Dark/Light Mode

Gaza Bikin ‘Ruang Aman’ Di Tengah Gempuran Israel

Ibu-ibu Curhat Dan Pulihkan Trauma Di Bawah Tenda

Sabtu, 1 Agustus 2026 06:30 WIB
Koordinator Ruang Aman, Alaa Daoud (tengah), memimpin jalannya pertemuan para perempuan yang menghadapi kesulitan akibat perang di Kamp Al-Amal, Gaza Tengah, Rabu (29/7/2026). Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera.
Koordinator Ruang Aman, Alaa Daoud (tengah), memimpin jalannya pertemuan para perempuan yang menghadapi kesulitan akibat perang di Kamp Al-Amal, Gaza Tengah, Rabu (29/7/2026). Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera.

RM.id  Rakyat Merdeka - Perang telah merenggut suami, anak, rumah, bahkan harapan ribuan perempuan di Jalur Gaza. Namun, di balik deru drone dan ledakan bom, berdiri sebuah tenda sederhana yang menjadi “ruang aman” bagi mereka untuk meluapkan duka, memulihkan trauma, dan menemukan kembali alasan untuk bertahan hidup.

Tenda itu cukup besar. Bisa menampung sekitar 70-75 perempuan setiap hari untuk mengikuti sesi dukungan psikologis dan saling berbagi pengalaman. Ruang aman itu berdiri di Kompleks Sekolah Al-Farah, Kamp Al-Amal, Deir el-Balah, Gaza Tengah.

Ola Saleh (39) adalah salah seorang yang memanfaatkan tenda yang diinisiasi Collective Development Projects. Tempat ini hadir untuk menawarkan dukungan psikologis, diskusi kelompok, hingga panduan praktis mengatasi tekanan perang yang seolah tiada henti di Jalur Gaza.

Setiap pukul 9 pagi, Ola Saleh meninggalkan tenda pengungsiannya usai mengurusi lima buah hatinya. Dia hanya perlu berjalan kaki 5 menit menuju ruang aman itu.

Di sana, dia bisa sejenak menanggalkan beban berat sebagai seorang ibu, pengungsi, sekaligus penyintas duka. Baginya, ruang ini memberinya kesempatan berharga. Dia dapat berbicara dengan sesama perempuan yang memahami kepedihannya tanpa perlu penjelasan panjang lebar.

“Dia (suami) telah meninggal,” kenang Ola Saleh, mengutip Al Jazeera, Rabu (29/7/2026).

Air mata menetes di pipinya saat mengingat almarhum suaminya, Abdul Jalil Saleh (43). Suaminya tewas pada Agustus 2025 saat keluar rumah untuk membeli kebutuhan rumah tangga.

Baca juga : DPRD Restui Pemprov DKI Terbitkan Obligasi Rp 3,5 T

“Sampai hari ini saya tidak pernah tahu, apakah dia tertembak penembak jitu atau serangan quadcopter (drone penembak),” tutur perempuan 39 tahun itu.

Kehilangan suami menjadikan Ola Saleh satu-satunya penopang keluarga. Kini, di tengah keterbatasan Deir el-Balah, dia harus membesarkan lima anaknya sendirian, yang berusia antara 5 tahun hingga 17 tahun.

“Setiap hari terasa lebih berat dari hari sebelumnya. Tanggung jawab saya terus bertambah, dan rasa kehilangan itu semakin menekan,” curhatnya.

Setelah meluapkan emosinya, Ola Saleh pulang membawa secercah harapan dan energi positif. Meski ruang aman ini tidak serta-merta menghapus penderitaannya. Tetapi, membuat hatinya lebih ringan.

“Tempat ini mengingatkan bahwa diri kita juga berharga. Bahwa kita masih ada,” ujarnya.

Kisah Ola Saleh hanyalah satu dari ribuan cerita serupa. Data Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Perempuan (UN Women) mencatat, sekitar 16.000 perempuan di Gaza kehilangan suami sejak perang pecah pada Oktober 2023. Artinya, sekitar satu dari tujuh keluarga di Gaza kini dipimpin seorang perempuan.

Tanpa listrik, sanitasi yang memadai, dan sirkulasi udara di dalam tenda, waktu untuk berduka menjadi barang mewah. Hari-hari mereka dihabiskan demi bertahan hidup. Mencari air bersih dan sesuap makanan.

Baca juga : Shenina Cinnamon, Tangis Bahagia Peluk Buah Hati

Ruang aman ini juga menjadi ajang saling menguatkan antargenerasi. Suad Al-Gharabali (63) adalah salah satu peserta tertua. Wajahnya yang bergaris tegas merekam jejak puluhan tahun kerja keras sebagai penjahit dan pedagang demi menyekolahkan delapan anaknya.

Sama seperti yang lain, rumah Suad Al-Gharabali di kawasan Shujaiya, Kota Gaza, telah hancur. Perang juga telah merenggut dua putranya yang berusia 24 tahun dan 35 tahun dalam serangan udara terpisah. Padahal, keduanya tengah bersiap menuju pelaminan.

Suad Al-Gharabali masih sering terisak jika mengingat buah hatinya. Pada akhirnya, dia memilih membagikan pengalaman hidupnya kepada ibu-ibu muda di pengungsian. Pertemuan harian tersebut memberinya alasan baru untuk keluar dari isolasi duka di dalam tenda.

“Saya senang dengan pertemuan ini karena memberikan kesadaran, setiap ibu perlu memberi perhatian ekstra pada anak-anak mereka. Generasi muda saat ini menghadapi masalah yang sangat berat,” tuturnya.

Koordinator Lapangan Ruang Aman Perempuan Alaa Daoud menjelaskan, tenda ini dibuat agar para perempuan memiliki wadah bebas untuk mengekspresikan diri. Inisiatif ini dirancang agar perempuan di Gaza mendapatkan bantuan psikologis.

“Setiap perempuan datang membawa pengalamannya masing-masing. Apa yang telah mereka lalui dan apa yang ingin mereka ubah,” ujar Daoud.

Antusiasme warga pengungsian pun melonjak cepat. Mulai dari 60 peserta di hari pertama, jumlahnya terus bertambah hingga mencapai lebih dari 75 perempuan setiap harinya.

Baca juga : Tembus Semifinal Taipei Open, Rehan/Gloria Jaga Asa Merah Putih...

Selain konseling emosional, sesi ini juga membekali mereka dengan pemahaman mendasar terkait tekanan ekonomi, kesehatan mental, hingga pola pengasuhan anak di situasi darurat.

Kehadiran ruang aman ini telah diperluas ke berbagai titik pengungsian di Gaza Tengah hingga utara. Tenda ini bukan sekadar tempat curhat. Bagi Daoud dan timnya, ini bentuk pengakuan atas beban terberat yang dipikul perempuan Gaza sepanjang perang.

“Perempuan adalah kelompok yang punya tanggung jawab terbesar. Ketika kita mengingatkan betapa pentingnya peran mereka, para perempuan merasa kerja keras dan penderitaan mereka akhirnya diakui,” pungkasnya. LDU

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Sabtu, 1 Agustus 2026 dengan judul "Gaza Bikin ‘Ruang Aman’ Di Tengah Gempuran Israel, Ibu-ibu Curhat Dan Pulihkan Trauma Di Bawah Tenda"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.