Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Kemendikdasmen dan Misi Mulia: Membentuk Generasi Siap Hadapi Dunia
Senin, 30 Juni 2025 22:22 WIB
Di tengah gempuran era digital yang melaju tanpa kompromi, dunia pendidikan tidak lagi cukup hanya berbekal papan tulis dan kapur. Tantangan masa kini membutuhkan terobosan masa depan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyalakan obor perubahan itu. Melalui program prioritas tahun 2025, Kemendikdasmen merancang langkah strategis yang berpijak pada kebutuhan zaman: pengenalan coding dan Artificial Intelligence (AI) bagi peserta didik, serta penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai sistem evaluasi pembelajaran yang berorientasi pada penguatan mutu.
Program ini bukanlah upaya kosmetik kebijakan, melainkan respon konkret terhadap realitas pendidikan global yang menuntut literasi digital sebagai pilar kompetensi dasar abad ke-21. Pendidikan bukan lagi sekadar proses menyerap pengetahuan, melainkan proses membentuk manusia berpikir kritis, berdaya cipta, dan mampu hidup selaras dengan teknologi.
Pengenalan coding dan AI dalam sistem pendidikan bukan muncul dalam ruang hampa. Ia memiliki dasar yuridis yang kuat, antara lain Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menekankan pentingnya pengembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia cerdas, kreatif, dan mandiri. Dari sisi filosofis, pendidikan adalah jalan mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya, bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta dan penggeraknya.
Secara sosiologis, pengenalan teknologi digital di usia sekolah mencerminkan kesadaran bahwa masyarakat Indonesia kini berada dalam lanskap ekonomi digital yang menuntut kesiapan dari generasi muda. Di berbagai negara maju, seperti Finlandia, Jepang, dan Korea Selatan, coding bahkan diajarkan sejak jenjang dasar sebagai bagian dari keterampilan dasar seperti membaca dan menulis. Sebuah studi oleh Lee & Yoon (2021) menunjukkan bahwa anak-anak yang diperkenalkan pada coding sejak dini menunjukkan perkembangan signifikan dalam kemampuan berpikir logis dan memecahkan masalah secara sistematis¹.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam sambutannya pada kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun akhir November 2024 lalu, menegaskan bahwa penguasaan teknologi seperti coding dan AI merupakan kebutuhan strategis agar anak-anak Indonesia tidak tertinggal. “Kami berencana memperkenalkan pembelajaran ini mulai dari sekolah dasar, sebagai mata pelajaran pilihan pada tahun ajaran 2025–2026,” tuturnya, di Jakarta (29/11/2024).
Transformasi Pembelajaran: Dari Papan Tulis ke Algoritma
Baca juga : Presiden Resmikan Bali International Hospital, Pertamina Hadirkan RS Kelas Dunia
Integrasi coding dan AI dalam kurikulum bukan sekadar tren global yang ditiru, melainkan bagian dari rekayasa kebijakan pendidikan berbasis kebutuhan dan konteks lokal. Pembelajaran coding melatih siswa berpikir runtut, memecah masalah, dan menciptakan solusi. Sementara AI memperkenalkan anak-anak pada pengelolaan data, pengambilan keputusan berbasis algoritma, dan interaksi dengan mesin secara cerdas.
Diskusi Kelompok Terpumpun yang digelar Direktorat Jenderal PAUD Dikdasmen pada Desember 2024, yang dihadiri oleh Wakil Mendikdasmen Fajar Riza Ul Haq dan staf khusus kementerian, menghasilkan pendekatan yang menarik: pembelajaran coding dan AI akan dilaksanakan melalui tiga model, yaitu berbasis internet (internet-based), model plugged (menggunakan perangkat), dan unplugged (tanpa perangkat, menggunakan simulasi manual).
Fajar Riza menyampaikan, “Digitalisasi pendidikan tak hanya meningkatkan kualitas peserta didik, tapi juga membuat guru menjadi lebih terbantu dan kreatif.” Pembelajaran yang semula kaku dan satu arah kini mulai menjelma menjadi ruang eksplorasi dan inovasi.
Evaluasi yang Mendidik: Peran Strategis Tes Kemampuan Akademik (TKA)
Peningkatan mutu pendidikan bukan hanya perkara input dan proses, tetapi juga output. Oleh karena itu, Kemendikdasmen tidak berhenti pada penguatan konten kurikulum, tetapi juga melakukan reformasi sistem evaluasi dengan mengembangkan Tes Kemampuan Akademik (TKA). TKA dirancang untuk menilai kemampuan kognitif dan potensi akademik siswa secara lebih holistik—bukan sekadar angka-angka nilai, melainkan cermin sejauh mana siswa memahami konsep, berpikir kritis, dan menyelesaikan persoalan.
Sebuah studi oleh Gomez et al. (2022) dalam Educational Review menunjukkan bahwa tes diagnostik seperti TKA yang bersifat adaptif mampu meningkatkan kualitas pembelajaran karena memungkinkan guru menyesuaikan metode mengajar sesuai tingkat pemahaman siswa². Inilah yang menjadi nilai strategis dari TKA: sebagai alat pemetaan mutu pendidikan yang berbasis data dan realitas lapangan.
Baca juga : Diceritakan Ajudan, Kulit Jokowi Memang Berubah, Tapi Fisik Oke
Dengan menggunakan TKA, guru tidak lagi menilai siswa secara statis, melainkan secara dinamis—memberi ruang refleksi untuk perbaikan terus-menerus. Lebih dari itu, evaluasi berbasis kemampuan akademik ini mendukung growth mindset dalam pembelajaran, yang mengakui bahwa kecerdasan bisa ditumbuhkan melalui usaha dan strategi belajar yang tepat.
Kolaborasi Lintas Sektor: Pendidikan sebagai Tanggung Jawab Bersama
Pendidikan adalah ekosistem besar yang tidak bisa digerakkan hanya oleh satu pihak. Karena itu, Kemendikdasmen menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah pusat, daerah, guru, kepala sekolah, komunitas pendidikan, serta dunia usaha dan industri.
Sekretaris Ditjen PAUD Dikdasmen, Praptono, menyampaikan bahwa keberadaan coding dan AI di sekolah bukan hanya tentang alat teknologi, melainkan tentang membangun keterampilan kreatif, kolaboratif, dan solutif yang dibutuhkan di masa depan. “Kami berharap diskusi dan masukan dari berbagai pihak akan melahirkan strategi pengajaran coding dan AI yang efektif, berkeadilan, dan adaptif terhadap kondisi nyata di lapangan,” ujarnya dalam laporan kegiatan di awal Desember 2024.
Sebuah penelitian oleh Simmons (2020) menegaskan bahwa collaborative governance atau tata kelola kolaboratif merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan reformasi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan³.
Oleh karena itu, tanggung jawab untuk mewujudkan pendidikan bermutu tidak bisa dipikul hanya oleh Kemendikdasmen semata. Pemerintah daerah, komunitas guru, akademisi, praktisi teknologi, bahkan orang tua siswa harus bersatu dalam visi yang sama: membentuk generasi Indonesia yang tidak hanya “siap kerja”, tetapi juga “siap berkarya”.
Baca juga : Wamen Isyana: Membangun Indonesia Tangguh Dimulai Dari Keluarga
Penutup: Menuju Pendidikan Masa Depan yang Manusiawi dan Berdaya Saing
Program prioritas Kemendikdasmen 2025 adalah jalan menuju masa depan. Masa depan di mana siswa-siswa Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam panggung globalisasi teknologi, tetapi pelaku utama yang mengubah tantangan menjadi peluang.
Dengan mengenalkan coding dan AI sejak dini, memperbarui sistem evaluasi pembelajaran dengan TKA, serta membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif, Indonesia tengah menyiapkan fondasi bagi generasi unggul. Generasi yang cerdas digital, tangguh secara mental, dan siap menghadapi dunia yang terus berubah.
Aolia
Pengamat Ekonomi dan Pendidikan Banyumas Raya
Pengamat Ekonomi dan Pendidikan Banyumas Raya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya