Dark/Light Mode

Saatnya Belajar Makna, Bukan Sekadar Angka

Sabtu, 12 Juli 2025 17:55 WIB
Ilustrasi: Dok. Monitor.co.id/Sapto Fama
Ilustrasi: Dok. Monitor.co.id/Sapto Fama

Kita mungkin cukup bosan mendengar bahwa skor PISA Indonesia selalu gitu-gitu saja. Tapi tahukah Anda, bahwa ini bukan cuma soal ranking internasional. Ini soal bagaimana hasil dari cara mendidik anak-anak kita. Di PISA 2022, skor Indonesia untuk matematika cuma 366, membaca 359, dan sains 383. Jauh di bawah rata-rata dunia yang tembus 470-an.

Tentu angka-angka itu bukan sekadar data statistik. Seperti kaca retak, realitas ini memantulkan wajah pendidikan kita hari ini: penuh hafalan, miskin makna. Mungkin karena kita terlalu lama sibuk membuat anak-anak mengingat, tapi lupa mengajak mereka memahami. Di aras lainnya, kita menstandardisasi semuanya, seolah semua anak harus sama. Jadi ingat kata-kata dari Paulo Freire, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tapi upaya membebaskan manusia.

Jadi wajar jika kita bertanya, kenapa nilai kita tak naik-naik juga? Padahal, kita juga tahu bahwa dana pendidikan terus digelontorkan. Salah satu jawabannya ternyata bukan di siswa, tapi di cara sistem ini berjalan. 

Ada yang bilang terlalu birokratis, terlalu banyak perintah dari atas, dan terlalu sedikit ruang untuk guru berkreasi. Banyak kebijakan bagus di atas kertas, tapi jauh dari kenyataan ruang kelas. Evaluasi pun masih soal ujian yang itu-itu saja—belum menyentuh bagaimana anak berpikir. Seorang pendidik lain pernah mengingatkan, kita sibuk mengejar angka, tapi lupa membangun manusia.

Di tengah situasi kekeringan seperti itu, muncul pendekatan baru: Pembelajaran Mendalam (PM). PM merupakan cara pandang terhadap proses belajar. PM sebuah pendekatan pembelajaran. Maka PM bukan soal buku teks, tapi tentang mengolah pikiran, hati, rasa, dan tubuh anak-anak kita. Sehingga belajar bukan lagi soal “menyampaikan materi”, tapi mengajak anak mengalami, bertanya, dan merasakan sendiri makna dari pelajaran yang mereka jalani.

Baca juga : Suaminya Dipenjara, Mantan Ibu Negara Korsel Kesandung Suap & Plagiat

PM sejatinya seperti menghidupkan lagi statemen dari John Dewey: pendidikan adalah kehidupan itu sendiri, bukan persiapan untuk ujian. Kalau mau anak-anak bisa berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan menavigasi hidupnya kelak, mereka harus merasakannya dari sekarang. Dan menariknya, PISA pun mengukur hal-hal itu—bukan hafalan, tapi cara berpikir.

Lalu, apakah PM hanya teori belaka? Ternyata tidak. Lihat Finlandia. Mereka tidak punya ujian nasional sampai usia 16 tahun. Tapi skor PISA mereka tinggi karena sistemnya memberi kebebasan pada guru, mengutamakan proyek-proyek kolaboratif, dan menjadikan sekolah sebagai ruang tumbuh, bukan hanya ruang uji. Sir Ken Robinson pernah bilang, “Anak-anak lahir dengan rasa ingin tahu. Sayangnya, sistem pendidikan sering mematikannya.”

Vietnam, dengan sumber daya terbatas, bisa melesat di PISA karena mereka berani merombak sistemnya: kurikulum dibuat lebih kontekstual, guru diberi peran sentral, dan siswa diajak berpikir, bukan sekadar menghafal.

Lantas bagaimana kita bisa memulai? 

Di tingkat SD, PM bisa dihadirkan lewat aktivitas yang dekat dengan dunia anak. Belajar tentang akar? Tanam pohon. Belajar membaca? Ajak mereka membuat buku cerita sendiri. Semua pelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata. Anak bukan lagi penampung materi, tapi penjelajah makna. Proses kehidupan didalami, bahkan walau hanya pada kehadiran sebuah cerita pada buku.

Baca juga : Jakarta Banjir, Pram Tidak Mau Salahkan Orang Lain

Di tingkat SMP, tantangan pembelajaran mulai meningkat. Di sinilah PM jadi alat penting. Pelajaran Bahasa Indonesia bisa dihubungkan dengan isu sosial. Matematika bisa dipakai untuk menghitung konsumsi air di rumah. Pelajaran jadi jembatan menuju realitas. Anak belajar bukan cuma dari buku, tapi dari kehidupan. Vygotsky bilang, belajar sejati tumbuh dari interaksi bermakna. 

Masuk ke SMA, PM mendorong anak berpikir pada level yang lebih tinggi. Mereka diajak tidak hanya memahami konsep, tapi mengevaluasi, menganalisis, bahkan menciptakan. Pelajaran tak lagi berdiri sendiri. Biologi bisa nyambung dengan ekonomi, geografi bisa dikaitkan dengan sastra. Anak-anak belajar merangkai pengetahuan lintas batas. Seperti dibilang Habermas, ruang publik yang sehat hanya lahir dari orang-orang yang terlatih berpikir kritis. Di sini sekolah harus jadi ladangnya.

Namun PM tak akan hidup kalau cuma dijalankan di kelas. Ia perlu dukungan suatu ekosistem. Perlu pelatihan guru yang terus-menerus, perlu kepala sekolah yang berani, perlu kurikulum yang lentur. Penilaian pun harus berubah: bukan cuma soal nilai ujian, tapi portofolio, refleksi, proyek. Seperti kata Howard Gardner, kalau kita mengukur ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan merasa bodoh seumur hidup.

Sayangnya, sistem kita masih terlalu seragam. Padahal anak-anak kita begitu beragam: cara berpikirnya, cara belajarnya, dan potensi yang mereka miliki. PM membuka jalan untuk mengakui keragaman itu. Bahwa semua anak bisa tumbuh—asal diberi ruang dan cara yang tepat.

Kita (Pasti) Bisa

Baca juga : Singa Peliharaan Menyerang Warga

Pendidikan bukan ruang produksi nilai ujian. Ia adalah tempat di mana manusia dibentuk. Skor PISA memang penting, tapi, lagi-lagi ia hanya alat ukur. Sebab yang lebih penting adalah apa yang tak diukur: apakah anak-anak kita bahagia? Apakah mereka bisa berpikir? Apakah mereka siap menjalani hidup?

PM membawa semangat baru. Ia mengingatkan kita bahwa belajar itu harus menyentuh rasa, bukan sekadar otak. Ia membebaskan guru, menghidupkan ruang kelas, dan memuliakan murid. Di tangan guru-guru yang reflektif, kepala sekolah yang punya nyali, dan kebijakan yang membuka ruang, PM bisa jadi awal perubahan besar.

Seperti pesan Ki Hadjar Dewantara: “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka menjadi manusia seutuhnya.” Mungkin saatnya kita kembali ke filosofi itu. Mendidik bukan sekadar menyampaikan, tapi menemani anak-anak menemukan maknanya sendiri. Dari situ, skor PISA pun akan mengikuti—bukan karena dipaksa, tapi karena mereka memang tumbuh dari dalam. [*]

Dr. Tantan Hermansah
Dr. Tantan Hermansah
Anggota Dewan Tafkir PP Persatuan Islam (Persis) & Praktisi Pendidikan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.