Dark/Light Mode

Bunga vs Bagi Hasil: Mana Pilihanmu?

Selasa, 30 Juni 2026 21:09 WIB
Ilustrasi Bank Syariah Vs Bank Konvensional (Sumber: pinterest.com)
Ilustrasi Bank Syariah Vs Bank Konvensional (Sumber: pinterest.com)

Saat kita ingin menabung di bank, mencicil rumah, atau mulai berinvestasi, kita pasti akan sering mendengar istilah bunga dan bagi hasil. Dua sistem ini berasal dari dunia perbankan yang berbeda, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Bagi orang awam, perbedaan keduanya mungkin dianggap hanya sebatas istilah di atas kertas atau sekadar permainan kata. Ada yang berpikir bahwa bunga dan bagi hasil itu sama saja karena ujung-ujungnya sama-sama memberikan keuntungan uang.

Padahal, jika kita melihat lebih dalam, kedua sistem ini berjalan di atas jalan yang sangat berbeda, mulai dari cara pandang terhadap uang, cara menghitung keuntungan, hingga cara menghadapi risiko kerugian. Memahami perbedaan ini dengan cara yang sederhana akan sangat membantu Anda agar tidak salah pilih dalam mengatur keuangan keluarga atau bisnis di masa depan.

Bagaimana Kedua Sistem Memandang Arti dan Fungsi Uang?

Mari kita mulai dari hal yang paling mendasar, yaitu cara kedua sistem ini memandang arti dari uang itu sendiri. Dalam sistem bunga yang digunakan oleh bank konvensional, uang dianggap sebagai sebuah barang atau komoditas yang bisa diperjualbelikan demi mencetak keuntungan. Mereka memakai prinsip bahwa uang waktu itu berharga, atau yang sering disebut time value of money. Artinya, jika Anda meminjamkan uang sekarang, Anda berhak meminta uang lebih di masa depan sebagai imbalan atas waktu yang berjalan. Kelebihan uang itulah yang kita sebut sebagai bunga.

Sementara itu, sistem bagi hasil dalam bank syariah memiliki sudut pandang yang sangat berbeda. Bagi mereka, uang hanyalah alat tukar resmi untuk membeli barang atau jasa, bukan barang yang bisa dijualbelikan untuk mencari untung secara mandiri. Uang tidak akan bisa beranak-pinak jika hanya disimpan atau dipinjamkan begitu saja tanpa ada usaha nyata. Keuntungan baru dianggap sah dan adil jika uang tersebut diputar ke dalam bisnis riil, seperti berdagang, membangun proyek, atau membuka toko.

Bagaimana Cara Menghitung Keuntungan yang Anda Terima?

Baca juga : KPK Dalami Dugaan Intervensi Hasil Audit Pemkab Muara Enim

Perbedaan cara pandang ini otomatis membuat cara menghitung keuntungan di antara kedua sistem menjadi sangat kontras. Pada sistem bunga, keuntungan atau biaya pinjaman dihitung berdasarkan persentase tetap dari total modal awal. Angka persentase ini sudah dikunci sejak awal perjanjian dibuat. Keuntungan dengan sistem bunga ini sifatnya sangat pasti dan tidak peduli dengan kondisi apa pun yang terjadi di lapangan. Mau usaha Anda sedang sepi atau sedang sangat ramai, jumlah bunga yang harus dibayar atau yang akan diterima nilainya akan selalu sama setiap bulannya.

Sebaliknya, sistem bagi hasil tidak menggunakan persentase modal, melainkan menggunakan rasio pembagian keuntungan yang disebut dengan istilah nisbah. Misalnya, Anda dan pihak bank sepakat dengan nisbah 60:40, yang berarti 60 persen keuntungan untuk Anda dan 40 persen untuk bank. Karena dihitung dari keuntungan bersih usaha, maka uang yang Anda terima setiap bulannya akan berubah-ubah alias fluktuatif, mengikuti naik turunnya performa bisnis yang sedang dijalankan.

Siapa yang Menanggung Risiko Jika Bisnis Mengalami Kerugian?

Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah masalah pembagian risiko jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam hidup ini, tidak ada bisnis atau investasi yang seratus persen aman tanpa risiko. Namun, cara kedua sistem ini membagi beban risiko sangatlah bertolak belakang.

Pada sistem bunga, risiko finansial hampir seluruhnya dilemparkan kepada satu pihak, biasanya kepada si peminjam modal. Bayangkan jika Anda meminjam uang ke bank konvensional untuk membuka restoran, lalu restoran tersebut sepi dan terpaksa tutup. Pihak bank konvensional tidak mau tahu dengan kegagalan bisnis tersebut; Anda tetap wajib membayar cicilan pokok beserta bunganya sampai lunas tanpa ada potongan.

Baca juga : Haaland Vs Mbappe, Siapa Paling Gacor?

Di sisi lain, sistem bagi hasil berjalan dengan prinsip keadilan sosial yang sangat erat, yaitu sama-sama untung dan sama-sama rugi. Jika bisnis restoran tadi dijalankan dengan sistem syariah dan mengalami kerugian murni yang bukan karena kelalaian Anda, maka kerugian dana akan ditanggung bersama secara adil. Anda akan rugi waktu dan tenaga yang terkuras, sedangkan pihak bank atau pemilik modal akan merugi dari sisi materi atau finansial.

Plus dan Minus dari Masing-masing Sistem

Untuk membantu Anda menentukan pilihan, mari kita timbang kelebihan dan kekurangan dari masing-masing sistem secara objektif dan sederhana. Sistem bunga memiliki kelebihan utama pada sifatnya yang memberikan kepastian, stabilitas, dan kenyamanan karena semua serba bisa diprediksi secara matematis. Sistem ini sangat cocok untuk tipe orang yang tidak suka kejutan dan ingin tahu secara pasti berapa pengeluaran atau pemasukan mereka setiap bulan. Namun, kekurangannya adalah sistem ini terasa kurang adil bagi peminjam yang sedang kesulitan, dan jika suku bunga pasar mendadak naik, beban cicilan Anda juga bisa ikut membengkak.

Sementara itu, sistem bagi hasil memiliki kelebihan berupa rasa keadilan yang tinggi, keterbukaan antara kedua belah pihak, serta potensi keuntungan yang tidak terbatas jika bisnis yang didanai ternyata sukses besar. Bagi umat Muslim, sistem ini juga memberikan ketenangan jiwa karena terhindar dari praktik riba. Kekurangannya, pendapatan Anda tidak bisa ditebak secara pasti setiap bulannya, sehingga Anda harus lebih rajin memantau laporan keuangan.

Sistem Mana yang Paling Cocok untuk Karakter Anda?

Pada akhirnya, pilihan antara bunga atau bagi hasil kembali kepada kenyamanan, kebutuhan, dan nilai personal yang Anda pegang dalam hidup. Jika Anda adalah orang yang mengutamakan kepastian angka yang tetap, tidak mau repot memikirkan kondisi operasional bisnis, dan menyukai perencanaan keuangan yang kaku tapi terukur, maka sistem bunga konvensional mungkin menjadi pilihan yang paling praktis untuk Anda.

Baca juga : Harga dari Pilihan

Namun, jika Anda lebih mengutamakan nilai-nilai kemitraan yang adil, transparansi yang jujur, siap menerima fluktuasi hasil demi mengejar keberkahan dan keuntungan yang lebih besar secara gotong royong, maka sistem bagi hasil syariah adalah jalur yang paling tepat.

Apa pun pilihan Anda nanti, hal yang paling krusial adalah selalu membaca lembar kesepakatan dengan teliti, pahami seluruh hak dan kewajiban Anda sebagai nasabah, serta pastikan Anda selalu memilih lembaga keuangan resmi yang sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar keamanan dana Anda selalu terjamin.

Marshanda Triadi
Marshanda Triadi
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.