Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Revitalisasi sebagai Komitmen Pemerintah untuk SDM Unggul
Senin, 15 September 2025 22:38 WIB
Dunia bergerak cepat menuju Era Industri 5.0. Kreativitas, inovasi, dan penguasaan teknologi menjadi kunci persaingan antarbangsa. Namun, di banyak sudut negeri, realitas pendidikan Indonesia masih jauh dari ideal: siswa belajar di ruang kelas sempit dengan kursi reyot, tanpa laboratorium yang layak, dan perpustakaan seadanya. Kondisi ini bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan persoalan strategis yang menyangkut masa depan: sejauh mana bangsa mampu menyiapkan generasi emas 2045 yang diharapkan menjadi motor kemajuan ekonomi dan sosial.
Berbagai riset menegaskan, kualitas sarana pendidikan berpengaruh langsung terhadap mutu pembelajaran. Jannah & Darmawan (2024) menyebut, sekolah dengan fasilitas lengkap mendorong motivasi belajar, meningkatkan prestasi akademik, hingga memperkuat kepercayaan diri guru. Sebaliknya, sekolah dengan infrastruktur minim memperlebar jurang kesenjangan antarwilayah, menciptakan ketidakadilan struktural antara daerah perkotaan yang mapan dan daerah tertinggal yang masih berjuang dengan fasilitas seadanya.
Menyadari ancaman ini, Pemerintah meluncurkan program revitalisasi sekolah sebagai langkah korektif sekaligus investasi jangka panjang. Program ini bukan sekadar memperbaiki gedung retak atau membangun toilet baru, tetapi strategi komprehensif untuk memperkuat fondasi pendidikan dasar dan menengah. Melalui revitalisasi, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi ruang belajar yang aman, sehat, dan inklusif, tetapi juga arena pembentukan karakter, pusat literasi digital, dan laboratorium kreativitas yang mendorong lahirnya SDM unggul.
Lebih jauh, revitalisasi ini menyimpan harapan besar: menghadirkan ekosistem pendidikan yang setara dari Sabang hingga Merauke. Jika konsisten dijalankan dengan pengawasan ketat dan partisipasi masyarakat, program ini berpotensi memangkas kesenjangan antarwilayah, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja yang menuntut kompetensi tinggi.
Prioritas Revitalisasi
Program revitalisasi sekolah pada 2025 menargetkan 10.440 satuan pendidikan sebagai prioritas. Fokus perbaikan mencakup ruang kelas, ruang guru, ruang administrasi, perpustakaan, laboratorium, toilet, hingga Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Dana sebesar Rp 17,1 triliun disiapkan untuk program ini. Anggaran yang sebelumnya dikelola Kementerian Pekerjaan Umum (PU) kini dialihkan ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) agar lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan sekolah.
Tujuan utamanya jelas: meningkatkan akses dan mutu layanan pendidikan dengan menyediakan sarana prasarana yang layak, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan siswa.
Revitalisasi dilaksanakan dengan mekanisme swakelola. Dana bantuan Pemerintah disalurkan langsung ke rekening sekolah untuk dikelola secara mandiri melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP). Panitia ini melibatkan masyarakat setempat dan didampingi tim teknis dari perguruan tinggi, dinas pendidikan, dan kementerian.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga dan PDG Kerja Sama Pemanfaatan HVO untuk Dekarbonisasi
Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan, model ini bukan hal baru. “Sekolah diberi otoritas penuh untuk merancang, membelanjakan, dan mempertanggungjawabkan anggaran secara transparan dan akuntabel, dengan dukungan langsung dari masyarakat dan tenaga profesional. Swakelola bukan hal baru—pendekatan ini telah digunakan lebih dari 20 tahun dalam kerangka manajemen berbasis sekolah (MBS),” jelas Gogot.
Ia kembali mengingatkan bahwa pelibatan masyarakat menjadi benteng pengawasan. “Revitalisasi sekolah yang dilaksanakan secara swakelola ini melibatkan masyarakat secara gotong royong, harapannya dapat mendorong partisipasi masyarakat dan menggerakkan roda ekonomi lokal, sekaligus memperkuat rasa kepemilikan (sense of belonging) masyarakat terhadap sekolah,” pungkasnya.
Untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan, Kemendikdasmen menetapkan standar pengawasan ketat. Satuan pendidikan penerima bantuan wajib menyusun rencana kegiatan dan anggaran yang disetujui oleh tim pengelola, termasuk unsur pengawas dari dinas pendidikan dan masyarakat.
Baca juga : Mendikdasmen: Penguatan SMK Jadi Pilar Peningkatan SDM Unggul Indonesia
Penutup
Lebih dari sekadar proyek pembangunan, revitalisasi sekolah menjadi penggerak kehidupan sosial dan ekonomi di masyarakat. Ia memperbaiki mutu pendidikan, menggerakkan roda ekonomi lokal, dan menghidupkan kembali semangat gotong royong.
Dengan skema swakelola dan pendampingan berlapis, program ini memberi harapan bahwa setiap rupiah yang digelontorkan benar-benar bermakna bagi siswa, guru, dan masyarakat. Pada akhirnya, revitalisasi sekolah adalah investasi sosial jangka panjang untuk menyiapkan generasi cerdas, tangguh, dan siap menghadapi dunia global
Rahma Akmal
Alumni UIN SAIZU, Purwokerto
Alumni UIN SAIZU, Purwokerto
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya