Dark/Light Mode

Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Iwan Agung Firstantara

Biomassa, Energi Baru Paling Murah Tapi Stoknya Tak Mudah

Senin, 5 Agustus 2024 07:05 WIB
Dirut PLN EPI Iwan Agung Firstantara (kedua kanan) bersama Wakil Ketua IV Masyarakat Energi Biomassa (MEBI) Widi Pancono (kiri), Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal (Ditjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Kementerian ESDM Edi Wibowo (kedua kiri), dan Direktur Biomassa PLN EPI Antonius Aris Sudjatmiko, dalam sesi konferensi pers pada Focus Group Discussion (FGD) bertema Risiko, Tantangan, dan Mitigasi Pada Tatanan Rantai Pasok dan Komponen Pembentuk Harga Batubara dan Biomassa serta EBT Lainnya di Hotel Padma, Semarang, Jawa Tengah, 23 Juli 2024.
Dirut PLN EPI Iwan Agung Firstantara (kedua kanan) bersama Wakil Ketua IV Masyarakat Energi Biomassa (MEBI) Widi Pancono (kiri), Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal (Ditjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Kementerian ESDM Edi Wibowo (kedua kiri), dan Direktur Biomassa PLN EPI Antonius Aris Sudjatmiko, dalam sesi konferensi pers pada Focus Group Discussion (FGD) bertema Risiko, Tantangan, dan Mitigasi Pada Tatanan Rantai Pasok dan Komponen Pembentuk Harga Batubara dan Biomassa serta EBT Lainnya di Hotel Padma, Semarang, Jawa Tengah, 23 Juli 2024.

RM.id  Rakyat Merdeka - Salah satu cara Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengurangi emisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)-nya adalah melalui teknologi co-firing. Yaitu memasukkan limbah kebun, hutan atau pertanian (dinamai biomassa) sebagai campuran bahan bakar pembangkit listriknya. Dengan co-firing, penggunaan batubara berkurang, emisi karbon pun turun.

Dibanding energi baru lainnya, biomassa termasuk yang harganya paling murah.

Tapi sayang, tidak mudah mencari pasokan biomassa dalam jumlah besar untuk kebutuhan di PLTU yang jumlahnya banyak sekali di seluruh Indonesia. Karena itu, PLN mengajak masyarakat sekitar area pembangkit terlibat dalam bisnis penyediaan material ini.

Berikut ini wawancara jurnalis Rakyat Merdeka Ratna Susilowati dan Firsty Hestyarini dengan Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) Iwan Agung Firstantara, mengenai strategi pengembangan biomassa untuk transisi energi di sektor kelistrikan nasional. Wawancara dilakukan di Hotel Padma Semarang, Jawa Tengah, 23 Juli 2024.

Bagaimana peran PLN EPI dalam mendukung transisi energi di sektor kelistrikan nasional?

PLN EPI sebagai bagian dari grup PLN mempunyai mandat dalam pelaksanaan net zero emission. Komitmen ini diwujudkan dengan pembentukan Direktorat Biomassa, yang bertujuan mengkonsolidasi dan memasok bio massa sebagai bagian dari co-firing bahan bakar di PLTU batubara. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan porsi renewable energy dan menurunkan emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh PLTU.

Baca juga : Airlangga Genjot SDM Sektor Ekonomi Digital

Dari concern itu, PLN EPI telah bisa mensuplai pasokan biomassa dalam jumlah sangat signifikan. Tahun 2021, kami suplai 250 ribu metric ton biomassa. Pada tahun 2022 meningkat menjadi 500 ribu metric ton. Dan tahun 2023 mencapai 1 juta metric ton.Naiknya dua kali lipat dan cukup signifikan. Tahun ini, kami ditargetkan 2,2 juta metric ton.

Strategi apa saja yang dilakukan PLN EPI untuk mencapai pasokan 2,2 juta ton tersebut?

Pertama, kami memetakan suplai atau sumber pasokan di seluruh Indonesia. Kami identifikasi. Di daerah tertentu, misalnya, terdapat pasokan biomassa seperti cangkang sawit, serbuk gergaji. Di Lampung ada banyak bonggol jagung, dan singkong. Lalu di Nusa Tenggara ada banyak jenis lain lagi. Kami petakan semua, mengidentifikasi potensi mana yang bisa dikembangkan menjadi biomassa.

Kedua, kami melakukan uji coba biomassa di setiap PLTU. Alhamdulillah, sudah ada 42 PLTU yang siap dipasok dengan biomassa. Kami juga bekerja sama dengan mitra pemasok, baik langsung dari sumbernya atau melalui agregator di masing-masing daerah. Hal ini terbukti efektif untuk memenuhi pasokan. Dengan cara itu, target 1 juta metric ton pasokan biomassa tahun lalu bisa terpenuhi.

Apakah semua PLTU di PLN dapat menggunakan bio massa?

Semua PLTU yang menggunakan batubara dapat menggunakan biomassa. Untuk jenis-jenis tertentu, bahkan bisa 100 persen menggunakan biomassa.

Baca juga : Pasar Pramuka Bakal Jadi Modern, Bersih Dan Teratur

Dengan pasokan 2,2 juta ton biomassa, berapa persen listrik hijau yang bisa dialirkan oleh seluruh pembangkit PLN?

Ketika kami memasok 1 juta metric ton, itu artinya sudah mencapai 1,5 persen substitusi batubara. Jadi, dengan 2,2 juta metric ton, berarti sekitar 3 persen (listrik PLN berasal dari transisi energi). Target kami pada 2025 adalah 10 juta metric ton. Nanti tinggal dikalikan saja persentasenya.

Bagaimana cara PLN EPI mencapai target pasokan 10 juta ton di tahun 2025?

Mencapai suplai 10 juta metric ton membutuhkan dukungan dari semua pihak, termasuk kebijakan harga (dari Pemerintah). Saat ini, harga biomassa masih setara atau 1:1 dengan harga batubara. Nah alhamdulillah, telah terbit Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 12 tahun 2023, yang mengatur insentif sekitar 20 persen. Sehingga harga biomassa lebih tinggi dari harga batubara. Ini diharapkan dapat menggairahkan pasar biomassa.

Bagaimana antusiasme pengusaha terhadap pemenuhan kebutuhan biomassa?

Antusiasme cukup besar karena biomassa tumbuh di masyarakat. Ini merupakan pasar yang belum mature, sehingga masih banyak potensi dan peluang yang bisa dikembangkan. Beberapa perusahaan sudah mulai menginvestasikan untuk mengolah biomassa. Menjadikannya bukan sekadar limbah, tetapi produk bernilai ekonomi.

Baca juga : Tim Ayam Jantan Waspadai The Pharaohs

Apakah pengusaha lebih suka mengekspor biomassa? Jika nanti diberlakukan insentif dalam Peraturan Menteri Keuangan, apakah ini bisa jadi daya tarik yang membuat makin banyak pengusaha masuk ke bisnis biomassa?

Tidak sepenuhnya benar pengusaha lebih suka mengekspor biomassa (khususnya cangkang sawit). Karena ada spesifikasi dan harga tersendiri untuk yang kualitas ekspor. Potensi biomassa ada sekitar 13,5 juta metric ton. Yang diekspor itu sekarang sekitar 3,3 juta metric ton.

Artinya, potensi dalam negeri masih sangat besar. Dengan insentif kenaikan harga, diharapkan memberi keseimbangan untuk cenderung ke konsumsi dalam negeri.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.