Dark/Light Mode

UEFA Boikot FIFA

Sabtu, 1 Agustus 2026 06:50 WIB
Presiden UEFA Aleksander Ceferin dan Presiden FIFA Gianni Infantino. (Foto: AI/Chatgpt)
Presiden UEFA Aleksander Ceferin dan Presiden FIFA Gianni Infantino. (Foto: AI/Chatgpt)

RM.id  Rakyat Merdeka - Begitu investor asing masuk, keuntungan komersial akan menjadi kewajiban utama sepakbola. Sejumlah turnamen FIFA dalam waktu dekat terancam kehilangan peserta dari Eropa.

UEFA (Uni Asosiasi Sepakbola Eropa) secara resmi mengumumkan bahwa seluruh tim nasional anggotanya tidak akan berpartisipasi dalam turnamen FIFA (Federasi Sepakbola Internasional) jika rencana penjualan hak komersial Piala Dunia ke investor tetap dilanjutkan. 

Keputusan tegas ini diambil setelah pertemuan 55 federasi anggota UEFA. “Tidak ada satu pun tim nasional UEFA yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA selama proposal ini masih berlaku,” tulis UEFA dalam pernyataan resmi. 

UEFA menilai rencana FIFA menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada pihak swasta telah melewati batas. 

Baca juga : Gerindra Dukung BMKG, Perkuat Koordinasi Dan Mitigasi El Nino

“Ada hal-hal yang terlalu penting untuk dijual. Piala Dunia adalah milik sepakbola. Selamanya akan seperti itu,” tegas UEFA, yang dipimpin oleh Aleksander Ceferin

Konflik ini bermula dari rencana FIFA yang dipimpin Gianni Infantino untuk membuka peluang investasi swasta. 

Skema tersebut dikabarkan mencakup penjualan 20 hingga 30 persen saham dari perusahaan baru yang akan mengelola kompetisi utama FIFA. 

Valuasi perusahaan itu disebut-sebut mencapai 20 miliar dolar AS (Rp 326 triliun). Dana segar dari investor ditargetkan bisa mendorong distribusi lebih dari 10 miliar dolar AS (Rp 163 triliun) ke 211 asosiasi anggota dalam empat tahun ke depan. 

Baca juga : Tak Sekadar Pilih Ketua Baru, Musda Golkar Sumsel Awal Pemenangan Partai

Namun UEFA melihat langkah tersebut sebagai ancaman serius. “Begitu investor eksternal masuk, sepakbola akan berubah selamanya. Keuntungan komersial akan menjadi kewajiban utama,” bunyi pernyataan UEFA.

UEFA juga menilai kebijakan ini berpotensi menggeser prioritas olahraga. Keputusan terkait kalender pertandingan dan format turnamen dikhawatirkan akan lebih berpihak pada kepentingan investor. 

Tak hanya itu, UEFA menuding FIFA mengambil keputusan tanpa transparansi. 

“Ini bukan keputusan demokratis, melainkan bentuk tekanan yang tidak pantas bagi lembaga pengelola sepakbola dunia,” tulis UEFA dengan nada keras. 

Baca juga : Kebut Program 3 Juta Rumah, Himbara Gelar Akad Massal 62.710 Debitur

Jika boikot benar-benar terjadi, dampaknya akan sangat besar. Sejumlah turnamen FIFA dalam waktu dekat terancam kehilangan peserta dari Eropa. Di sisi lain, Infantino membela rencana tersebut. 

“Sepakbola adalah olahraga paling populer di dunia dan mesin luar biasa untuk pembangunan sosial,” dalih Infantino. [GO]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.