Dark/Light Mode

Hadapi Ancaman Kejahatan Siber, BPD Seluruh Indonesia Perkuat Adopsi Teknologi Hingga IT Security

Kamis, 8 Agustus 2024 19:34 WIB
Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) terus memperkuat adopsi teknologi, dibarengi dengan pelatihan karyawan terhadap IT security sebagai upaya menghadapi ancaman siber. (Foto: Istimewa)
Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) terus memperkuat adopsi teknologi, dibarengi dengan pelatihan karyawan terhadap IT security sebagai upaya menghadapi ancaman siber. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) terus memperkuat adopsi teknologi, dibarengi dengan pelatihan dan kesadaran karyawan terhadap IT security sebagai upaya menghadapi ancaman serangan siber makin berkembang dan kompleks seiring dengan kemajuan teknologi.

Ketua Umum Asbanda Yuddy Renaldi mengatakan, ancaman serangan siber memang menjadi tantangan yang sangat serius bagi sektor perbankan. Termasuk BPD, tidak luput dari ancaman serangan siber.

“Keberhasilan BPD dalam menghadapi ancaman serangan siber sangat bergantung pada kesiapan dalam adopsi teknologi, berupa pelatihan dan kesadaran karyawan terhadap IT security,” katanya dalam Seminar Nasional bertajuk ‘Ancaman Cyber Crime di Era Digital Bagi Bank Pembangunan Daerah Seluruh Indonesia, Kamis (8/8/2024).

Sementara itu, Deputi Bidang Pelaporan dan Pengawasan Kepatuhan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Fithriadi mengungkap sejumlah fakta peretasan pada sektor perbankan.

Berdasarkan pemantauan dan analisa yang dilakukan PPATK, diketahui bahwa serangan siber dilakukan secara terstuktur dengan memanfaatkan kelemahan IT security.

Salah satunya mengimitasi script server yang digunakan untuk akses BI-Fast sehingga dana bank umum bisa dipindahkan tanpa verifikasi bank umum itu sendiri.

Baca juga : Bangkitkan Kejayaan Bulu Tangkis Indonesia, PB Djarum Bidik Kategori Usia 11 dan 12

“Biasanya pelaku peretasan memanfaatkan waktu akhir pekan, untuk melakukan aksinya karena rekonsiliasi data bank umum dan BI-Fast dilakukan di hari kerja," jelasnya.

Dari sisi regulator, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sangat concern terhadap keamanan data nasabah dari serangan siber.

OJK telah mengeluarkan blueprint transformasi digital untuk Industri Jasa Keuangan (IJK), termasuk perbankan.

Menurut Deputi Komisioner Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan dan Perlindungan Konsumen OJK Rizal Ramadhani, blueprint ini diturunkan dalam POJK Nomor 11 Tahun 2022 tentang penyelenggaraan Teknologi Bank Umum, dan POJK 21 Tahun 2023 tentang Layanan Digital Bank Umum.

“Beleid ini yang mengatur tingkat kepatuhan bank dalam adopsi teknologi yang dilakukan secara bertanggung jawab,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Kalbar Brigjen Pol Yusup Saprudin menuturkan, pihaknya mendapatkan sejumlah temuan kerawanan serangan siber pada perbankan daerah.

Baca juga : Sebelum Pulang Ke Tanah Air, Prabowo Kunjungi Pusat Teknologi Pertahanan Turki

Salah satunya adalah fokus perbankan lebih banyak pada digitalisasi yang mengikuti pergeseran perilaku nasabah.

"Padahal investasi di bidang digital harus berbanding lurus dengan investasi di bidang cyber security. Ditambah lagi, security awarness tidak merata pada pegawainya, cenderung hanya pada tim IT,” katanya.

Ancaman serangan kejahatan siber di bank daerah makin kompleks. Ada beberapa ancaman utama yang dihadapi BPD. Mulai dari phising, social enginering, malware dan ransomware, hingga cryptojacking.

Chairman Infobank Media Group Eko B Supriyanto mengatakan, terdapat sejumlah kunci pembelajaran yang bisa diadopsi dalam mencegah kejahatan serangan siber. Pertama, prioritas keamanan siber untuk manajemen tertinggi.

“Dalam hal ini, direksi dan komisaris harus memiliki komitmen memberikan perhatian utama pada keamanan siber,” ujarnya.

Dalam keamanan siber, sambung Eko, harus dilakukan pendekatan yang pro aktif.

Baca juga : Gandeng Chevron, Pupuk Indonesia Gelar Studi Pengembangan Teknologi Penangkapan Karbon

Menurut laporan dari Gartner pada 2022, penerapan pendekatan keamanan siber yang pro aktif dapat mengurangi insiden pelanggaran keamanan hingga 66 persen pada 2026. Hal penting lainnya adalah menjadikan keamanan siber sebagai proses berkelanjutan.

Untuk itu, penting bagi bank untuk terus berinvestasi dan menjaga kepatuhan, serta memperbaharui pertahanan keamanan secara teratur.

“Terakhir, pengembangan budaya keamanan siber yang kuat dengan membangun budaya keamanan siber yang solid di seluruh organisasi. Ini jadi hal yang krusial,” pungkas Eko.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.