Dark/Light Mode

Refleksi Hakikat Pendidikan dalam Arus Modernisasi dan Kompetisi Global

Senin, 27 Oktober 2025 22:24 WIB
Sejumlah siswa mengunjungi museum di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/10/2024). (Foto: Tedy O Kroen/RM)
Sejumlah siswa mengunjungi museum di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/10/2024). (Foto: Tedy O Kroen/RM)

Hakikat pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia, membentuk individu agar mampu berpikir, merasa, dan bertindak secara utuh. Namun, di tengah arus modernisasi dan kompetisi global, makna hakiki ini perlahan bergeser. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai perjalanan pembentukan karakter dan kesadaran moral, tetapi sebagai arena kompetisi untuk mencapai status sosial dan pengakuan intelektual.

Di banyak ruang belajar di Indonesia, keberhasilan sering diukur melalui nilai rapor, hasil ujian, dan prestasi akademik, sementara empati, kejujuran, dan tanggung jawab sosial semakin tersisih. Fenomena ini menandakan adanya disorientasi tujuan pendidikan: dari “menjadi manusia baik” bergeser menjadi “manusia yang menang”. Padahal, hakikat pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat.

Riset Harvard Study of Adult Development selama lebih dari tujuh dekade (Vaillant & Waldinger, 2012) menegaskan bahwa kebahagiaan dan keberhasilan hidup tidak ditentukan oleh kecerdasan atau kekayaan, melainkan oleh kualitas hubungan dan empati antar manusia. Temuan ini menjadi cermin bagi sistem pendidikan Indonesia yang masih menempatkan kecerdasan kognitif sebagai puncak pencapaian.

Survei OECD PISA 2022 menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen siswa Indonesia mengalami kecemasan tinggi terhadap ujian dan takut mengecewakan orang tua, sementara Survei Karakter Nasional Kemendikbudristek 2022 menemukan rendahnya empati dan kepedulian sosial di kalangan pelajar. Fakta ini memperlihatkan bahwa pendidikan nasional kita masih berfokus pada “kehebatan” tetapi belum sepenuhnya menumbuhkan “kemanusiaan”. Dengan demikian, refleksi atas hakikat pendidikan menjadi kebutuhan mendesak agar arah pendidikan kembali berpijak pada nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Baca juga : BRI Peduli Salurkan Perahu Literasi Dorong Peningkatan Pendidikan Di Pesisir Tolitoli

Hakikat pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan merupakan proses pembentukan manusia seutuhnya, berpikir kritis, berperilaku etis, dan berjiwa sosial. UNESCO (2021) dalam laporan Reimagining Our Futures Together menegaskan empat pilar utama pendidikan abad ke-21: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Empat pilar ini menunjukkan bahwa kecerdasan dan nilai tidak dapat dipisahkan.

Pendidikan yang menumbuhkan hanya aspek intelektual tanpa kesadaran diri akan melahirkan manusia cerdas tetapi kehilangan arah moral. Sebaliknya, pendidikan yang hanya menekankan nilai tanpa kemampuan berpikir kritis akan menghasilkan pribadi baik tetapi tidak tangguh menghadapi kompleksitas zaman. Maka, pendidikan yang sejati adalah yang mampu menyandingkan hebat dan empati, akal dan hati, dalam satu kesatuan yang harmonis.

Dalam konteks pendidikan Indonesia, modernisasi menghadirkan kemajuan teknologi dan akses informasi, tetapi juga melahirkan tantangan baru. Digitalisasi pembelajaran sering menumbuhkan budaya instan dan kompetisi tanpa makna. Banyak siswa mahir mengoperasikan perangkat digital dan menyelesaikan soal dengan cepat, namun lemah dalam komunikasi empatik dan kerja sama sosial. Padahal, di era kecerdasan buatan (AI), keunggulan manusia bukan terletak pada kemampuan komputasi, melainkan pada kepekaan moral dan empati sosial.

McKinsey Global Institute (2020) memprediksi bahwa lebih dari 40 persen pekerjaan masa depan akan membutuhkan keterampilan sosial-emosional seperti kemampuan berkolaborasi, mendengarkan, dan memahami orang lain. Fakta ini mengingatkan kita bahwa hakikat pendidikan di era modern bukan hanya menyiapkan manusia untuk bekerja, tetapi juga untuk hidup bersama secara bermartabat.

Baca juga : Apresiasi Wartawan, Muzani: Bantu MPR dalam Menjalankan Tugas Konstitusional

Pendidikan yang berakar pada hakikat kemanusiaan harus berorientasi pada pembentukan karakter melalui keteladanan dan pengalaman hidup nyata. Anak tidak belajar empati dari teori moral, tetapi dari pengalaman melihat gurunya bersikap adil, orang tuanya berperilaku jujur, dan masyarakatnya menghargai perbedaan. Hal ini sejalan dengan pandangan Paulo Freire (1998) bahwa pendidikan sejati adalah proses pembebasan manusia dari ketidaksadaran moral dan sosial. Di sekolah, guru bukan hanya penyampai materi, tetapi juga penuntun nilai. Di rumah, orang tua bukan sekadar pengawas belajar, tetapi juga cermin perilaku. Pendidikan yang memanusiakan manusia tumbuh dari sinergi antara keteladanan, refleksi, dan pengalaman sosial.

Dalam refleksi hakikat pendidikan, penting untuk menimbang kembali keseimbangan antara kemampuan kognitif dan pembentukan nilai. Kehebatan tanpa empati berpotensi melahirkan individu yang cerdas namun abai terhadap keadilan sosial, sementara empati tanpa kecerdasan menjadikan individu baik hati tetapi tidak berdaya menghadapi tantangan zaman.

Oleh karena itu, sistem pendidikan Indonesia perlu menegakkan kembali prinsip keseimbangan ini melalui kebijakan yang terukur. Kurikulum Merdeka dengan program Profil Pelajar Pancasila merupakan langkah maju karena menempatkan nilai gotong royong, kemandirian, nalar kritis, dan akhlak mulia sebagai pilar utama. Namun, implementasinya masih perlu penguatan agar tidak berhenti pada slogan administratif, melainkan menjadi kultur yang hidup dalam praktik pembelajaran.

Untuk mewujudkan hakikat pendidikan di tengah arus modernisasi, dibutuhkan strategi integratif antara pembelajaran akademik dan pembentukan karakter. Pertama, sekolah perlu mengembangkan model project-based learning yang menggabungkan pengetahuan dengan aksi sosial nyata, misalnya proyek kepedulian lingkungan atau kegiatan kolaboratif lintas budaya. Kedua, guru perlu memperoleh pelatihan dalam pedagogi humanistik dan kecerdasan emosional agar mampu membimbing siswa secara utuh, tidak hanya secara intelektual. Ketiga, sistem evaluasi pendidikan harus menilai keseimbangan antara capaian akademik dan dimensi karakter, bukan semata-mata angka kognitif. Keempat, keluarga serta masyarakat harus menjadi ekosistem pendidikan moral yang konsisten, karena pembelajaran tentang kemanusiaan dimulai dari teladan sehari-hari.

Baca juga : Refleksi HSN 2025: Santri Penjaga Iman dan Ke-Indonesiaan di Tengah Globalisasi

Refleksi atas hakikat pendidikan di era modern membawa kita pada kesadaran bahwa tugas utama pendidikan bukan mencetak manusia sempurna, tetapi menemani manusia menjadi dirinya yang terbaik. Pendidikan yang sejati tidak hanya menyiapkan anak untuk menghadapi ujian, tetapi untuk menghadapi kehidupan. Ia menumbuhkan keberanian berpikir sekaligus kehalusan budi.

Dalam dunia yang semakin rasional dan mekanistik, pendidikan harus menjadi ruang untuk mengembalikan makna kemanusiaan yang hilang. Hakikat pendidikan, sebagaimana digagas para pendiri bangsa, adalah mencerdaskan kehidupan sekaligus memuliakan martabat manusia. Karena itu, di tengah derasnya arus modernisasi dan kompetisi global, pendidikan Indonesia perlu terus diingatkan pada jati dirinya: bahwa manusia yang berilmu tanpa nurani adalah kehampaan, dan bangsa yang berpendidikan tanpa kemanusiaan adalah kehilangan arah.

Fahri Faturohman,M.Pd
Fahri Faturohman,M.Pd
Mahasiswa Pascasarjana IAI PERSIS Bandung

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.