 Agustus 2026 07:15 WIB
Sebelumnya
Apa tanggapan Anda terhadap langkah Kemendikdasmen terkait pembatasan penggunaan gawai untuk meningkatkan ruang interaksi di sekolah?
Secara umum, kebijakan ini sangat positif. Bahkan, di tempat saya sudah diterapkan sejak dua tahun lalu. Kami melihat dampak dari kebebasan membawa HP yang semula digunakan untuk pembelajaran ternyata lebih banyak menimbulkan dampak negatif.
Dampak negatifnya seperti apa?
Banyak hal yang sebenarnya tidak bisa dikendalikan melalui HP. Terutama seperti yang disampaikan Kementerian. Di dalam kelas saja, saat anak bermain HP, guru kesulitan mengendalikan. Apalagi saat jam istirahat, mereka justru sibuk dengan HP masing-masing. Akibatnya, sekolah sebagai ruang interaksi antarsiswa saat istirahat tidak berfungsi secara optimal. Karena itulah, sejak dua tahun lalu kami sudah menyuarakan larangan membawa HP ke sekolah.
Baca juga : Kurniasih Mufidayati: Ini Bagian Dari Ikhtiar Yang Perlu Didukung
Apakah larangan membawa gawai ini efektif?
Sangat efektif untuk mengurangi aktivitas yang tidak kami inginkan. Sementara itu, edaran Kementerian yang baru justru kami nilai masih setengah hati.
Maksudnya bagaimana?
Karena yang diatur adalah siswa boleh membawa HP, tetapi dikontrol oleh guru. Pola seperti ini sudah pernah kami terapkan pada awal pelaksanaan. Namun, ternyata sangat menyulitkan. Sekolah harus menyiapkan tempat penyimpanan HP, sementara pengelolaannya menjadi tugas tambahan bagi guru maupun pegawai. Penyimpanan HP juga tidak bisa dilakukan sembarangan karena membutuhkan tempat yang memadai, keamanan, dan pengelolaan yang baik.
Baca juga : DPR Ingatkan Modus Baru, Pelaku Ubah Pola Transaksi
Bagaimana jika ada tugas yang membutuhkan gawai?
Lebih baik dibuat aturan larangan membawa HP ke sekolah. Namun, apabila guru membutuhkan penggunaan HP untuk pembelajaran, siswa dapat diminta membawanya pada hari tertentu. Dengan begitu, penggunaannya lebih mudah dikendalikan.
Dengan penerapan larangan membawa gawai, apakah interaksi antarsiswa menjadi lebih baik?
Kami sangat merasakan manfaatnya. Karena tidak memegang HP, mereka lebih banyak mengobrol dan beraktivitas bersama. Bahkan, bukan hanya interaksi yang meningkat, tetapi guru juga lebih mudah mengendalikan proses pembelajaran. Kami tetap memberikan materi literasi melalui HP, tetapi ketika penggunaannya diatur, sikap siswa juga berbeda.
Baca juga : Zulhas: Indonesia Tidak Perlu Lagi Impor Garam
Apa perbedaannya?
Misalnya, ketika kami mengirimkan materi literasi ke grup WA, keesokan paginya mereka harus menceritakan kembali isi materi tersebut. Dahulu, karena mereka membawa HP ke sekolah, sering kali mereka tidak membaca materi di rumah, tetapi baru membacanya di sekolah. Walaupun terlihat positif, kebiasaan itu kurang baik dalam membangun budaya literasi. Dengan adanya larangan membawa HP ke sekolah, siswa terdorong membaca materi di rumah dan memahaminya terlebih dahulu. NNM
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Sabtu, 1 Agustus 2026 dengan judul "Kemendikdasmen Batasi Penggunaan Gawai Di Sekolah, Apakah Efektif? Mansur: Harusnya Bukan Sekadar Imbauan, Tapi Larangan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya