Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Yuskar: Teknologi Rumah Omo Hada Nias Solusi Inklusif Hadapi Gempa
Kamis, 7 Mei 2026 17:18 WIB
RM.id Rakyat Merdeka -
Prof. Dr. Ir. Yuskar Lase, DEA, Guru Besar Tetap Universitas Indonesia (UI) menegaskan gempa bumi adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya terhadap bangunan buatan manusia adalah pilihan. Karena itulah, perlunya perubahan paradigma dari pendekatan fixed base menuju sliding base. Menurutnya, sistem ini bukan sekadar inovasi teknis, melainkan bentuk rekonsiliasi antara rekayasa modern dan dinamika alam.
Dalam pengukuhan profesor Fakultas Teknik (FTUI) dalam bidang Ilmu Teknologi Rekayasa Konstruksi Bangunan Gedung di Makara Art Center, Kampus UI Depok, Prof. Yuskar menyampaikan pidato berjudul berjudul Struktur Resilien: Transformasi Teknologi Sliding Base dalam Menyongsong Masa Depan Konstruksi Bangunan Nusantara. Pengukuhan itu dipimpin langsung oleh Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU.
Menurutnya, sistem ini bukan sekadar inovasi teknis, melainkan bentuk rekonsiliasi antara rekayasa modern dan dinamika alam.
Baca juga : Program Presiden Renovasi 21 Ribu Rumah Di Papua Dimulai, Ara: Ini Gerakan Besar
“Alih-alih melawan gempa, kita harus belajar berinteraksi dengannya. Sliding base adalah cara pandang baru yang membuat bangunan tidak hanya bertahan, tetapi beradaptasi bahkan menari bersama gempa,” jelas peneliti kelahiran Landatar, tahun 1961 tersebut.
Penelitian Prof. Yuskar berangkat dari latar belakang bahwa Indonesia sebagai negara di jalur Cincin Api (Ring of Fire) menghadapi risiko kegempaan mematikan yang berulang, mulai dari Sumatra (1833), Aceh (2004), hingga Cianjur (2022). Bangunan non-engineered, bertingkat rendah, dan menengah-bawah terbukti paling rentan. Ironisnya, filosofi konstruksi bangunan Nusantara saat ini masih didominasi pendekatan fixed base, dengan struktur bangunan dirancang untuk menahan dan melawan energi gempa. Penerapan pendekatan ini pada bangunan non- engineered, bertingkat rendah, dan menengah-bawah, terbukti secara empiris dan teoritis paling rentan menghadapi daya rusak gempa bumi.
Prof. Yuskar menekankan bahwa solusi inklusif diperlukan agar konstruksi Nusantara mampu menghadapi ancaman ini dengan resiliensi adaptabilitas. Ia menyoroti bahwa dampak gempa bukan hanya soal magnitudo, melainkan juga pilihan desain dan perencanaan.
“Paradoks pembangunan kita adalah membangun hutan beton di atas patahan aktif. Itulah sebabnya kita harus berani mengubah paradigma konstruksi,” tambahnya.
Baca juga : Bus Sekolah di Pakpak Bharat: Solusi Jarak Jauh di Kaki Bukit Barisan
Prof. Yuskar mengangkat rumah adat asal tanah kelahirannya, Pulau Nias, yakni Omo Hada, sebagai referensi penting. Omo Hada menggunakan sistem struktur fleksibel dengan tumpuan batu, sambungan semi-rigid, dan bresing (bracing) diagonal, yang memungkinkan disipasi energi gempa melalui gesekan dan deformasi terkendali.
Ketahanan Omo Hada lintas generasi membuktikan bahwa prinsip adaptasi telah lama menjadi bagian dari DNA masyarakat Nusantara. Kajian pascagempa Nias 2005 mencatat bahwa rumah Omo Hada hanya bergeser ±10 cm tanpa kerusakan berarti, meski diguncang gempa dengan skala magnitudo momen (Mw) sebesar 8,6. Fakta ini menunjukkan bahwa resiliensi bukanlah barang impor dari Barat, melainkan warisan lokal yang terus relevan hingga kini.
Teknologi modern seperti Double Concave Friction Pendulum (DCFP) menjadi elaborasi dari prinsip Omo Hada. Sistem ini memungkinkan bangunan bergerak relatif terhadap tanah, mereduksi respons struktur, sekaligus memiliki kemampuan self-centering. Penelitian Prof. Yuskar pada bangunan data center menunjukkan efektivitas sistem ini dalam mengendalikan tingkat kerusakan struktur serta peralatan data center yang memiliki nilai ekonomi yang sangat signifikan bahkan melebihi nilai ekonomi struktur gedungnya. Dengan transformasi paradigma dari fixed base ke sliding base, konstruksi bangunan Nusantara dapat lebih adaptif, efisien, dan inklusif.
Prof. Yuskar lahir di Landatar, Nias, pada 8 Juni 1961. Ia menempuh pendidikan S1 Teknik Sipil di UI (1986), S2 dan S3 dalam bidang Dinamika Struktur di Ecole Centrale de Lyon, Prancis (1988, 1992), serta Program Profesi Insinyur di ITB (2022). Sejak tahun 1987, ia mengabdikan diri sebagai dosen di FTUI, dan kini tengah menjabat sebagai anggota Senat Akademik UI. Ia juga menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya 10, 20, dan 30 tahun atas pengabdian panjangnya.
Baca juga : Belajar di Perpusnas, 637 Siswa Sekolah Rakyat Rasakan Literasi Inklusif dan Bermakna
Prof. Yuskar dalam perjalanan risetnya meneliti perkuatan sambungan spun pile dengan steel jacket, kualitas beton, serta koneksi pile cap. Ia juga memiliki paten terkait alat perkuatan sambungan spun pile – pile cap dengan steel jacket dan metode pemasangannya. Publikasi internasionalnya menyoroti peningkatan kekuatan dan daktilitas struktur, serta degradasi kualitas beton terhadap kebutuhan perkuatan. Penelitiannya terus konsisten dengan berfokus pada peningkatan ketahanan struktur terhadap beban gempa, dengan orientasi pada bangunan yang memiliki nilai ekonomi dan sosial tinggi.
Pengukuhan Prof. Yuskar menegaskan peran UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang senantiasa melahirkan pakar terbaik bagi bangsa. Dengan kiprahnya, UI memperkuat posisi sebagai pusat keilmuan yang menghadirkan solusi nyata bagi tantangan kegempaan di Indonesia. Sosok Prof. Yuskar dapat menjadi teladan dalam mengintegrasikan kearifan lokal dan inovasi modern, menjadikan konstruksi bangunan Nusantara lebih resilien dan berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya