Dark/Light Mode

Penjurusan di Sekolah: Perspektif Sosiologi

Minggu, 27 April 2025 00:27 WIB
Foto ilustrasi siswa SMA / Freepik
Foto ilustrasi siswa SMA / Freepik

Dalam lanskap pendidikan menengah Indonesia, penjurusan kerap dipahami sebatas mekanisme teknokratis yang membagi siswa berdasarkan kecenderungan akademik. Padahal jika diperdalam dari perspektif sosiologi pendidikan misalnya, penjurusan sejatinya merupakan arena praksis-sosial tempat nilai, identitas, dan keberagaman dikonstruksi secara dinamis. 

Di sinilah pendidikan memainkan peran kulturalnya; pendidikan bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk subjek sosial yang berakar pada sejarah dan terarah pada masa depan kebangsaan.

Proses Sosialisasi Nilai Kebangsaan

Dengan demikian, penjurusan hendaknya dipahami dalam konteks memberikan kerangka bagi integrasi nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan sejarah perjuangan bangsa ke dalam pembelajaran yang relevan secara ruang dan waktu. 

Sosiolog Émile Durkheim mengatakan “Pendidikan adalah sosialisasi sistematis dari generasi muda.” Konsekuensinya jurusan IPS yang mengangkat narasi sejarah nasional bukan hanya mengajarkan peristiwa, tetapi juga memproduksi kesadaran kolektif atas narasi kebangsaan itu sendiri.

Begitu juga dengan Jurusan Bahasa yang tidak hanya menghidupkan literatur nasional dan daerah, sekaligus adalah praksis atas solidaritas mekanik yang menubuh dalam bahasa ibu.

Lebih lanjut Durkheim menyatakan bahwa masyarakat bertahan karena adanya “kesadaran kolektif.” 

Baca juga : Swasembada Pangan Dalam Perspektif Badan Karantina Indonesia

Maka dalam penjurusan, kesadaran ini dibentuk melalui pengalaman belajar yang menekankan nilai kebangsaan bukan sebagai dogma, tetapi sebagai pengalaman yang dialami dan direnungkan.

Medium Pelestarian Keberagaman

Maka dari itu, dalam penjurusan tercipta ruang untuk eksplorasi kearifan lokal secara lebih mendalam—seni, tradisi, hingga narasi minor yang kerap terpinggirkan dalam kurikulum nasional. 

Di sinilah relevansi pemikiran Pierre Bourdieu tentang habitus menjadi penting. Habitus—yakni sistem disposisi yang terbentuk melalui pengalaman sosial—dibentuk dalam interaksi pendidikan yang selaras dengan konteks budaya lokal. 

Dengan cara pandang itu, siswa bukan hanya menjadi konsumen ilmu, tetapi juga produsen identitas yang berakar pada memori kolektif komunitasnya.

 Bourdieu lebih lanjut juga mengingatkan bahwa sistem pendidikan adalah arena perebutan kapital simbolik. Dalam konteks ini, penjurusan yang selaras dengan terdapatnya potensi lokal yang bisa memberikan siswa kapital kultural yang bernilai tinggi dalam pasar sosial dan ekonomi lokal, memperkuat otonomi daerah dalam kerangka nasional.

 Formasi Identitas Kolektif

Baca juga : Hore, Pertamina Turunkan Tiket Pelita Air 15,8 Persen Di Musim Mudik Lebaran

 Ruang jurusan menciptakan komunitas epistemik tempat interaksi sosial membentuk jalinan identitas yang melampaui latar belakang etnik dan geografis. Anthony Giddens menyebut ini sebagai "refleksivitas modernitas", yakni kemampuan individu dan institusi untuk terus-menerus menafsir ulang jati diri di tengah perubahan sosial. 

Karena itu dalam sistem penjurusan, proses pembelajaran bisa didesain agar siswa belajar memahami diri dan bangsanya dalam bingkai reflektif, misalnya siapa mereka, dari mana asalnya, dan ke mana arah masa depan bersama. Mereka bisa mengkonstruksi identitas kebangsaan tersebut, dengan menyandarkan pada fokusnya pada minat (dan bakat) yang mereka gulati dalam pembelajaran. 

Dengan proses seperti di atas, kurikulum yang menyentuh nilai-nilai kebangsaan secara intersubjektif menciptakan referensi bersama yang menjadi fondasi identitas nasional. Jürgen Habermas, filsuf lain dalam bidang ilmu sosial menyebutkan bahwa “Identitas tidak dibentuk dari atas, melainkan melalui komunikasi yang rasional antarwarga.” 

Dalam konteks ini, maka ruang kelas pada  penjurusan ini  juga merupakan ruang deliberasi. Di mana, di ruang deliberasi tersebut setiap siswa bisa berdialog tentang bangsa bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai kenyataan yang mereka alami dan tafsirkan bersama, dengan saling bertukar imajinasi berbasis peminatan. 

Penjurusan Berpotensi Menghasilkan Ketegangan Sosial

Namun demikian, penjurusan tidak bebas dari paradoks. Ketika dikonstruksi tanpa sensitivitas terhadap keberagaman, penjuruan dapat menjadi instrumen eksklusi. Jika interaksi antarjurusan minim, jika kurikulum terlalu sentralistik, maka yang lahir bukan integrasi, melainkan fragmentasi sosial. Ini yang harus kita waspadai bersama. 

Habermas juga telah mengingatkan tentang distorsi komunikasi sistemik ini. Di mana sistem pendidikan yang berhenti menjadi ruang interaksi rasional dan dialog intersubyektif, bisa  berubah menjadi alat dominasi ideologis.

Baca juga : Perusahaan Dunia Sambut Positif Hadirnya Danantara

Selain itu, ketimpangan akses terhadap mutu penjurusan di berbagai daerah melanggengkan juga cenderung hanya reproduksi struktural—sebagaimana dikritik oleh Bourdieu. Di mana anak-anak dari kelas sosial marjinal gagal mengakses kapital kultural yang dibutuhkan untuk mobilitas sosial. Padahal bisa jadi, itu hanya jalan satu-satunya mereka untuk “naik kelas”. Di sinilah, pembenahan sistem penjurusan harus pula memerhatikan aspek keadilan struktural dan pemerataan sumber daya.

Penjurusan sebagai Kerja Kebudayaan

Penjurusan, dalam kerangka sosiologis, tidak bisa dipisahkan dari kerja kebudayaan suatu bangsa. Pendidikan adalah instrumen reflektif untuk membangun habitus kebangsaan yang berakar pada pluralitas dan diarahkan pada cita-cita kolektif. Penjurusan yang baik bukan hanya mengajarkan keterampilan kerja, tetapi juga membentuk etos kebangsaan yang kritis, inklusif, dan solider.

Untuk itu, negara, sekolah, dan masyarakat sipil harus bersinergi membentuk penjurusan sebagai medan praksis identitas nasional yang hidup dan terus berkembang. Hanya dengan demikian, pendidikan menengah kita tidak terjebak dalam formalisme administratif, melainkan tampil sebagai praksis kultural yang membentuk manusia Indonesia seutuhnya—yang berpikir global, tetapi berpijak kokoh pada tanah tempat ia tumbuh. [*]

Dr. Tantan Hermansah
Dr. Tantan Hermansah
Ketua Prodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Pengampu Mata Kuliah Sosiologi

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.