Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Di antara pagi yang lirih dan tenang, ada desir halus dalam ingatan saya—tentang menjadi santri, tentang makna yang dulu samar, kini perlahan menampakkan bentuknya.
Hari ini, di Hari Santri, saya mencoba menulis sebuah refleksi sosiologis tentang santri: siapa dia, bagaimana ia dilahirkan oleh zaman, dan ke mana ia kini melangkah.
Saya masih mengingat, ketika dulu menjadi santri di sebuah pesantren kecil. Suatu hari, seorang teman menyampaikan sebuah pengertian yang tak lekas hilang dari ingatan saya. Katanya, menjadi santri berarti memikul tiga komitmen:
Pertama, komitmen kepada Allah dan Rasul-Nya.
Baca juga : Polisi Siaga di Monas dan DPR Kawal Aksi Massa, Hari Ini
Kedua, komitmen kepada bangsa dan negara.
Ketiga, komitmen kepada ilmu pengetahuan.
Waktu itu, mungkin ia hanya mencoba membesarkan hati kami—anak-anak muda yang tak menempuh jalur pendidikan formal seperti sekolah negeri, yang di mata banyak orang tampak lebih menjanjikan. Tapi di balik ucapannya, saya kini melihat sebuah fondasi. Sebuah pandangan dunia yang tak sekadar membesarkan hati, tapi menanamkan keyakinan.
Tiga puluh tahun berselang, saya menyaksikan sendiri: posisi santri tak lagi di pinggiran. Secara sosiologis, santri telah mengalami mobilitas makna—ia bukan lagi sekadar simbol dari keterasingan atau tradisi lama. Ia telah mengalami mobilitas vertikal, baik secara sosial, kultural, maupun epistemologis.
Baca juga : Kapolri: Tausiah UAS Jadi Spirit Pengabdian Polri
Kini, santri tidak hanya hadir di mimbar-mimbar pengajian. Ia ada di ruang-ruang pemerintahan, menjadi birokrat, pemimpin, pengusaha, akademisi, ilmuwan, bahkan pakar teknologi. Ia ikut membentuk arah zaman. Dan yang menarik, input ke dalam dunia pesantren pun telah berubah. Dulu, santri kerap datang dari kelas sosial bawah. Kini, banyak dari mereka yang berasal dari kelas menengah bahkan atas, dengan pandangan bahwa pendidikan pesantren tak kalah—bahkan lebih unggul—dibanding sekolah formal.
Pesantren pun bertransformasi. Ia bukan lagi institusi yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, tetapi juga telah berkonvergensi dengan ilmu sosial, sains, teknologi, bahkan kecerdasan artifisial. Beberapa pesantren bahkan telah menjadi pelaku dalam ekosistem inovasi teknologi, bukan sekadar pengikut. Mereka tidak hanya adaptif, tetapi juga proaktif—menjadi kompetitor serius dalam dunia pendidikan nasional.
Namun tentu saja, tidak semua berjalan ideal. Tidak semua yang menyandang identitas santri mampu menjaga nilai-nilai dasarnya. Ada yang tergelincir dalam kekuasaan, dalam godaan dunia, dalam laku yang tak mencerminkan akhlak dan ilmu yang dulu didapatkan. Ini bisa jadi karena semakin melebar dan melemahnya batas-batas sosial, seiring dengan semakin beragamnya latar belakang santri hari ini.
Maka dari itu, Hari Santri adalah hari perenungan. Hari untuk kembali mengingat posisi santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca juga : Apkasindo Dukung Prabowo, Sampaikan 8 Poin Deklarasi Di Hari Tani
Tiga komitmen yang pernah diucapkan teman saya dulu—kepada Allah dan Rasul, kepada bangsa, dan kepada ilmu pengetahuan—sesungguhnya adalah nilai-nilai universal. Ia adalah akar yang tak boleh tercabut, sekalipun badai zaman datang bertubi-tubi. Ia adalah cahaya yang harus terus dijaga, agar tak padam dalam gelapnya dunia yang terus berubah.
Santri bukan status sementara. Ia adalah identitas seumur hidup. Tak ada "alumni santri" karena santri adalah proses yang tak pernah usai. Ia adalah tekad untuk terus belajar, untuk terus mengabdi, dan untuk terus menanam kebaikan—tanpa pamrih, tanpa henti. [*]
Dr. Tantan Hermansah
Anggota Dewan Tafkir PP Persatuan Islam (Persis) & Dosen Ilmu Sosiologi Perkotaan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah & Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.
Anggota Dewan Tafkir PP Persatuan Islam (Persis) & Dosen Ilmu Sosiologi Perkotaan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah & Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya