Dark/Light Mode

Anemia pada Remaja Putri: Masalah Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Selasa, 6 Oktober 2026 20:29 WIB
Ilustrasi anemia pada remaja putri (Gambar dibuat dengan AI)
Ilustrasi anemia pada remaja putri (Gambar dibuat dengan AI)

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi perhatian di Indonesia, terutama pada remaja putri. Anemia adalah kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah berada di bawah batas normal sehingga kemampuan sel darah merah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Kekurangan oksigen tersebut membuat tubuh lebih cepat lelah, lemas, pucat, pusing, dan sulit berkonsentrasi. Masalah ini sering dianggap sepele, padahal jika dibiarkan dapat memengaruhi kesehatan, prestasi belajar, dan kualitas hidup remaja putri di masa depan (Kementerian Kesehatan, 2023).

Remaja putri memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan remaja putra. Salah satu penyebab utamanya adalah menstruasi yang terjadi setiap bulan sehingga tubuh kehilangan zat besi. Selain itu, banyak remaja memiliki kebiasaan makan yang kurang sehat, seperti melewatkan sarapan, mengonsumsi makanan cepat saji, atau melakukan diet yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Kebiasaan tersebut dapat menyebabkan asupan zat besi, asam folat, dan vitamin B12 tidak terpenuhi sehingga meningkatkan risiko anemia (WHO, 2024).

Baca juga : Tubuh Sehat, Hidup Lebih Hebat: Mengapa Kesehatan Harus Jadi Prioritas?

Anemia pada remaja putri dapat menimbulkan berbagai dampak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam kehidupan sehari-hari, anemia dapat menyebabkan tubuh mudah lelah saat belajar atau beraktivitas, menurunkan konsentrasi, serta mengurangi daya tahan tubuh sehingga lebih mudah terserang penyakit. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, anemia dapat memengaruhi perkembangan fisik dan kemampuan berpikir remaja. Bahkan, ketika remaja putri memasuki usia kehamilan di kemudian hari, anemia dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, bayi lahir dengan berat badan rendah, dan stunting pada anak (BKKBN, 2023).

Faktor lingkungan dan sosial juga berperan dalam terjadinya anemia. Kurangnya pengetahuan mengenai gizi seimbang, terbatasnya akses terhadap makanan bergizi, serta rendahnya kesadaran untuk memeriksakan kesehatan menjadi penyebab yang sering ditemukan di masyarakat. Oleh karena itu, pencegahan anemia tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah dalam memberikan edukasi serta layanan kesehatan yang mudah dijangkau (Kementerian Kesehatan, 2023).

Baca juga : Bahaya Kurang Aktivitas Fisik bagi Kesehatan

Upaya pencegahan anemia dapat dimulai dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang. Remaja putri dianjurkan mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, seperti daging merah, hati, ikan, telur, bayam, kacang-kacangan, dan sayuran hijau. Penyerapan zat besi juga dapat ditingkatkan dengan mengonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C, seperti jeruk, jambu biji, dan pepaya. Sebaliknya, konsumsi teh atau kopi setelah makan sebaiknya dibatasi karena dapat menghambat penyerapan zat besi di dalam tubuh (WHO, 2024).

Pemerintah Indonesia juga menjalankan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri sebagai langkah pencegahan anemia. Tablet ini mengandung zat besi dan asam folat yang membantu memenuhi kebutuhan tubuh. Program tersebut dianjurkan dikonsumsi secara rutin sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Selain itu, pemeriksaan kadar hemoglobin secara berkala penting dilakukan agar anemia dapat dideteksi lebih awal dan segera ditangani (Kementerian Kesehatan, 2023).

Baca juga : Bukan Hanya Tubuh, Pikiran Juga Perlu Dijaga

Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat, remaja memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya anemia. Edukasi tentang pentingnya gizi seimbang, konsumsi Tablet Tambah Darah, serta pola hidup sehat dapat dilakukan melalui sekolah, kampus, maupun media sosial. Langkah sederhana seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan memeriksakan kesehatan secara berkala dapat membantu menurunkan angka anemia pada remaja putri. Dengan kerja sama berbagai pihak, anemia dapat dicegah sehingga tercipta generasi perempuan Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, dan siap menyongsong masa depan yang lebih baik (Kementerian Kesehatan RI, 2023; WHO, 2024).

Artikel ini ditulis oleh Putri Febriani, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.

IKM10 UINSU Stambuk 2026g
IKM10 UINSU Stambuk 2026g
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.