Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Stunting masih menjadi ancaman serius bagi generasi emas Indonesia. Di Sumatera Utara, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting masih 19,2 persen. Di Kota Medan, masih di angka 18,5 persen. Artinya, berdasarkan SSGI 2024, hampir 2 dari 10 balita di Medan tumbuh pendek, kurang cerdas, dan rentan sakit karena gizi buruk kronis.
Banyak orang mengira stunting hanya soal anak kurang makan. Padahal, stunting adalah persoalan hulu ke hilir. Hilirnya adalah balita yang sudah terlanjur pendek. Hulunya ada pada remaja putri yang anemia, calon pengantin yang tidak siap, ibu hamil yang kurang gizi, dan pola asuh yang salah.
Jika kita hanya fokus memberi makanan tambahan kepada balita stunting, kita hanya memadamkan api. Padahal, kita harus mencegah apinya muncul. Karena faktanya, makanan tambahan itu hanya bertahan 90 hari program. Setelah program selesai, anak kembali piring yang sama, ke dapur yang sama, ke pola asuh yang sama.
Ada tiga hulu pencegahan stunting yang sering dilupakan. Pertama, remaja putri. Di Medan, 32 persen remaja putri mengalami anemia. Mereka calon ibu. Jika remaja putri anemia, maka ketika hamil nanti, bayinya berisiko lahir dengan berat badan rendah, dan berakhir menjadi stunting. Gerakan minum tablet tambah darah seminggu sekali di sekolah dan kampus harus digalakkan.
Baca juga : Generasi Muda sebagai Penggerak Gaya Hidup Sehat di Era Modern
Kedua, 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode emas ini dihitung sejak ibu hamil hingga anak berusia 2 tahun. Pada masa ini, ibu wajib memeriksakan kehamilan minimal 6 kali, mengonsumsi makanan tinggi protein hewani, dan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan.
Masalahnya, banyak ibu di Medan masih percaya mitos. Ada yang tidak memberikan telur kepada anak karena takut cacingan. Ada yang memberikan pisang kepada bayi usia 2 bulan agar tidak rewel. Edukasi berbasis budaya dan agama menjadi kunci.
Di sinilah peran mahasiswa Kesehatan Masyarakat dibutuhkan. Pendekatan agama efektif. Ketika dijelaskan bahwa memberikan ASI selama 2 tahun adalah perintah Al-Quran (QS. Al-Baqarah: 233) dan menjaga keturunan (Hifz An-Nasl) adalah bagian dari Maqashid Syariah, ibu-ibu akan lebih patuh daripada sekadar disuruh oleh bidan.
Ketiga, sanitasi dan lingkungan. Anak yang sering diare karena lingkungan kotor akan sulit menyerap gizi, sehebat apa pun makanannya. Di beberapa kelurahan di Medan seperti Belawan dan Sunggal, masih banyak rumah tanpa jamban sehat. Anak bermain di lingkungan yang terkontaminasi. Infeksi berulang inilah yang memicu stunting. Mencegah stunting berarti juga membangun jamban, menyediakan air bersih, dan mencuci tangan pakai sabun.
Baca juga : Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan Masyarakat
Pemerintah Kota Medan sudah menjalankan program Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS). Namun, program ini tidak akan berhasil tanpa partisipasi masyarakat. Puskesmas tidak bisa bekerja sendiri. Posyandu tidak bisa bekerja sendiri.
Solusinya adalah gotong royong. Satu masjid mengasuh satu anak stunting. Satu kos-kosan mahasiswi memantau satu remaja putri anemia di sekitarnya. Satu warung makan menyediakan telur gratis untuk ibu hamil dhuafa. Gerakan kecil ini jika dilakukan serentak, dampaknya akan besar.
Mencegah stunting bukan tugas Dinas Kesehatan saja. Ini tugas kita semua. Jika stunting tidak dicegah hari ini, maka 20 tahun lagi Medan akan kekurangan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Bonus demografi akan menjadi bencana demografi.
Mari cegah stunting dari hulu, sebelum terlambat. Karena terlambat itu nyata. Kerusakan otak akibat stunting tidak bisa dikejar. Jika anak sudah lewat usia 2 tahun dan sudah stunting, tinggi badannya mungkin bisa sedikit mengejar, tapi kecerdasannya tidak. Sel-sel otaknya yang hilang di 1.000 Hari Pertama Kehidupan tidak akan pernah kembali. Kita telah kehilangan satu generasi cerdas selamanya.
Baca juga : Tangsel Perkuat Pos Gizi Berbasis Masyarakat Untuk Cegah Stunting
Artikel ini ditulis oleh Putri Elyana Harahap, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Putri Namira, Latan Sabila Lubis, Peggi Aulia, Nabila Atika Rahma, Sri Rahma Salsabila Siregar, dan Aninda Listya, Sitti Fhadilah Pasaribu dari IKM 8 stanbuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
IKM8 UINSU Stambuk 2026g
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya