Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Orasi Guru Besar UMJ
Prof. Sri Yunanto Tegaskan, Soft Power sebagai Fondasi Indonesia Emas 2045
Selasa, 13 Januari 2026 19:02 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia memiliki peluang besar menjadi negara maju dan berpengaruh saat memasuki usia satu abad kemerdekaan pada 2045. Namun, peluang tersebut tidak cukup hanya ditopang kekayaan sumber daya alam dan besarnya jumlah penduduk. Kekuatan nilai, budaya, demokrasi, serta kualitas kebijakan publik atau soft power harus menjadi fondasi utama pembangunan nasional.
Pandangan tersebut disampaikan Guru Besar Ilmu Politik dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Prof. Sri Yunanto, dalam Orasi Ilmiah pada acara pengukuhan dirinya, di Kampus UMJ, Ciputat, Selasa (13/1/2026).
Dalam orasi bertajuk Refleksi Indonesia Emas 2045 dari Perspektif Politik dan Kekuatan Lunak Negara, Yunanto menegaskan Indonesia berada di persimpangan sejarah. Di satu sisi memiliki modal besar untuk melompat menjadi negara maju, namun di sisi lain masih dibayangi berbagai persoalan struktural.
“Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang menjadi soal adalah bagaimana potensi itu dikelola. Di sinilah peran soft power menjadi sangat penting,” kata Yunanto, di hadapan sivitas akademika UMJ.
Ia mengawali orasi dengan refleksi historis dan spiritual, mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18 tentang pentingnya menyiapkan masa depan dengan belajar dari masa lalu. Menurutnya, pesan tersebut relevan bagi Indonesia yang tengah menatap usia 100 tahun kemerdekaan.
“Masa depan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarahnya. Visi Indonesia Emas 2045 harus dibangun di atas refleksi yang jujur atas capaian dan kegagalan bangsa ini,” ujarnya.
Yunanto menjelaskan, Pemerintah telah menetapkan visi Indonesia Emas 2045 sebagai negara maju, modern, berdaulat, berkeadilan, dan berpengaruh di dunia internasional. Visi ini mencakup pembangunan manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerataan ekonomi, serta ketahanan nasional.
Baca juga : Menpora Genjot Semangat Atlet Indonesia di SEA Games 2025
Optimisme tersebut, lanjut Yunanto, diperkuat proyeksi ekonomi global. Goldman Sachs Global Economics Paper memprediksi Indonesia akan masuk tujuh besar kekuatan ekonomi dunia pada 2045, sejajar dengan Amerika Serikat, China, India, Jepang, Jerman, dan Inggris.
“Optimisme ini bukan sekadar mimpi. Indonesia memiliki dasar objektif untuk mencapainya, asalkan dikelola dengan strategi yang tepat,” katanya.
Menurut Yunanto, terdapat dua modal utama Indonesia menuju 2045, yakni sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA). Dari sisi demografi, Indonesia memiliki sekitar 286 juta penduduk dan menempati peringkat keempat dunia. Pada 2035, Indonesia diperkirakan memasuki puncak bonus demografi.
“Bonus demografi bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bisa menjadi beban jika tidak diiringi peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja,” tegasnya.
Dari sisi SDA, Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar dunia, produksi batu bara dan timah yang signifikan, hutan tropis yang luas, serta potensi kelautan yang diperkirakan bernilai hingga 1,5 triliun dolar Amerika Serikat per tahun.
“Kekayaan alam ini bukan hanya kekuatan ekonomi, tetapi juga dapat diolah menjadi soft power untuk menarik kerja sama internasional dan investasi,” ujarnya.
Namun demikian, Yunanto mengingatkan masih terdapat kesenjangan besar antara kondisi saat ini dan target Indonesia Emas 2045 sebagaimana indikator Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Target tersebut antara lain kemiskinan nol persen, pendapatan per kapita 23.000–30.300 dolar Amerika Serikat (AS) per tahun, peningkatan daya saing SDM, serta penurunan emisi gas rumah kaca lebih dari 50 persen.
Baca juga : Guru Besar FTUI Prof. Yulianto Sulistyo Nugroho Raih Sutami Award 2025
“Saat ini, angka kemiskinan masih sekitar 8,5 persen dan pendapatan per kapita sekitar 5.200 dolar AS. Ini menunjukkan tantangan kita sangat besar,” kata Yunanto.
Dalam perspektif politik internasional, Yunanto merujuk teori soft power dari Joseph S. Nye, yang menekankan bahwa kekuatan negara tidak hanya diukur dari militer dan ekonomi, tetapi juga kemampuan menarik dan memengaruhi pihak lain melalui nilai dan kebijakan.
“Soft power adalah kemampuan membuat pihak lain menginginkan apa yang kita inginkan, bukan karena takut, tetapi karena tertarik,” ujarnya.
Ia menilai, Indonesia memiliki rekam jejak panjang soft power. Mulai dari peran dalam Konferensi Asia Afrika 1955, stabilitas dan pluralisme di era Orde Baru, hingga demokratisasi dan moderasi beragama di era Reformasi.
“Nilai-nilai ini membuat Indonesia dipercaya sebagai mediator konflik dan aktor regional yang moderat. Ini aset soft power yang sangat berharga,” katanya.
Yunanto menegaskan, tantangan abad ke-21 menuntut strategi soft power yang lebih adaptif. Globalisasi, disrupsi teknologi, krisis iklim, dan kompetisi geopolitik menjadikan kualitas kebijakan publik sebagai faktor kunci.
“Negara dengan kebijakan publik yang buruk akan kehilangan daya tarik, meskipun memiliki sumber daya besar,” tegasnya.
Baca juga : Tim Ekonom BSI: Program Prioritas Pemerintah Perkuat Fondasi Ekonomi Di 2026
Ia menilai Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 telah berada di jalur yang tepat, namun tantangan terbesar terletak pada implementasi.
“Rencana sebesar apa pun tidak bermakna jika tidak mampu menjawab persoalan riil masyarakat,” ujarnya.
Menutup orasinya, Yunanto menyatakan optimistis Indonesia mampu mencapai Indonesia Emas 2045 jika soft power dikelola secara konsisten dan inklusif.
“Dengan mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa dan memperkuat kualitas kebijakan publik, Indonesia tidak hanya bisa menjadi negara maju, tetapi juga bangsa besar yang dihormati dunia,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya