Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Hasil Penelitian FMIPA USU, BPA Tak Terdeteksi pada Air Minum Kemasan Galon
Senin, 10 Februari 2025 20:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kelompok Studi Kimia Organik Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan penelitian independen untuk meneliti luruhan Bisphenol A (BPA) pada empat merek air kemasan galon lokal maupun nasional terpopuler di Kota Medan, Sumatera Utara. Hasilnya menunjukkan, BPA tidak terdeteksi pada semua sampel yang diuji, termasuk pada galon polikarbonat (PC) yang terpapar sinar matahari.
Guru Besar Kimia Organik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA USU) Prof Juliati Tarigan, selaku Ketua Tim Peneliti menegaskan, dalam semua sampel air galon polikarbonat yang diteliti, baik yang terpapar ataupun tidak terpapar sinar matahari, tidak terdeteksi adanya luruhan atau migrasi BPA. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir untuk mengonsumsi air minum kemasan galon, karena terbukti aman untuk dikonsumsi.
“Meskipun galon didistribusikan pada siang hari, migrasi BPA ke dalam air minum tidak akan terjadi apabila suhu tidak mencapai 159 derajat celcius. Sementara itu, suhu tertinggi yang tercatat di Indonesia hanya mencapai 38,5 derajat celcius,” terang Prof Juliati, seperti keterangan yang diterima, Senin (10/2/2025).
Prof Juliati menjelaskan, secara sifat kimiawi, BPA memiliki titik leleh pada suhu 159 derajat celcius. Hal ini menunjukkan bahwa BPA dalam kemasan polikarbonat hanya dapat luruh pada suhu yang sangat tinggi, hingga di atas suhu 159 derajat celcius. Selain itu, BPA memiliki kelarutan yang sangat rendah dalam air. Jadi, kemungkinan larut dari kemasan galon polikarbonat ke dalam air minum yaitu sangat kecil.
Baca juga : Awasi Keamanan Pangan Ekspor
Metode Penelitian dan SamplingProf Juliati memaparkan, sampel dikumpulkan dari empat merek air minum dalam kemasan galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) yang umum dan populer ditemukan di Medan. Keempat sampel tersebut terdiri dari dua merek produk AMDK nasional terpopuler yaitu AQUA dan Prima, serta dua sampel merek lokal yaitu Amoz dan Himudo.
Masing-masing merek diambil tiga sampel dari titik distribusi yang berbeda. Sampel diambil pada tiga kondisi penyimpanan, yaitu kondisi normal atau tidak terpapar matahari langsung, serta kondisi dengan paparan sinar matahari langsung selama 5 dan 10 hari.
“Pengujian kami lakukan secara triplo atau dilakukan dengan menggunakan tiga sampel atau pengujian tiga kali. Sangat penting dilakukan pengujian secara triplo pada sampel pangan agar data pertama dapat dibandingkan dengan data kedua atau ketiga, sehingga hasil akhir yang diperoleh menjadi lebih akurat,” kata Prof Juliati.
Sampel diuji menggunakan alat ukur High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) yang merupakan instrumen yang sangat canggih untuk mendeteksi kandungan BPA dalam air hingga level mikrogram per liter (µg/L).
Tidak Ada Bukti Sebabkan Gangguan Kesehatan
Baca juga : HNW Sebut Kemenangan Gaza Juga Penyelamatan Peradaban Dan Kemanusiaan Global
BPA merupakan zat kimia yang digunakan secara luas dan sering ditemukan di berbagai produk sehari-hari, seperti bahan tambalan gigi, kemasan galon air minum, kertas thermal untuk struk belanja, hingga makanan dan minuman kemasan kaleng.
Dr. dr. Brama Ihsan Sazli, dokter spesialis penyakit dalam dan Konsultan Subspesialis Endokrinologi, Metabolisme, dan Diabetes Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), menjelaskan, sampai saat ini belum ada bukti kuat atau data ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa BPA dapat menyebabkan masalah kesehatan, baik itu kanker, diabetes maupun obesitas.
Pada air minum dengan kemasan galon berbahan polikarbonat, belum ada bukti penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa BPA menyebabkan masalah kesehatan. Terlebih, penelitian tentang potensi bahaya kesehatan yang ditimbulkan BPA masih terbatas dan berbasis uji coba pada hewan. Untuk mencapai konsensus mengenai bahaya BPA, diperlukan pengujian yang menyeluruh, termasuk uji klinis pada manusia.
Dr. Brama menjelaskan, tubuh manusia memiliki metabolisme untuk mengurai zat kimia dan bahan-bahan anorganik yang tanpa sengaja masuk dalam tubuh. BPA akan yang terserap dalam tubuh manusia akan didetoksifikasi oleh hati, untuk kemudian dikeluarkan oleh tubuh melalui urin dan feses.
Baca juga : Menkum: Amnesti Bisa Digunakan, Tapi Tak Serta Merta untuk Bebaskan Napi
“Tubuh kita mampu mengurai racun dan melakukan perbaikan. Maka, tidak benar untuk mengambil kesimpulan bahwa air minum dalam kemasan galon dapat memicu permasalahan kesehatan seperti permasalahan metabolik, kanker, maupun diabetes seperti yang sering dibicarakan. Masalah kesehatan tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti gaya hidup, diet yang tidak seimbang, riwayat genetik keluarga, serta variabel lainnya,” jelas Dr. Brama.
Sejalan dengan Dr. Brama, Prof Juliati menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk mengedukasi diri dengan informasi akurat terkait isu-isu kesehatan. Penelitian ini merupakan bagian dari upaya untuk memberikan informasi yang akurat dan berbasis ilmiah, dan menjawab kekhawatiran masyarakat tentang misinformasi dampak BPA.
"Dengan informasi berbasis ilmiah dan edukasi yang tepat, masyarakat tidak perlu khawatir mengkonsumsi air kemasan galon,” tutup Prof. Juliati.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya