Dark/Light Mode

KKN Nusantara VI 2026: Cetak Cendekiawan Arif Lewat Laboratorium Kehidupan Suku Baduy

Jumat, 17 Juli 2026 13:31 WIB
Penyematan tanda peserta KKN Nusantara VI 2026 oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.(Foto: Dok. Kemenag)
Penyematan tanda peserta KKN Nusantara VI 2026 oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.(Foto: Dok. Kemenag)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah ancaman krisis iklim global dan degradasi lingkungan yang semakin masif, perguruan tinggi keagamaan mengambil langkah konkret untuk turun tangan. Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama (Kemenag) menyelenggarakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara VI Perguruan Tinggi Keagamaan Se-Indonesia Tahun 2026.

Mengusung tema "Merawat Ekoteologi, Menjaga Tradisi: Meneguhkan Iman, Melestarikan Alam", program berskala nasional ini mendapuk UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten sebagai tuan rumah. Rangkaian acara dibuka secara resmi oleh Menteri Agama (Menag), Prof. KH. Nasaruddin Umar, Rabu sore (15/7/2026) di Auditorium Gedung Rektorat UIN SMH Banten, yang ditandai dengan prosesi pemukulan bedug khas Banten.

Sehari berselang, Kamis pagi (16/7/2026), prosesi pelepasan dilaksanakan di Gedung PPG UIN SMH Banten. Ratusan delegasi KKN Nusantara ini secara serentak mulai bergerak menuju lokasi pengabdian yang dipusatkan di desa-desa sekitar Kecamatan Leuwidamar dan Cirinten, Kabupaten Lebak—wilayah yang beririsan langsung dengan kearifan lokal Suku Baduy.

Cendekiawan Arif, Bersahabat dengan Alam

Kehadiran Menag memberikan suntikan filosofis yang mendalam bagi para peserta. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa delegasi ini bukan sekadar anak biologis bangsa, melainkan "anak-anak spiritual" perguruan tinggi yang memikul beban ekspektasi tinggi dari masyarakat. Mengibaratkan kampus sebagai bahtera Nuh, mahasiswa adalah mereka yang diselamatkan oleh ilmu pengetahuan.

Prosesi pukul bedug sebagai tanda dimulainya KKN Nusantara VI 2026 oleh Menteri Agama

Dalam arahan ilmiahnya, Menag membedah hierarki keilmuan manusia. Ia membedakan antara ilmuwan (yang menguasai teori), intelektual (yang mempraktikkan teori), dan cendekiawan (yang ilmunya berdampak langsung pada masyarakat). Masyarakat, kata Menag, menuntut alumni PTK untuk menjadi cendekiawan sejati.

"Di perguruan tinggi umum, masyarakat mungkin hanya melihat 'undzur ma qala' (lihat apa yang dikatakan). Tetapi tuntutan untuk alumni UIN dan Perguruan Tinggi Keagamaan tidak cukup itu, masyarakat akan melihat 'undzur man qala' (siapa yang mengatakan). Ada muruah yang harus kita perhatikan. Jangan menjadi cendekiawan yang cerdas tapi egois menutup pintu dari lingkungannya," tegas Menag.

Baca juga : Andi Gani: May Day 2026 Cetak Sejarah, Berjalan Tertib dan Kondusif

Terkait tema ekoteologi, Menag mewanti-wanti mahasiswa untuk menanggalkan arogansi akademik setibanya di lokasi KKN. Masyarakat desa adalah laboratorium kehidupan tempat kearifan lokal telah teruji oleh waktu. Menag mengisahkan perbandingan antara ilmuwan modern yang gagal memanen kedelai unggulan karena mengabaikan kondisi alam, dengan kearifan petani tradisional yang mampu berdialog dengan tanah dan cuaca tanpa perlu peralatan laboratorium mewah.

"Orang tua kita dulu tidak pernah ditipu oleh alam karena mereka bersahabat dengan alam. Kalian nanti akan melihat ada jarak antara apa yang Anda ketahui di bangku kuliah sebagai kebenaran, dengan apa yang diamalkan masyarakat lokal. Jangan gampang menyalahkan orang lain. Kalian dituntut bukan hanya menjadi orang pintar, tapi harus menjadi orang arif," pesan Menag.

Sebagai panduan etis berbaur dengan masyarakat, Menag menitipkan delapan nilai karakter yang ia rangkum dalam akronim ISTIQAMAH, yakni: Ikhlas, Sabar, Tawaduk, Ihsan (menebar kebajikan), Qanaah (merasa cukup), Akhlak, Muruah (menjaga kepantasan diri), dan Al-haya' (memiliki rasa malu). Ia juga mencontohkan metode dakwah kultural Wali Songo yang merangkul tradisi—seperti penggunaan bedug—sebagai sarana harmoni tanpa harus membenturkan keyakinan.

Laboratorium Harmoni di Tanah Baduy

Menyambung amanat tersebut, Rektor UIN SMH Banten, Prof. Muhammad Ishom, dalam laporannya memaparkan kesiapan institusinya sebagai tuan rumah. Tahun ini, antusiasme pengabdian terbilang masif. UIN Banten menerjunkan total 1.400 mahasiswa, di mana 1.200 di antaranya telah lebih dulu dilepas di berbagai kecamatan. Sementara itu, 240 mahasiswa lainnya merupakan delegasi khusus KKN Nusantara dari 42 Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) se-Indonesia.

Pemilihan wilayah Kabupaten Lebak, khususnya kawasan masyarakat Baduy, memiliki nilai strategis yang sangat relevan dengan pesan Menteri Agama. Menurut Prof. Ishom, kawasan ini adalah episentrum pembelajaran ekoteologi yang sesungguhnya.

Foto bersama Menag beserta rombongan KKN Nusantara VI 2026 beserta pendamping

"Kita sengaja memilih tema merawat ekoteologi, karena pada dasarnya orang Baduy itu memiliki nilai-nilai ekoteologis yang luar biasa. Di Baduy ada kampung Baduy Dalam yang menolak modernisasi demi menjaga kemurnian alam, dan Baduy Luar yang meski terbuka, tetap ketat menjaga kelestarian lingkungannya," ungkap Prof. Ishom.

Baca juga : BTN Sukses Cetak 863 Pengembang Baru Lewat Program Mini MBA in Property

Banten yang lekat dengan julukan daerah "Seribu Kiai, Seribu Pesantren" juga menjadi rumah bagi penganut kepercayaan Sunda Wiwitan. "Artinya, mahasiswa nanti akan belajar secara langsung tentang bagaimana merawat tradisi sekaligus membangun harmoni dengan penganut kepercayaan lain di lapangan," tambahnya.

Menjawab Krisis Melalui Agen Pemberdayaan

Sejalan dengan visi filosofis dan realitas lapangan tersebut, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Sahiron, menegaskan bahwa KKN Nusantara adalah langkah konkret Perguruan Tinggi Keagamaan dalam merespons tantangan zaman, khususnya isu lingkungan dan sosial.

Paradigma ekoteologi, menurut Prof. Sahiron, menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardh (wakil Tuhan di bumi) yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian bumi sebagai rumah bersama.

"KKN Nusantara merupakan salah satu program strategis Kementerian Agama RI. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya melaksanakan pengabdian sebagai bagian dari tridarma, tetapi juga hadir sebagai agen pemberdayaan masyarakat yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, kearifan lokal, dan inovasi dalam menjawab tantangan pembangunan," jelas Prof. Sahiron dalam keterangan tertulisnya.

Pelepasan para peserta KKN Nusantara VI 2026 di Gedung PPG UIN SMH Banten

Ia juga menekankan bahwa ekoteologi adalah bentuk nyata dari semangat wasathiyyah (moderasi beragama). Moderasi tidak lagi sekadar membangun harmoni antarmanusia, melainkan menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam. Untuk mewujudkan hal ini, mahasiswa dibekali ragam metodologi kontekstual, seperti Asset Based Community Development (ABCD), Participatory Action Research (PAR), Community Based Research (CBR), hingga Service Learning (SL) yang berfokus pada potensi desa.

Menagih Luaran Akademik dan Transformasi Sosial

Untuk memastikan seluruh gagasan besar mulai dari kearifan alam hingga moderasi beragama ini tidak menguap sekadar sebagai euforia seremonial, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Diktis Kemenag, Nur Kafid, memberikan penekanan tegas pada akhir rangkaian pembekalan.

Baca juga : Awal Januari 2026, Siswa Terdampak Bencana Sumatera Ditargetkan Sekolah Lagi

Kata dia, KKN Nusantara VI ditargetkan harus menghasilkan luaran akademik dan sosial yang terukur. Kehadiran mahasiswa delegasi se-Indonesia di tengah masyarakat Baduy dan sekitarnya ini tidak boleh hanya untuk sekadar menggugurkan kewajiban SKS.

"Lebih dari itu, kami menargetkan adanya rekam jejak pengabdian berupa artikel jurnal ilmiah, policy brief yang bisa direkomendasikan kepada pemerintah daerah, serta modul-modul pemberdayaan masyarakat yang adaptif. Transformasi sosial di Banten ini harus terdokumentasi dengan baik, agar model penerapan Ekoteologi ini bisa menjadi purwarupa yang dapat direplikasi oleh perguruan tinggi lain di masa mendatang," pungkasnya.

Dengan kolaborasi multikultural dari 42 PTK se-Indonesia ini, KKN Nusantara VI bukan sekadar menjadi perjalanan akademik biasa. Selama 40 hari ke depan, para mahasiswa mengemban tugas berat namun mulia: melakukan ziarah ekologis, merunduk pada kearifan alam Baduy, sekaligus menebarkan benih harmoni di Bumi Nusantara.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.