Dark/Light Mode

Peningkatan Kualitas Air dengan Teknologi Bioremediasi Berbasis Mikroorganisme

Senin, 16 Desember 2024 21:51 WIB
Bioremediasi laut. (Foto: agroindustrie.id)
Bioremediasi laut. (Foto: agroindustrie.id)

Air bersih adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi untuk menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup. Namun, permasalahan kualitas air di Indonesia menjadi tantangan besar, terutama di kawasan industri dan perkotaan. Dalam upaya mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 6 tentang Clean Water and Sanitation, teknologi bioremediasi berbasis mikroorganisme hadir sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan kualitas air secara berkelanjutan.

Tantangan Kualitas Air di Indonesia

Menurut laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 80 persen sumber air permukaan di Indonesia tercemar limbah domestik dan industri. Hal ini berdampak pada kesehatan masyarakat, ekosistem, dan aktivitas ekonomi. Pengelolaan limbah cair yang tidak memadai menyebabkan tingginya kadar logam berat, senyawa organik beracun, serta patogen dalam air.

Teknologi Bioremediasi: Solusi Ramah Lingkungan

Bioremediasi adalah proses pemurnian lingkungan yang memanfaatkan mikroorganisme untuk menguraikan polutan menjadi senyawa yang lebih aman. Teknologi ini menawarkan beberapa keunggulan:

1. Efektivitas Tinggi: Mikroorganisme seperti bakteri, fungi, dan alga mampu mengurai senyawa organik dan logam berat dengan efisiensi tinggi.

Baca juga : Cegah Kepadatan, KCIC Tingkatkan Fasilitas & Pelayanan di Stasiun Padalarang

2. Ramah Lingkungan: Tidak memerlukan bahan kimia berbahaya sehingga aman bagi lingkungan.

3. Biaya Terjangkau: Proses alami ini relatif lebih murah dibandingkan metode fisik atau kimia.

Implementasi Bioremediasi

Sebagai mahasiswa Program Studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, aplikasi teknologi bioremediasi dapat dikembangkan lebih lanjut melalui riset berbasis multidisiplin. Misalnya:

 1. Rekayasa Lingkungan: Mengembangkan reaktor bioremediasi modular yang dapat diterapkan di kawasan industri.

2. Bioteknologi: Optimasi strain mikroorganisme untuk meningkatkan efisiensi degradasi polutan.

Baca juga : Perkuat Kualitas Layanan, Intip Bengkel Canggih Milik Perum Damri

3. Teknologi Informasi: Membangun platform monitoring kualitas air berbasis IoT yang terintegrasi dengan sistem bioremediasi.

Studi Kasus: Penerapan Bioremediasi di Sungai Citarum

Sungai Citarum menjadi lokasi implementasi bioremediasi dengan hasil yang menjanjikan. Dalam program "Citarum Harum," mikroorganisme spesifik digunakan untuk mengurangi polutan organik dan logam berat. Hasilnya, kualitas air di beberapa titik pengukuran mengalami peningkatan signifikan dalam waktu 6 bulan.

Kesimpulan

Teknologi bioremediasi berbasis mikroorganisme adalah langkah strategis dalam mendukung SDGs poin 6. Dengan pengembangan lebih lanjut yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, teknologi ini berpotensi menjadi solusi andalan untuk mengatasi permasalahan air bersih di Indonesia. Sebagai generasi muda, kontribusi kita dalam inovasi dan implementasi teknologi hijau akan menjadi investasi bagi masa depan lingkungan yang lebih baik. 

---

Baca juga : Kerja Politisi Artis Dipantau

Daftar Pustaka

1. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2023). Laporan Kualitas Air di Indonesia.

2. Kumar, M., & Ghosh, P. (2022). Advances in Bioremediation Technologies. Environmental Science Journal.

3. Tim Program Citarum Harum. (2023). Laporan Program Rehabilitasi Sungai Citarum.

Rafka Kumara Aradea
Rafka Kumara Aradea
Mahasiswa Program Studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, Universitas Airlangga

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.