Dark/Light Mode
Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Iwan Agung Firstantara
Biomassa, Energi Baru Paling Murah Tapi Stoknya Tak Mudah
Sebelumnya
Apakah ada upaya-upaya khusus dari PLN untuk menarik pengusaha ke bisnis biomassa?
PLTU memiliki masa ekonomis tertentu. Cukup lama, long live. Bisa 20, 30 bahkan bisa sampai 50 tahun. Kalau kita nisbatkan bahwa PLTU ini akan hidup misalnya 5 atau 10 tahun lagi, memakai roadmap penggunaan biomassa yang jelas, maka kami bisa lakukan kontrak jangka panjang. Ini akan menggairahkan para pengusaha untuk menghitung investasi yang dibutuhkan.
Dan menciptakan lingkungan bisnis yang menarik.
Terkait pemberdayaan masyarakat, apa saja yang sudah dilakukan PLN EPI? Apakah ada proyek percontohan yang melibatkan masyarakat sehingga satu PLTU 100 persen menggunakan biomassa?
Kami sudah memulai proyek ekonomi sirkular di Gunung Kidul, Jawa Tengah. Sudah berkembang dan alhamdulillah, progress-nya cukup bagus. Proyek ini berkembang dan menjadi benchmark di beberapa daerah seperti Jawa Barat, Lampung, Aceh dan Kalimantan, Metodanya sangat bagus. Masyarakat digerakkan menanam, lalu sebagian dari limbah tanam kami manfaatkan (jadi biomassa).
Apakah sudah ada 100 persen PLTU yang menggunakan bahan bakar biomassa?
Baca juga : Airlangga Genjot SDM Sektor Ekonomi Digital
Ada beberapa PLTU yang sudah melakukan uji coba 100 persen biomassa untuk bahan bakarnya.
PLTU Sanggau dan Sintang (Kalimantan Barat), Pulang Pisau (Kalimantan Tengah), Tembilahan dan Tanjung Balai Karimun (Riau), Sumbawa Barat (NTB) sudah melakukan firing 100 persen biomassa menggunakan cangkang sawit dan woodchip secara kontinyu selama 15 hari, dengan hasil sangat baik, tanpa ada kendala operasi pada pembangkit.
PLTU jenis stocker adalah yang paling siap mensubsitusi bahan bakar dari batubara menjadi biomassa 100 persen, tanpa ada perubahan atau modifikasi peralatannya.
Berapa banyak pengusaha yang sudah menjalin kerja sama dengan PLN EPI?
Saat ini, ada lebih dari 80 pengusaha yang bekerja sama dengan kami. Mereka menyuplai langsung dari produksi mereka atau menjadi agregator dari masyarakat yang berada di sekitar PLTU. Alhamdulillah, ini berjalan baik dan terus berkembang.
Apa saja kelebihan biomassa dibandingkan jenis energi transisi lain?
Baca juga : Pasar Pramuka Bakal Jadi Modern, Bersih Dan Teratur
Pertama, biomassa sumbernya dari daerah kita sendiri. Potensinya di dalam negeri sangat besar. Bahkan negara kita tergolong penyedia biomassa terbesar di dunia. Biomassa digunakan sebagai bahan bakar di PLTU yang sudah ada, sehingga tak perlu investasi. Hanya tinggal mengganti atau mencampur bahan bakar batubara dengan biomassa saja. Sehingga harganya paling murah dibanding renewable energy yang lain, seperti hydropower, geothermal atau solar.
Kedua, merujuk perhitungan, harga energi dari PLTU biomassa sekitar 4,5-5 sen perKwH. Sedangkan kalau membangun hydropower harga listriknya sekitar 7,8 sen perKwH dan geothermal sekitar 10-11 sen perKwH. Jadi, biomassa di PLTU jelas paling murah. Sangat murah.
Apa saja tantangan tersulit dalam pengembangan pembangkit biomassa?
Yang paling sulit adalah ketersediaan atau stok. Secara technical, tidak ada masalah. Secara keuangan juga masih bisa, dalam volume tertentu.
Jika nanti (keluar aturan Pemerintah) pemberian insentif, volume biomassa akan lebih besar. Ini akan jadi tantangan lagi. Biomassa memang unik. Kalau butuh sedikit, harganya murah. Tapi saat banyak harganya jadi mahal. Karena ketersediaannya tidak gampang.
Bagaimana model bisnis atau ekonomi sirkular untuk pengembangan biomassa yang melibatkan masyarakat?
Kami memberi ruang kepada masyarakat, atau mereka yang menggerakan masyarakat untuk mengolah biomassa yang ada di sekitar PLTU. Dikelola dengan ekonomis dan memasok ke PLTU dengan mendapatkan profit. Jadi, bisnis biomassa ini akan berkah untuk rakyat, negara dan lingkungan.
Baca juga : Tim Ayam Jantan Waspadai The Pharaohs
Kami memohon dukungan kepada semua stakeholder terkait biomassa. Karena energi dari biomassa adalah cara terbaik dan paling murah dalam kontribusi memperbesar bauran renewable energy.
Menggunakan aset yang sudah ada, dan kita memanfaatkan resources yang tersedia cukup besar di negeri sendiri. Indonesia negara agraris, bisa menciptakan renewable energy yang lebih murah dan ramah lingkungan. ***
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Senin, 5 Agustus 2024 dengan judul "Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Iwan Agung Firstantara, Biomassa, Energi Baru Paling Murah Tapi Stoknya Tak Mudah"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.