Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kerja Sama dengan Rutgers University
Unas Gelar Rangkaian International Short Course and Symposium 2026
Kamis, 23 Juli 2026 17:11 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Program Studi S1 dan S2 Biologi, Fakultas Biologi dan Pertanian, Universitas Nasional (Unas), bekerja sama dengan Rutgers, The State University of New Jersey, menyelenggarakan rangkaian International Short Course and Symposium 2026. Kegiatan mengangkat tema besar “Primates, Ecology, and Conservation in Indonesia”.
Sebagai puncak rangkaian kegiatan tersebut, diselenggarakan simposium internasional bertajuk: “Global Partnership in Biodiversity and Behavioral Ecology” dengan subtema: “Lessons from Tuanan Orangutan Research Station and the Heritage of Flores”, di Ruang Seminar, Lantai 3, Gedung Menara UNAS, Kampus Universitas Nasional, Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (22/7/2026).
Program pelatihan lapangan ini merupakan penyelenggaraan yang keenam dan melibatkan mahasiswa serta dosen dari Program Studi Biologi S1 dan S2, Fakultas Biologi dan Pertanian, Universitas Nasional; Rutgers University, Universitas Palangka Raya, serta berbagai mitra pemerintah dan masyarakat lokal. Mitra yang terlibat antara lain Pemerintah Desa Tumbang Mangkutup, Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Kapuas–Kahayan, serta Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah.
Rangkaian kegiatan dirancang sebagai program pembelajaran internasional yang mengintegrasikan kuliah, praktik penelitian lapangan, latihan pengumpulan data, keterlibatan atau pengabdian pada masyarakat, pengenalan budaya lokal, serta presentasi akademik. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai biologi dan konservasi primata, tetapi juga mempelajari hubungan antara manusia, satwa liar, ekosistem, budaya, dan pengelolaan sumber daya alam.
Pelatihan Lapangan di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan
Tahap pertama program dilaksanakan di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan, Kalimantan Tengah, pada 2–11 Juli 2026. Kegiatan ini bertujuan melatih peserta dalam penggunaan berbagai teknik lapangan untuk penelitian dan konservasi primata, seperti pengamatan perilaku, pemantauan populasi, sensus primata, pengamatan sarang orangutan, pengukuran vegetasi, pengamatan fenologi, serta penilaian kondisi habitat.
Program ini juga memperkenalkan berbagai strategi dan inisiatif konservasi yang bertujuan melindungi primata beserta habitatnya. Selain itu, peserta dibekali pemahaman mengenai human ecology, yaitu kajian tentang hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya, termasuk keterkaitan faktor sosial, budaya, ekonomi, dan ekologis dalam pengelolaan sumber daya alam dan konservasi berkelanjutan.
Kegiatan di Stasiun Penelitian Tuanan diawali dengan perjalanan peserta dari Palangka Raya menuju lokasi penelitian, orientasi stasiun, pengenalan kawasan melalui kegiatan forest walk, serta kuliah mengenai keanekaragaman hayati Indonesia dan primata.
Peserta kemudian mengikuti praktik latihan pengambilan data perilaku orangutan dan pengamatan pada plot fenologi. Dalam kegiatan tersebut, peserta mengukur diameter pohon serta mempelajari perubahan periodik pada tumbuhan, seperti pembentukan daun, bunga, dan buah yang berpengaruh terhadap ketersediaan pakan satwa.
Baca juga : Bersama IOM Indonesia, Universitas Trisakti Gelar PkM Internasional tentang HPP
Pada hari berikutnya, peserta melaksanakan pengambilan data sensus primata dan pendataan sarang orangutan. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung mengenai metode yang digunakan untuk memperkirakan keberadaan, distribusi, dan kondisi populasi primata di habitat alaminya.
Kolaborasi Konservasi dan Keterlibatan Masyarakat
Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pengesahan demplot tanaman hutan hasil kerja sama antara Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan dan Desa Tumbang Mangkutup. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keterlibatan masyarakat dalam rehabilitasi habitat, pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan perlindungan kawasan hutan.
Peserta juga mengikuti latihan praktik pengambilan data human ecology untuk memahami pandangan, pengetahuan, kebutuhan, dan interaksi masyarakat dengan lingkungan sekitarnya. Data tersebut menjadi penting karena keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh aspek biologis, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.
Pada 7–9 Juli 2026, peserta melaksanakan group project dengan melakukan Latihan pengumpulan data secara berkelompok di lapangan. Kelompok penelitian dikembangkan berdasarkan minat peserta, baik dalam bidang primatologi, keanekaragaman hayati, ekologi habitat, maupun dimensi manusia dalam konservasi.
Kegiatan lapangan ditutup dengan kegiatan sosial bersama masyarakat lokal pada 10 Juli 2026. Dalam kegiatan tersebut, peserta dan penyelenggara menyerahkan bantuan berupa lampu tenaga surya untuk membantu penerangan jalan di Dusun Tuanan. Program ini menunjukkan bahwa kegiatan akademik dan konservasi dapat berjalan berdampingan dengan kontribusi nyata bagi masyarakat di sekitar kawasan penelitian.
Pembelajaran Lapangan dan Warisan Flores
Setelah menyelesaikan kegiatan di Kalimantan Tengah, peserta melanjutkan perjalanan akademik ke Flores, Nusa Tenggara Timur. Tahap ini berfokus pada pembelajaran mengenai bentang alam, keanekaragaman hayati, budaya masyarakat dataran tinggi, kawasan pesisir, serta pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal.
Rangkaian kegiatan di Flores meliputi kunjungan ke Ruteng, pasar tradisional, Gua Liang, Gua Liang Bua, Danau Rana Mese, Kampung Adat Bena, kawasan TWA Laut Riung 17 Pulau, perkebunan kopi ekologis dan Komunitas Dewala di desa Waso.
Peserta juga mengunjungi kawasan Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar untuk memperoleh pemahaman mengenai pengelolaan kawasan konservasi, ekologi satwa endemik, wisata berbasis masyarakat, serta tantangan dalam menjaga keseimbangan antara perlindungan keanekaragaman hayati dan aktivitas manusia. Kemudian mengunjungi desa Messah untuk penenaman transplantasi karang yang diinisiasi POKDARWIS setempat.
Baca juga : FSRD Universitas Trisakti dan IOM Indonesia Sukses Gelar PkM Internasional
Pengalaman di Flores memperlihatkan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati memiliki keterkaitan yang erat dengan warisan budaya, sistem mata pencaharian, pengetahuan tradisional, serta partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, konservasi perlu dikembangkan melalui pendekatan multidisiplin dan kolaboratif.
Simposium sebagai Puncak Pertukaran Pengetahuan
Simposium internasional pada 22 Juli 2026 menjadi kegiatan akademik penutup dari seluruh rangkaian program. Dalam kegiatan tersebut, peserta akan mempresentasikan hasil pengamatan, pengalaman lapangan, proses pengumpulan data, serta pembelajaran yang diperoleh selama mengikuti kegiatan di Kalimantan Tengah dan Flores.
Simposium ini diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara mahasiswa, dosen, peneliti, praktisi konservasi, pemerintah, organisasi mitra, dan masyarakat. Berbagai topik yang akan dibahas mencakup primatologi, perilaku orangutan, biodiversitas hutan tropis, ekologi tumbuhan, human ecology, konservasi berbasis masyarakat, serta hubungan antara warisan alam dan budaya.
Melalui kegiatan ini, Universitas Nasional dan Rutgers University berupaya memperkuat kemitraan akademik global dalam bidang keanekaragaman hayati dan ekologi perilaku. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang lebih luas untuk penyelenggaraan penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, publikasi ilmiah, pengembangan pendidikan lapangan, serta program konservasi yang melibatkan masyarakat.
Program ini juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari metode, mata kuliah, dan pendekatan ilmiah yang mungkin belum tersedia secara lengkap di institusi asal. Interaksi antarpeserta dari berbagai latar belakang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi ilmiah, kerja sama lintas budaya, pemecahan masalah, dan perancangan penelitian multidisiplin.
Dorong Konservasi Berbasis Kolaborasi Global
Ketua Pelaksana Simposium 2026 Dr. Fitriah Basalamah, M.Si. mengungkapkan bahwa Penyelenggaraan International Short Course and Symposium 2026 menegaskan bahwa tantangan konservasi tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu atau satu institusi saja. Perlindungan primata, hutan tropis, kawasan pesisir, dan warisan budaya membutuhkan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga konservasi, peneliti, masyarakat lokal, serta mitra internasional. Selain itu, Sekolah Menengah Atas (SMA) juga menjadi generasi muda yang ikut berperan dalam melindungi biodiversitas yang ada di Indonesia tegasnya.
Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan memberikan pembelajaran penting mengenai penelitian jangka panjang terhadap orangutan dan habitat hutan tropis. Sementara itu, Flores memberikan gambaran mengenai hubungan yang kuat antara biodiversitas, bentang alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal.
Dengan menghubungkan kedua wilayah tersebut, program ini diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara manusia, satwa, dan lingkungan, sekaligus mendorong lahirnya generasi peneliti dan praktisi konservasi yang mampu bekerja secara kolaboratif pada tingkat nasional maupun internasional.
Baca juga : Universitas Binawan Gandeng JPMC College of Health Sciences Brunei
Universitas Nasional mengundang sivitas akademika, mahasiswa, peneliti, praktisi konservasi, pemerhati lingkungan, serta masyarakat umum untuk menghadiri simposium dan berpartisipasi dalam dialog mengenai masa depan keanekaragaman hayati dan konservasi berkelanjutan.
International Short Course: Primates, Ecology, and Conservation in Indonesia merupakan program pembelajaran internasional yang diselenggarakan oleh Program Studi Biologi S1 dan S2, Fakultas Biologi dan Pertanian, Universitas Nasional bersama Rutgers University. Program ini memadukan pendidikan, penelitian lapangan, konservasi primata, human ecology, keterlibatan masyarakat, dan pembelajaran budaya di Kalimantan Tengah dan Flores.
Simposium “Global Partnership in Biodiversity and Behavioral Ecology: Lessons from Tuanan Orangutan Research Station and the Heritage of Flores” merupakan forum akademik yang menjadi puncak rangkaian kegiatan sekaligus sarana diseminasi hasil pembelajaran dan pengalaman lapangan para peserta.
Guru besar Department of Anthropology and Center for Human Evolutionary Studies Rutgers University, Prof. Erin R. Vogel, yang juga memimpin kegiatan ini, menyampaikan bahwa Program Kolaboratif UNAS-Rutgers menyatukan mahasiswa sarjana dari Universitas Nasional (UNAS) dan Universitas Rutgers untuk mempelajati keanekaragaman hayati Indonesia yang luar biasa, warisan budaya yang kaya, dan kegiatan konservasi alam. Shortcourse ini menyediakan platform unik untuk pembelajaran akademis, pertukaran lintas budaya, dan kolaborasi yang bermakna di antara mahasiswa dan fakultas dari kedua institusi.
Menurutnya, kegiatan seperti ini, sejak diluncurkan pada tahun 2014, telah berhasil menyelenggarakan shortcourse ini sebanyak enam kali dalam kemitraan dengan UNAS. Tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman transformatif dan sekali seumur hidup kepada mahasiswa yang mengintegrasikan ekologi, perilaku primata, ilmu konservasi, pengelolaan ekosistem, dan eksplorasi budaya. Tahun ini, funding untuk mahasiswa UNAS disponsori oleh Leakey Foundation.
Melalui pengalaman lapangan yang mendalam dan kolaborasi internasional, menurutnya bertujuan untuk menginspirasi dan mempersiapkan generasi penerus ahli biologi konservasi dan pemimpin lingkungan di Indonesia dan di luar negeri. Kesempatan ini juga berharap dapat membina jaringan profesional yang langgeng dan kemitraan jangka panjang di antara mahasiswa dan dosen UNAS dan Rutgers, menciptakan peluang untuk penelitian, kolaborasi, dan keterlibatan global di masa depan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya