Dark/Light Mode

Mahasiswa Kunkerta UNRI Perkenalkan Eco-Enzyme ke Warga Desa Pekan Tua

Minggu, 8 September 2024 22:53 WIB
Mahasiswa Kunkerta UNRI bersama warga Desa Pekan Tua melakukan praktik pembuatan eco-enzyme (Foto: Dok. Pribadi)
Mahasiswa Kunkerta UNRI bersama warga Desa Pekan Tua melakukan praktik pembuatan eco-enzyme (Foto: Dok. Pribadi)

Desa Pekan Tua, Kecamatan Kempas, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, memiliki daerah dataran rendah dan dialiri Sungai Indragiri. Mata pencaharian sebagian besar penduduk desa ini adalah perikanan, pertanian, dan perkebunan. Salah satu usaha yang dapat dikembangkan yaitu dalam bidang pertanian dan perkebunan dengan membuat eco-enzyme yaitu pupuk untuk tanaman. 

Eco-enzyme merupakan larutan fermentasi yang memiliki warna coklat gelap serta bearoma asam kuat. Eco-enzyme adalah hasil penelitian yang ditemukan seorang doktor dari Thailand, Dr. Rosukon Poompanvong, yang memiliki tujuan untuk membantu para petani menghasilkan panen yang lebih baik dan ramah lingkungan. Bahan yang digunakan pada eco-enzyme hanya air dan gula merah sebagai substrat serta sampah organik atau limbah dapur sebagai bahan bakunya. Eco-enzyme akan menghasilkan pupuk organik cair yang ramah lingkungan serta dapat mempercepat pertumbuhan sayuran.

Melalui program kerjanya, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kunkerta) Universitas Riau (UNRI) yang ditugaskan di Desa Pekan Tua memperkenalkan serta mempraktikkan pembuatan eco-enzyme. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, alat dan bahan yang digunakan adalah wadah, air, gula merah, limbah dapur (kulit buah dan sisa sayur), plastik, karet dan timbangan serta pemateri dari pelaksana Kukerta UNRI 2024. 

Baca juga : 135 Mahasiswa ITPLN Teken Ikatan Kerja Dengan PLN

Eco-enzyme dapat menggunakan limbah dapur berupa buah dan sayur kecuali buah atau sayur yang telah dimasak. Buah atau sayur yang digunakan masih segar. Artinya, yang sudah busuk, berulat maupun berjamur, tidak dapat digunakan untuk membuat eco-enzyme. 

Bahan lain pada pembuatan eco-enzyme adalah gula ataupun molase. Gula yang dipilih yang memiliki kualitas dan jumlah yang sama. Contoh jenis gula yang dapat digunakan seperti gula cair, gula kering, gula aren, gula kelapa, dan gula lontar. Jenis gula yang tidak boleh digunakan adalah gula pasir karena kimiawi. 

Baca juga : Megawati Minta Bahlil Kenalkan Dirinya Kepada Raja Jawa

Bahan lain yang digunakan adalah air. Air yang boleh dipakai dalam pembuatan larutan eco enzyme adalah air sumur, air hujan, air pembuangan AC, air isi ulang, air PAM, dan air galon. Air yang baik umtuk eco-enzyme adalah dengan cara didiamkan selama 24 jam agar kandungan yang terdapat di dalam air dapat mengendap atau terpisahkan. 

Program ini bertujuan sebagai pupuk organik cair dan berpengaruh dalam mempercepat pertumbuhan untuk berbagai macam sayuran dan pertanian lainnya. 

Baca juga : Rayakan HUT Ke-79 RI, PDI Perjuangan Gelar Lari Maraton Soekarno Run

Program pengabdian ini dinyatakan berhasil karena dapat memanfaatkan limbah organik sebagai pupuk, membatasi logam berat dalam tanah, mengurangi atau menambah pH keasaman tanah, dapat mengatasi bakteri, mikroba, serta virus, mempercepat pertumbuhan tanaman, dan ramah lingkungan. Masyarakat mendapatkan pupuk yang memeiliki harga yang jauh lebih murah daripada pupuk organik cair di pasaran. Hal ini sejalan dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk. 

Desti Fitria Amanda
Desti Fitria Amanda
Mahasiswa Kunkerta UNRI

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.