Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Undang Nexus, UNS Ajak Mahasiswa Pahami Strategi Komunikasi Krisis
Minggu, 23 Maret 2025 22:21 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di era ketidakpastian, strategi komunikasi krisis menjadi kunci dalam mengelola isu dan menjaga reputasi. Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) membekali mahasiswa dengan wawasan praktis dalam menghadapi krisis secara proaktif dengan mengundang Nexus Risk Mitigation and Strategic Communication.
"Kuliah umum ini bukan hanya tentang teori, tetapi bagaimana menghadapi tantangan nyata dengan pendekatan yang strategis dan proaktif," ujar Ketua Program Studi Sarjana Ilmu Komunikasi UNS Eka Nada Shofa Alkhajar.
Kuliah umum itu bertajuk Strategi Komunikasi Krisis: Peran dan Tantangan Ilmu Komunikasi di Masa Ketidakpastian. Acara ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk memahami dalam manajemen krisis, strategi komunikasi cepat, akurat dan proaktif adalah kunci menjaga reputasi dan kepercayaan publik.
CEO NEXUS Risk Mitigation & Strategic Communication Firsan Nova dalam pemaparannya menekankan bahwa komunikasi krisis bukan sekadar merespons peristiwa, tetapi bagaimana mengelola persepsi dan membangun narasi yang tepat sejak dini.
Baca juga : Gandeng Aliansi Mahasiswa, Polantas Jakarta Bagikan Takjil
"Fakta bukan sekadar apa yang terjadi, tetapi apa yang diberitakan dan dipercayai oleh masyarakat. Karena itu, investasi dalam narasi dan relasi menjadi kunci utama dalam manajemen krisis yang efektif," tambah Firsan.
Dia juga menambahkan, pendekatan proaktif dalam komunikasi krisis sangat diperlukan untuk mengurangi kesenjangan antara realitas dan persepsi publik.
Menurutnya, krisis tidak hanya diukur dari seberapa besar skalanya, tetapi dari dampaknya. Itulah mengapa penting untuk memiliki sense of crisis yang tajam dan memahami bahwa ekspektasi bukanlah strategi utama.
“Hal terpenting adalah bagaimana kita mengelola isu sebelum berkembang menjadi krisis," jelasnya.
Baca juga : Kunjungi SMA Bunda Mulia, Gibran Ajak Siswa Manfaatkan AI Secara Positif
Lebih lanjut, Firsan menjelaskan, dalam menghadapi krisis, ada tiga fase penting yang harus diperhatikan, yakni issue taker, balancing narratives, dan issue leadership.
Menurutnya, organisasi yang hanya menjadi issue taker cenderung reaktif dan berisiko kehilangan kendali atas narasi yang berkembang.
“Untuk bisa mengelola krisis dengan baik, kita harus mampu menyeimbangkan narasi yang beredar dan pada akhirnya menjadi pemimpin dalam isu tersebut. Hal ini bisa dicapai dengan strategi komunikasi yang solid, didukung oleh pemahaman konteks dan kepentingan publik," ungkapnya.
Selain itu, Firsan menekankan pentingnya issue and risk management sebelum krisis terjadi. Dia mengingatkan bahwa krisis yang tidak dikelola dengan baik bisa berdampak luas, bahkan kecilnya sebuah isu bisa memicu dampak atau butterfly effect yang memperburuk keadaan.
Baca juga : Menekraf Ajak Mahasiswa FEB UI Kolaborasi Wujudkan etahanan Digital
"Kita tidak bisa hanya fokus pada ukuran krisis, tetapi harus melihat dampaknya. Krisis yang tampak kecil bisa saja memiliki konsekuensi besar jika tidak ditangani dengan strategi yang tepat," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya