Dark/Light Mode

Hasil Survei KPK, Hampir 91% Mahasiswa Pakai Jasa Joki Skripsi, Kok Bisa?

Abdul Fikri Faqih: Hasil Ini Menunjukkan Kampus Sedang “Sakit”

Jumat, 9 Oktober 2026 07:10 WIB
Abdul Fikri Faqih, Anggota Komisi X DPR. Foto: Istimewa
Abdul Fikri Faqih, Anggota Komisi X DPR. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2026 yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) cukup mengejutkan. Hasilnya, hampir 91 persen mahasiswa mengerjakan tugas akhir atau skripsi melalui praktik joki. Peristiwa ini pun menjadi perhatian Komisi X DPR dan pemerhati pendidikan.

“Masih ada temuan terkait mahasiswa yang membayar pihak lain untuk mengerjakan tugas akhir atau skripsi. Ini seperti joki tugas,” kata Plh. Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK Dian Novianthi dalam peluncuran Indeks Integritas Pendidikan Tahun 2026 di Gedung Juang, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Selain itu, SPI Pendidikan 2026 juga menemukan masalah integritas lain di perguruan tinggi. Di antaranya, 50 persen responden melaporkan masih terjadi praktik menyontek saat ujian di 94 persen satuan pendidikan tinggi yang disurvei.

Sebelumnya, SPI Pendidikan 2026 tercatat berada di angka 73,30 atau masuk kategori adaptif. Adapun angka tersebut meningkat dibandingkan skor tahun 2024 yang berada di angka 69,5 dan menandakan kondisi rentan korupsi.

“Kita bersyukur ya, skornya sudah cukup tinggi. Posisinya adalah adaptif, 73 poin sekian dibandingkan dua tahun sebelumnya 69,5 ya,” kata Ketua KPK Setyo Budiyanto dalam acara yang sama.

Baca juga : DPR Puji Transformasi Dan Kinerja PT Telkom

Setyo mengatakan, meski SPI Pendidikan meningkat dari tahun 2024, masih terdapat beberapa daerah dengan nilai SPI yang masuk kategori korektif sehingga dibutuhkan perbaikan.

“Saya berharap semua pihak tidak alergi manakala kemudian ada daerah tertentu yang dianggap masih kurang. Itu kesempatan untuk kita perbaiki,” ujar dia.

Adapun SPI Pendidikan 2026 ini melibatkan 42.810 responden yang terdiri dari peserta didik, murid, dan mahasiswa.

Untuk tingkat SD, survei melibatkan siswa kelas 4 dan 5 atau mereka yang dianggap sudah mampu membaca dan menyimak pertanyaan.

Kemudian, SMP dan sederajat melibatkan kelas 7 dan 8, sementara SMA kelas 10 dan 11. Untuk mahasiswa, survei melibatkan mahasiswa semester 3 sampai 8.

Baca juga : Beban Jemaah Berkurang Ongkos Haji Makin Ringan

Selain itu, survei juga melibatkan orang tua khusus untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Kemudian, tenaga pendidik berasal dari satuan pendidikan yang terpilih. Serta responden lain, yakni kepala sekolah dan pimpinan perguruan tinggi.

Metode pengumpulan data menggunakan tiga cara. Pertama, secara online dengan pengisian melalui tautan kuesioner yang dikirimkan melalui WhatsApp blast dan email blast.

Kedua, CAWI (Computer Assisted Web Interviewing), yakni pengisian data berbasis situs web bagi satuan pendidikan yang memiliki keterbatasan, seperti tidak memiliki ponsel, keterbatasan privasi data, atau merupakan sekolah berasrama.

Ketiga, CAPI (Computer Assisted Personal Interviewing), yakni pengisian data secara mandiri berbasis aplikasi yang difasilitasi oleh tim survei secara langsung di lapangan bagi satuan pendidikan yang memiliki keterbatasan akses internet.

Baca juga : Desa Bukan lagi Objek, Tapi Penentu Arah Pembangunan

Selain itu, sebanyak 42.810 satuan pendidikan terlibat sebagai responden, yang terdiri dari 41.720 sekolah dasar dan menengah serta 1.090 perguruan tinggi.

Hasil survei mengenai joki skripsi pun menjadi perbincangan. Misalnya, Anggota Komisi X DPR Abdul Fikri Faqih. Menurut dia, hasil survei tersebut menunjukkan adanya darurat integritas akademik. “Ini memalukan sekaligus menampar wajah pendidikan tinggi kita,” ucap Fikri Faqih kepada Rakyat Merdeka, Kamis (8/10/2026).

Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Feriyansyah mengatakan, fenomena joki skripsi terjadi karena turunnya etika akademik. Selain itu, terdapat masalah pada integritas mahasiswa maupun pihak yang memberikan jasa pembuatan tugas.

“Kita mengalami satu krisis nilai pendidikan tinggi terkait dengan integritas akademik,” ungkap Feriyansyah kepada Rakyat Merdeka, Jumat (8/10/2026).

Untuk mengetahui pandangan Abdul Fikri Faqih mengenai praktik joki skripsi di perguruan tinggi, berikut wawancaranya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.