Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Sabtu Berkah Bareng Ojol, Kapolda Metro Jaya Ajak Pengemudi Utamakan Keselamatan
- Menperin: Pendidikan Vokasi Kunci Cetak SDM Industri Unggul
- Nawakara Edukasikan Generasi Muda Soal Keamanan Hingga Kepedulian Lingkungan
- BRI Peduli Salurkan 270 Unit Mesin Pompa Air Bantu Kendalikan Api di Kalimantan
- Pemprov DKI Siapkan 11 Rusun dalam APBD 2027, Rorotan dan Marunda Prioritas
Pemerintah Bakal Dorong Perdagangan Cabe Antar-Pulau
Minggu, 12 Desember 2021 09:58 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kenaikan harga cabe di awal Desember ini tidak 100 persen dipengaruhi oleh Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2021 maupun Tahun Baru 2022. Sebagian besar, kenaikan juga disebabkan mulai berakhirnya musim panen di beberapa sentra produksi cabe nasional.
“Karena itu, salah satu strategi Pemerintah seperti yang disampaikan di Rapat Koordinasi (Rakor) HBKN pada November lalu, melakukan perdagangan antarpulau,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan kepada Rakyat Merdeka.
Baca juga : ASDP Siapkan Layanan Penyeberangan Selama Libur Nataru
Menurutnya, perdagangan antarpulau ini nantinya akan mengkoordinasikan beberapa sentra produksi cabe dengan daerah yang kekurangan, meski kedua daerah berbeda pulau. Oke mencontohkan, jika produksi cabe di Pulau Jawa masih tinggi, bisa dikirim ke Pulau Sumatera yang kondisinya saat ini sedang kekurangan karena sudah berakhirnya masa panen.
“Dalam pelaksanaannya, akan dikoordinasikan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) masing-masing,” lanjut Oke.
Baca juga : Pemerintah Dan DPR Garap RUU Fintech
Menurutnya, sebagai tindak lanjut dalam menjaga stabilitas harga cabe, Pemerintah juga sudah melakukan pemantauan harga cabe di daerah sentra-sentra produksi di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. “Beberapa sentra cabe yang pasokannya masih terjaga, di antaranya di Wates, Magelang dan Muntilan di Jawa Tengah,” ujarnya.
Kemendag, lanjut Oke, juga terus mendorong implementasi teknologi penyimpanan cabe yang lebih efisien, baik melalui Controlled Atmosphere Storage (CAS) atau penyimpanan dengan udara terkendali (UT), maupun teknologi ozon. “Kami mendorong penyerapan cabe saat panen raya oleh industri pengolahan. Dengan begitu, saat produksi banjir harga cabe tidak anjlok,” pungkasnya. [NOV]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya