Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Indonesia adalah negeri yang subur. Katanya, tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Tapi, mengapa masih banyak yang hidup dalam kemiskinan? Apakah solusinya hanya datang dari bantuan pemerintah, program sosial, atau ekonomi kapitalis? Ternyata, jawabannya juga bisa datang dari ajaran Islam. Tepatnya dari konsep ZISWAF: Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf.
ZISWAF bukan hanya amal ibadah, tapi sistem sosial ekonomi Islam yang dirancang untuk menolong mereka yang tak tertolong. Dalam diam, ZISWAF menyimpan potensi dahsyat untuk membalikkan keadaan—dari ketimpangan menuju keadilan.
1. Zakat dan Sedekah: Lebih dari Sekadar Berbagi
Bayangkan jika setiap orang kaya menunaikan zakatnya secara teratur. Dana itu tak hanya untuk memenuhi kebutuhan harian fakir miskin, tapi juga bisa diputar menjadi modal usaha kecil, pelatihan kerja, bahkan beasiswa pendidikan. Maka orang miskin bukan lagi objek belas kasihan, melainkan subjek perubahan.
Baca juga : Presiden KSPSI: Tepat untuk Meminimalisir Dampak Kebijakan Trump
Sedekah juga tak kalah hebat. Tak harus besar, tapi dampaknya bisa luar biasa. Dalam Islam, sedekah mampu menghapus dosa, menolak bala, dan membuka pintu rezeki—bukan hanya bagi si penerima, tapi juga bagi yang memberi.
2. Wakaf: Harta yang Tak Pernah Habis
Kalau kamu pikir wakaf cuma soal tanah untuk masjid, kamu harus tahu satu hal: wakaf bisa jadi alat revolusi sosial. Kini ada wakaf tunai, yakni dana yang disalurkan ke sektor-sektor produktif seperti pertanian, sekolah, rumah sakit, atau UMKM. Keuntungannya? Digunakan untuk program sosial yang tak akan pernah mati, selama dana wakaf itu terus berputar.
Inilah konsep luar biasa dari Islam: kekayaan dunia bisa jadi investasi abadi di akhirat—asal digunakan dengan niat dan cara yang tepat.
Baca juga : Undang Nexus, UNS Ajak Mahasiswa Pahami Strategi Komunikasi Krisis
Lalu, Kenapa Belum Berdampak Besar?
Masalahnya bukan pada konsep, tapi pada implementasi. Banyak masyarakat yang belum paham potensi ZISWAF. Lembaga pengelola masih kurang profesional. Koordinasi dengan pemerintah dan swasta belum optimal. Dan sayangnya, kesadaran umat untuk memberi—seringkali hanya muncul saat Ramadan.
Padahal, bila dikelola dengan sistem modern, transparan, dan inovatif, ZISWAF bisa mengangkat jutaan keluarga dari jurang kemiskinan. Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada APBN atau utang luar negeri. Kita perlu melihat ke dalam—kembali kepada ajaran kita sendiri. ZISWAF bukan hanya warisan Islam, tapi juga strategi keuangan masa depan yang adil, inklusif, dan berbasis solidaritas.
ZISWAF bukan milik orang kaya. Ia milik semua orang yang peduli. Dengan tangan-tangan kita, ia bisa hidup. Dengan hati kita, ia bisa menyelamatkan.
Baca juga : Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih untuk Putus Mata Rantai Kemiskinan
🕌 "Sesungguhnya dalam harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (QS. Adz-Dzariyat: 19)
Kamu siap jadi bagian dari solusi?
Dhiya Zhalfa Alghiffari Wibowo
Mahasiswa Semester IV Universitas Pamulang, Prodi Ekonomi Syari’ah
Mahasiswa Semester IV Universitas Pamulang, Prodi Ekonomi Syari’ah
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya