Dark/Light Mode

Cambridge: Guru Perlu Dilibatkan dalam Penyusunan Kebijakan AI di Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 06:56 WIB
Ilustrasi. Laporan dari Cambridge memaparkan pentingnya peran guru dalam kebijakan AI di sekolah. (Dok. Cambridge)
Ilustrasi. Laporan dari Cambridge memaparkan pentingnya peran guru dalam kebijakan AI di sekolah. (Dok. Cambridge)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pembuat kebijakan di Indonesia perlu bekerja sama lebih erat dengan guru dalam menyusun kebijakan penggunaan kecerdasan artifisial (AI) di lingkungan sekolah. Investasi pada pembelajaran profesional guru juga perlu diperkuat agar pendidik mampu memanfaatkan AI secara efektif sekaligus bersikap kritis terhadap perangkat yang digunakan.

Rekomendasi tersebut disampaikan dalam laporan terbaru Cambridge University Press & Assessment (Cambridge) berjudul Shaping AI Policy and Practice in English Language Teaching.

Laporan tersebut menyebut guru dan peserta didik juga perlu dilibatkan dalam proses perancangan, pengadaan, implementasi, dan evaluasi perangkat generative artificial intelligence (GenAI). Pelibatan tersebut dinilai penting agar kebijakan AI benar-benar berpijak pada kondisi pembelajaran di ruang kelas.

Laporan Cambridge disusun berdasarkan praktik para pengajar bahasa Inggris di berbagai negara yang lebih dulu mengadopsi GenAI. Laporan ini juga merujuk pada riset Cambridge sebelumnya mengenai AI dan pemanfaatannya oleh guru.

Laporan tersebut bertujuan menghadirkan kerangka yang lebih terstruktur di tengah penggunaan dan adopsi AI yang selama ini masih kerap berjalan sendiri-sendiri.

Temuan laporan menunjukkan banyak guru di berbagai negara mulai menjajaki penggunaan AI, tetapi tidak selalu mendapatkan arahan yang jelas. Salah satu kekhawatiran utama adalah bagaimana mempersiapkan siswa agar siap menghadapi AI dan mampu menganalisis hasil yang dihasilkan teknologi tersebut secara kritis.

Baca juga : Mahasiswa LMND Tuntut Kesejahteraan Guru dan Tenaga Kependidikan

Siswa perlu dibekali kemampuan untuk mempertanyakan akurasi keluaran AI, mengenali bias dan ketidakakuratan, serta menggunakan GenAI sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai jalan pintas.

Untuk mendukung guru sekaligus memberikan masukan bagi perkembangan kebijakan AI di Indonesia dan berbagai negara lainnya, Cambridge merumuskan delapan prinsip utama dalam pemanfaatan AI di lingkungan sekolah.

Pertama, guru dan peserta didik perlu dilibatkan dalam tata kelola AI. Keduanya perlu berkontribusi dalam pengambilan keputusan terkait implementasi dan evaluasi perangkat GenAI agar kebijakan yang dibuat sesuai dengan realitas pembelajaran di kelas.

Kedua, pembelajaran profesional guru perlu dilakukan secara berkelanjutan. Guru membutuhkan dukungan untuk mengevaluasi perangkat AI secara kritis, mengambil keputusan pedagogis, menyesuaikan GenAI dengan tujuan pembelajaran, serta mengajarkan penggunaan AI yang bertanggung jawab kepada siswa.

Ketiga, literasi AI kritis perlu menjadi bagian dari kurikulum. Siswa perlu mampu mempertanyakan keluaran AI, mengenali bias dan ketidakakuratan, menggunakan GenAI sebagai pendukung proses belajar, serta memahami kapan teknologi tersebut tidak seharusnya digunakan.

Keempat, kerangka kurikulum dan penilaian perlu diperbarui. Sistem pendidikan tidak hanya perlu mengakui hasil akhir pembelajaran, tetapi juga proses belajar, kemampuan memanfaatkan umpan balik, refleksi peserta didik, dan kemampuan berpikir mandiri.

Baca juga : Guru Besar UIN Jakarta: Wantimpres Perkuat Kualitas Kebijakan Negara

Kelima, kebijakan AI perlu memprioritaskan hasil pendidikan yang berpusat pada manusia. Kemampuan seperti berpikir kritis, komunikasi, kemandirian, kecerdasan emosional, dan tanggung jawab sosial tetap perlu diperkuat di tengah perkembangan AI.

Keenam, kepercayaan perlu dibangun melalui penggunaan AI yang etis dan perlindungan yang kuat. Hal tersebut mencakup privasi data, akses sesuai usia, inklusivitas, kepenulisan yang bertanggung jawab, transparansi, serta akuntabilitas.

Ketujuh, otonomi dan penilaian profesional guru perlu dilindungi. Guru harus ditempatkan sebagai pengambil keputusan dalam perancangan, pemilihan, penerapan, evaluasi, dan penyempurnaan perangkat AI, bukan sekadar pelaksana teknologi yang dipilih pihak eksternal.

Kedelapan, akses yang adil terhadap perangkat AI berkualitas tinggi perlu dipastikan. Kebijakan harus memperhatikan keberagaman bahasa, konteks lokal, aksesibilitas, serta kondisi sekolah dengan sumber daya terbatas agar GenAI tidak memperlebar kesenjangan pendidikan.

Director of Research, English, Cambridge University Press & Assessment, Dr Evelina Galaczi mengatakan, perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat kebijakan kerap tertinggal. Di sisi lain, guru dituntut terus beradaptasi dengan teknologi tersebut.

“Kebijakan sering kali kesulitan mengikuti pesatnya perkembangan teknologi, sementara guru dituntut untuk terus beradaptasi. Kondisi ini telah menciptakan kesenjangan pengetahuan dan pendekatan yang tidak konsisten dalam pendidikan dan adopsi AI,” ujar Evelina.

Baca juga : Ismail Hasani Resmi Jadi Guru Besar Hukum Konstitusi UIN Jakarta

Menurutnya, kondisi tersebut membuat guru di Indonesia dan berbagai negara lainnya secara tidak langsung memikul tanggung jawab untuk membangun pengetahuan praktis mengenai integrasi AI yang bertanggung jawab.

“Sebagaimana sering terjadi, guru di Indonesia dan berbagai negara lainnya akhirnya secara tidak langsung memikul tanggung jawab untuk membangun pengetahuan praktis mengenai seperti apa sebenarnya integrasi AI yang bertanggung jawab,” katanya.

Evelina mengatakan, guru yang telah bereksperimen dengan AI di ruang kelas cenderung memprioritaskan pertimbangan profesional, praktik pembelajaran yang berpusat pada manusia, serta literasi AI kritis.

“Dengan mengikuti langkah tersebut, kita dapat memastikan bahwa AI menjadi alat yang efektif dan digunakan secara bertanggung jawab untuk mendukung proses pengajaran dan pembelajaran, bukan menjadi penopang yang justru mendorong jalan pintas dalam belajar,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :