Dark/Light Mode

Tangkap Peluang Carbon Trading

Perhutani Bangun Model Bisnis Karbon Sejak 2021

Rabu, 7 Agustus 2024 07:05 WIB
Direktur Utama Perum Perhutani, Wahyu Kuncor. (Foto: Istimewa).
Direktur Utama Perum Perhutani, Wahyu Kuncor. (Foto: Istimewa).

 Sebelumnya 
Sebab, ada persyaratan yang mengharuskan suatu negara mencukupi dulu Nationally Determined Contribution (NDC) atau kontribusi nasional yang ditetapkan.

“Kami men-balance neraca karbonnya dulu, syaratnya (bisa jual ke luar negeri) itu, harus tercukupi NDC dalam negerinya. Sampai kapan? Ya tunggu sampai 2030, kecuali kalau bisa dipercepat,” katanya.

Terpisah, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi menyampaikan, penggunaan teknologi Carbon Capture Storage (CCS) dapat menjadi mesin pertumbuhan baru bagi perusahaan di masa depan.

Hal ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam penurunan emisi karbon.

Terlebih, pada awal 2024, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur tentang penyelenggaraan kegiatan penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS).

Baca juga : Airlangga Gencarkan Tiga Mesin Ekonomi

Perpres Nomor 14 Tahun 2024 ini, dimaksudkan untuk memenuhi target iklim dalam NDC dan mencapai netralitas karbon atau Net Zero Emission (NZE).

Untuk itu, perseroan menegaskan komitmennya untuk turut andil dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi CCS.

“Bagi kami, ini adalah cara untuk menciptakan mesin pertumbuhan baru, karena kami perlu tumbuh dengan lebih sedikit karbon dan CCS memberikan jalan untuk mencapai hal tersebut,” ujar Rahmad melalui siaran pers, Sabtu (3/8/2024).

Saat ini pihaknya sudah memiliki CO2 (Karbondioksida) dengan kemurnian tinggi. Sehingga hal yang dibutuhkan perseroan hanya penyimpanan dan cara untuk memasukkan CO2 tersebut ke dalam tanah.

Selain itu, pihaknya juga telah merencanakan beberapa proyek terkait CCS, termasuk rencana produksi 4,3 juta ton blue ammonia.

Baca juga : Monas Bakal Dipoles Lebih Hijau Dan Ikonik

Menurutnya, proyek-proyek ini mencakup greenfield projects di Aceh dan Sumatera Selatan. Bahkan pabrik amonia l juga akan digunakan dalam pengembangan ini.

Ia menambahkan, bagi Pupuk Indonesia, CCS bukan hanya upaya dekarbonisasi. Sebab, jika dilihat sebagai upaya dekarbonisasi saja, maka ini hanya dianggap sebagai biaya.

“Bagi kami, ini adalah mesin pertumbuhan baru kami di masa depan,” tegas Rahmad.

Ia memastikan, dengan rencana strategis ini, Pupuk Indonesia menunjukkan kesiapan dan tekadnya dalam memanfaatkan teknologi CCS.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan optimistis, Indonesia memiliki potensi penyimpanan emisi karbon (CO2) mencapai 600 juta gigaton, melalui CCS. Sehingga, jumlah ini membuat Indonesia menjadi pusat atau hub CCS global.

Baca juga : Tim Ayam Jantan Dihadang Matador

Melalui potensi penyimpanan emisi karbon, Luhut memastikan, Indonesia berkontribusi besar terhadap pencapaian target keberlanjutan global.

“Indonesia diberkahi sumber daya energi baru dan terbarukan yang luar biasa,” ujar Luhut, melalui akun Instagramnya @luhut.pandjaitan, Senin (5/8/2024). IMA

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Rabu, 7 Agustus 2024 dengan judul "Tangkap Peluang Carbon Trading, Perhutani Bangun Model Bisnis Karbon Sejak 2021"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.