Dark/Light Mode

Sedikit Anatomi pada Tawuran Pelajar

Rabu, 14 Mei 2025 22:22 WIB
Ilustrasi: Buku Tawuran: Kenali, Cegah, dan Atasi, Seri: Pendidikan Karakter Antikriminal karya Haeriah Syamsuddin, M.Rifa’i Hariyono
Ilustrasi: Buku Tawuran: Kenali, Cegah, dan Atasi, Seri: Pendidikan Karakter Antikriminal karya Haeriah Syamsuddin, M.Rifa’i Hariyono

Masalah kekerasan siswa di Indonesia kini dimulai lebih dini dari yang pernah dibayangkan. Sudah lama sekali, tawuran antar pelajar SLTA di Indonesia menjadi sorotan utama berbagai pihak. Kini, lebih menyedihkan kita ketika kekerasan serupa mulai terjadi di tingkat sekolah dasar. 

Apa yang dulu dianggap sebagai gejala kenakalan remaja, kini merembes ke usia anak-anak. Semain double sedih ketika sampai pada masa ketika seharusnya mereka belajar tentang kebersamaan, bukan permusuhan.

Reaksi pertama kita tentu saja adalah keprihatinan mendalam. Bila kekerasan antar remaja saja sudah menjadi persoalan sosial yang serius, maka kemunculannya di usia SD adalah alarm tanda bahaya. Meski pemahaman menyeluruh membutuhkan penelitian empiris yang cermat, pendekatan sosiologis setidaknya mampu menangkap lanskap awal dari persoalan ini.

Pelajar bukan individu yang berdiri sendiri. Mereka hidup dalam struktur sosial yang kompleks—penuh dengan ideologi, ekspektasi budaya, tekanan perilaku, serta pengaruh dari orang tua, guru, teman sebaya, dan media. Seorang anak masa kini bukan hanya murid di kelas, melainkan juga aktor yang harus menjelajahi dunia digital, bersaing dalam sistem pendidikan yang kompetitif, dan kadang bertahan dalam lingkungan keluarga yang tidak siap mendampingi secara emosional.

Baca juga : 80 Ribu Anak Terpapar Judol, Puan Geram

Bagi anak-anak dari kelas menengah ke atas, tekanan ini sering kali “diatasi” melalui jadwal kegiatan yang super padat. Les bahasa Inggris, kelas coding, pelatihan olahraga, nongkrong rutin sambil mengerjakan tugas—semuanya membentuk struktur hidup yang disiplin sejak dini. Mereka terbiasa dengan manajemen waktu, target pencapaian, dan rutinitas yang melatih daya tahan akademik maupun mental.

Namun, bagi anak-anak dari keluarga kelas pekerja, sekolah bisa jadi satu-satunya ruang sosial yang mereka miliki. Ketika waktu luang di luar sekolah tidak difasilitasi secara bermakna, maka ponsel dan dunia digital menjadi pelarian. 

Akses pada informasi tak terbatas ini, meski membebaskan, juga bisa membanjiri kesadaran mereka dengan pesan-pesan yang tidak terkurasi. Dalam ruang digital, tindakan negatif sering kali lebih cepat mendapat respons sosial daripada kebaikan yang sunyi.

Seorang influencer lokal pernah berkata, “Kalau perbuatan baik tak menarik perhatian, mungkin perbuatan buruk bisa.” Kutipan ini dengan tepat menggambarkan psikologi sebagian pelajar yang beralih ke kenakalan atau kekerasan: bukan semata karena niat jahat, tetapi karena ingin dilihat. 

Baca juga : Lempar Wasit, Antonio Rudiger Terancam Sanksi La Liga

Di banyak keluarga, satu-satunya saat anak mendapat perhatian serius dari orang tua justru ketika mereka bermasalah. Maka tak mengherankan jika tindakan negatif menjadi sarana komunikasi yang efektif.

Tentu saja masalah ini tidak melulu tentang teknologi atau perhatian orang tua. Ada dimensi struktural yang lebih dalam: budaya kelembagaan pendidikan kita yang terlalu menekankan kompetisi. Siswa dibentuk untuk menjadi juara kelas, pemenang lomba, dan simbol keunggulan sekolah. Tetapi mereka nyaris tak pernah didorong untuk bekerja sama, apalagi berempati terhadap sesama pelajar dari latar belakang berbeda.

Andai anak-anak dari kota besar diberi kesempatan untuk mengunjungi sekolah-sekolah di daerah dengan sarana terbatas tapi prestasi tinggi, mereka mungkin akan belajar sesuatu yang tak tertulis dalam buku pelajaran: solidaritas. Wisata edukatif seharusnya bukan sekadar kunjungan ke tempat-tempat populer, melainkan pertukaran pengalaman sosial yang membuka mata.

Gagasan yang lebih radikal layak dipertimbangkan: jika dua sekolah terlibat dalam kasus tawuran, siswa yang bertikai bisa saja dipindahkan untuk sementara ke sekolah “lawan” mereka. Misalnya, siswa dari Sekolah A belajar di Sekolah B selama tiga bulan, dan sebaliknya. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai bentuk imersi sosial. Sering kali, para pelajar ini pun tak lagi paham mengapa mereka bermusuhan. Dengan merasakan lingkungan sekolah lain secara langsung, mereka mungkin menyadari bahwa “lawan” mereka hanyalah anak-anak biasa yang juga mencari tempat di dunia.

Baca juga : IIVC 2025, Profesi Penilai Adaptif Hadapi Tantangan Global

Tawuran pelajar bukan sekadar masalah disiplin. Ia adalah cerminan bagaimana masyarakat memberikan perhatian, bagaimana sekolah mendesain ruang sosialnya, dan bagaimana kita gagal membangun kebersamaan di antara anak-anak muda. Sekolah tidak bisa lagi hanya menjadi pabrik akademik. Ia harus menjadi laboratorium sosial—tempat di mana anak-anak belajar bukan hanya untuk menang, tetapi juga untuk memahami dan terhubung. [*]

Dr. Tantan Hermansah
Dr. Tantan Hermansah
Pengajar Sosiologi dan Pemberdayaan Masyarakat-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.