Dark/Light Mode

Bunga The Fed Naik, BOJ Menyusul

BI Masih Punya Ruang Bernapas

Sabtu, 19 September 2026 07:50 WIB
Gedung Federal Reserve. (Foto: Instagram)
Gedung Federal Reserve. (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) dan Jepang mulai mengetatkan kebijakan moneternya. The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan, lalu menyusul Bank of Japan (BOJ) juga menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun. Meski berpotensi memicu tekanan pada pasar keuangan global, Bank Indonesia (BI) dinilai masih memiliki ruang untuk menahan suku bunga acuannya.

The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4 persen dalam pertemuan pada Rabu (16/9/2026). Kenaikan ini merupakan yang pertama sejak Juli 2023. Langkah The Fed tersebut langsung memengaruhi pasar keuangan global. Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang Asia, termasuk rupiah. Pada perdagangan Kamis (17/9/2026), dolar AS berada di level Rp 17.753, menguat 0,32 persen terhadap rupiah.

The Fed juga masih membuka peluang menaikkan suku bunga kembali hingga akhir tahun. Karena itu, pasar masih mencermati arah kebijakan bank sentral AS, terutama terhadap kemungkinan berlangsungnya era suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Di Jepang, BOJ pada Jumat (18/9/2026) menaikkan suku bunga acuannya 25 bps menjadi 1,25 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam 31 tahun atau sejak 1995. Keputusan itu diambil dengan suara 7-2.

Kenaikan suku bunga BOJ semakin menjauhkan Jepang dari era suku bunga ultra-rendah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Sebelumnya, perbedaan tingkat suku bunga AS dan Jepang menjadi salah satu faktor yang menekan yen terhadap dolar AS dan meningkatkan biaya impor Jepang. Perubahan arah kebijakan dua bank sentral utama dunia tersebut turut menjadi perhatian bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, karena berpotensi memengaruhi arus modal, nilai tukar dan volatilitas pasar keuangan.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pengaruh The Fed terhadap Indonesia masih jauh lebih besar dibandingkan BOJ. Sebab, dolar AS merupakan mata uang utama dalam perdagangan, pembiayaan, cadangan devisa dan penilaian aset global.

Menurutnya, kenaikan suku bunga AS meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar sekaligus menjaga imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi. Kondisi ini dapat membuat investor meminta imbal hasil lebih besar ketika menempatkan dana di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca juga : Muncul Ke Publik Pasca Kantornya Digeledah KPK, Nusron Hormati Proses Hukum

Sementara itu, kenaikan bunga BOJ memberikan risiko melalui perubahan alokasi portofolio global. Selama bertahun-tahun, suku bunga Jepang yang sangat rendah membuat yen menjadi salah satu sumber pendanaan murah bagi investor global.

Ketika bunga Jepang naik, biaya pendanaan tersebut ikut meningkat. Sebagian investor berpotensi mengurangi posisi pada aset berimbal hasil tinggi di luar Jepang dan mengembalikan dananya ke Jepang apabila imbal hasil aset domestik Jepang semakin menarik.

“Jadi, dampak BOJ terhadap Indonesia lebih banyak melalui perubahan alokasi portofolio global dan kenaikan biaya pendanaan, bukan hubungan perdagangan langsung semata,” ujar Josua saat dikontak Rakyat Merdeka, Jumat (18/9/2026).

Meski demikian, Josua menilai kombinasi kenaikan bunga The Fed dan BOJ tidak serta-merta akan menimbulkan tekanan tajam terhadap rupiah. Sebab, langkah tersebut sudah cukup diperkirakan pasar.

Ia mencontohkan, setelah BOJ menaikkan bunga menjadi 1,25 persen, yen justru melemah ke sekitar 157 per dolar AS. Menurutnya, hal itu menunjukkan pasar lebih memperhatikan sinyal kebijakan lanjutan dibandingkan besaran kenaikan bunga semata.

“Yang lebih menentukan rupiah ke depan adalah apakah ini merupakan kenaikan yang terbatas atau awal dari rangkaian kenaikan tambahan,” katanya.

Josua menambahkan, Indonesia masih memiliki sejumlah bantalan untuk menghadapi tekanan eksternal. Cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 tercatat 146,5 miliar dolar AS, sementara inflasi Agustus sebesar 3,19 persen masih berada dalam sasaran.

Namun, ia mengingatkan, kerentanan tetap ada. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 meningkat menjadi sekitar 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca juga : Masih Ditahan Di KPK, Febrie Segera Diadili

“Jadi, saya melihat arah risikonya tetap menambah tekanan terhadap rupiah dan SBN, tetapi besarnya sangat bergantung pada kelanjutan kenaikan bunga AS dan Jepang, harga minyak, serta arus modal global,” ujarnya.

Terkait kebijakan Bank Indonesia (BI), Josua mengatakan, perubahan arah kebijakan The Fed dan BOJ memang mempersempit ruang BI untuk melonggarkan kebijakan. Namun, BI tidak harus mengikuti setiap kenaikan suku bunga bank sentral negara lain secara otomatis.

Menurutnya, keputusan BI tetap harus mempertimbangkan kondisi rupiah, inflasi, arus modal, permintaan domestik dan stabilitas sistem keuangan.

Josua menilai, BI sebenarnya sudah melakukan penyesuaian lebih awal dengan menaikkan BI-Rate secara kumulatif 100 bps selama Mei-Juni 2026. Dengan BI-Rate saat ini 5,75 persen, BI masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga sembari mencermati perkembangan global.

“Prioritas pertama BI menurut saya tetap stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi, bukan buru-buru menaikkan suku bunga hanya karena bank sentral lain menaikkan bunga,” tegasnya.

Selain suku bunga, BI masih memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan, antara lain intervensi valuta asing, pengelolaan suku bunga pasar uang, instrumen moneter, pengaturan likuiditas serta insentif untuk menarik dan mempertahankan aliran valuta asing.

Josua menilai, jika tekanan terhadap rupiah hanya sementara, arus modal masih terkendali dan inflasi tidak meningkat signifikan, BI masih dapat mempertahankan suku bunga sambil menggunakan instrumen stabilisasi. Namun, apabila pelemahan rupiah berlangsung terus-menerus, arus keluar modal meluas, premi risiko Surat Berharga Negara (SBN) meningkat dan tekanan nilai tukar mulai masuk ke harga barang domestik, kenaikan BI-Rate dapat semakin dipertimbangkan.

Dari sisi masyarakat dan dunia usaha, Josua mengatakan, dampak perubahan kebijakan moneter global dapat terasa melalui biaya pendanaan. Jika biaya pendanaan global meningkat dan rupiah tertekan, bank dapat menghadapi persaingan yang lebih kuat untuk memperoleh dana pihak ketiga. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya dana dan pada akhirnya memengaruhi bunga kredit.

Baca juga : Pemberian Pihak Swasta, 2 Mobil Anggota DPRD Bengkulu Didalami KPK

Sementara bagi rumah tangga, risiko utamanya adalah bunga kredit rumah, kendaraan dan konsumsi yang bertahan tinggi lebih lama. Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan harga barang impor dan bahan baku yang kemudian berpotensi diteruskan kepada konsumen.

Meski begitu, Josua menilai, kondisi likuiditas perbankan Indonesia masih memadai. Karena itu, tantangan utamanya bukan persoalan kekurangan dana di perbankan, melainkan bagaimana menjaga agar pembiayaan tetap berjalan ketika biaya modal global meningkat.

“Secara keseluruhan, saya melihat kombinasi kenaikan The Fed dan BOJ sebagai penambahan tekanan eksternal, tetapi bukan guncangan yang tidak dapat dikelola Indonesia,” tuntasnya.

Senada disampaikan Ekonom Senior UOB Enrico Tanuwidjaja. Dia menilai, dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap Indonesia relatif terbatas karena kebijakan tersebut sudah cukup diantisipasi pasar. “Karena sudah cukup diantisipasi maka dampaknya minimal,” ujar Enrico saat dikontak Rakyat Merdeka, Jumat (18/9/2026).

Menurut Enrico, BI juga telah mengambil langkah secara pre-emptive dengan menaikkan suku bunga acuan terlebih dahulu. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi BI untuk menahan suku bunga untuk sementara waktu.

“Bank Indonesia telah secara pre-emptive menaikkan suku bunga acuan terlebih dahulu. Oleh karena itu ada window untuk menahan suku bunga sementara waktu. Tapi BI masih memiliki ruang gerak untuk menaikkan suku bunga acuan apabila diperlukan,” katanya.

Meski dampak langsung dinilai minimal, Enrico mengingatkan volatilitas pasar masih meningkat. Pergerakan rupiah, arus modal dan pasar keuangan domestik tetap perlu dicermati seiring perubahan arah kebijakan moneter global. [BCG]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.