Dark/Light Mode

Mahasiswa Prodi Sejarah STKIP Payakumbuh Bedah Arsitektur Candi Kedaton Jambi

Jumat, 1 Mei 2026 10:30 WIB
Pamong budaya BPK Wilayah Jambi bersama mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah di komplek Candi Kedaton, Muaro Jambi. (Foto: Ist)
Pamong budaya BPK Wilayah Jambi bersama mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah di komplek Candi Kedaton, Muaro Jambi. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebanyak 19 mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh melakukan kunjungan studi ke Candi Kedaton di kompleks Muaro Jambi, Selasa (28/4/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari kuliah lapangan untuk mendalami sejarah dan arkeologi kerajaan Hindu-Buddha di Sumatera secara langsung.

Kunjungan ini didampingi oleh tiga dosen pembimbing serta peneliti dari Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PR-KKP) BRIN, Zusneli Zubir. Kehadiran pihak BRIN tersebut merupakan implementasi kerja sama yang telah terjalin dengan STKIP Payakumbuh sejak September 2025.

"Tujuan kuliah lapangan ini adalah memberikan penjelasan mendalam mengenai sejarah dan arkeologi candi. Mahasiswa diajak mengobservasi langsung metode konstruksi kuno dan menghubungkannya dengan literatur sejarah," ujar Ketua Rombongan sekaligus dosen pengampu mata kuliah Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha, Dedi Asmara.

Baca juga : PSM Waspadai Ketajaman Bali United di Kandang

Kepala Balai Pelestarian Wilayah Jambi, Yanto H.M. Manurung, dalam sambutannya saat melepas rombongan menyatakan bahwa pengalaman field study sangat krusial bagi mahasiswa sejarah. Menurutnya, Candi Kedaton adalah situs kunci untuk memahami peradaban Kerajaan Melayu pada abad ke-7.

Menelusuri Jejak Arkeologi

Di lokasi situs, arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jambi, Novie Hari Putranto, menjelaskan bahwa kompleks ini pertama kali ditemukan oleh perwira Inggris, S.C. Crooke, pada tahun 1824 saat pemetaan Sungai Batanghari.

Struktur batu bata merah di Candi Kedaton mencerminkan teknik konstruksi dan tata ruang sakral yang maju pada masanya. Dosen pendamping lainnya, Fikrul Hanif Sufyan, menambahkan bahwa situs ini memberikan wawasan tentang sistem tata kota kuno dan hierarki sosial kerajaan Melayu.

Baca juga : Hulu Migas Dorong Ekonomi Daerah, PetroChina Berkontribusi Besar di Jambi

"Candi Kedaton memiliki nilai edukatif tinggi, khususnya dalam memahami ritual keagamaan dan estetika arsitektur tradisional Nusantara," kata Fikrul.

Penguatan Literasi Sejarah

Kaprodi Pendidikan Sejarah STKIP Payakumbuh, Nahdatul Hazmi, berharap kegiatan ini dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai warisan budaya lokal serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya konservasi.

Rombongan yang berangkat dari Payakumbuh sejak 27 April ini dijadwalkan melakukan serangkaian pengamatan fisik dan diskusi materi di area situs. Selain menambah wawasan akademik, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan apresiasi mahasiswa terhadap kekayaan sejarah nasional yang diakui dunia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.