Dark/Light Mode

Bakti PHE Dukung Kedaulatan dan Jaga Ketahanan Energi Nasional

Sabtu, 17 Agustus 2024 09:19 WIB
Bakti PHE Dukung Kedaulatan dan Jaga Ketahanan Energi Nasional

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina terus membuktikan kinerja cemerlang hingga saat ini. Sepanjang Januari hingga Juni 2024, PHE mencatatkan produksi minyak dan gas (migas) sebesar 1,05 juta BOEPD (barel setara minyak per hari).

Corporate Secretary PHE Arya Dwi Paramita menjelaskan, produksi minyak sebesar 556 ribu BOPD (barel minyak per hari) dan produksi gas 2,86 miliar SCFD (standar kaki kubik per hari).

"Pencapaian PHE tidak terlepas dari kontribusi dan kerja keras seluruh regional dan anak usaha," kata Arya dalam keterangan tertulis perusahaan, Sabtu (17/8/2024).

Pada awal tahun ini kata dia, pengeboran eksplorasi juga berhasil menemukan sumberdaya migas baru pada pengeboran Sumur Anggrek Violet (AVO)-001 di Sumatera Selatan, sumur Pinang East (PNE)-1 di Riau dan sumur Julang Emas (JLE)-001 di Sulawesi Tengah.

Untuk mendukung target produksi migas nasional sebesar 1 juta BOPD dan 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) lanjut Arya, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sebagai Regional Sumatera berhasil menemukan sumber minyak dan gas (migas) baru di Blok Rokan dengan potensi produksi hingga 3.000 BOPD.

PHR menemukan sumber migas baru tersebut melalui pengeboran Sumur Eksplorasi Astrea-1 yang berada di wilayah Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

PHR kata dia, terus melakukan upaya pencarian dan produksi minyak di Wilayah Kerja (WK) Rokan, salah satunya melalui proyek Multi Stage Fracturing (MSF) sumur horizontal di lapangan Kotabatak, Kabupaten Kampar, Riau.

Baca juga : Punya Kemampuan dan Pengalaman, Qodari Nilai Bahlil Layak Pimpin Golkar

"Melalui terobosan ini, PHR berhasil melakukan eksekusi sumur MSF Kotabatak dengan produksi di atas 500 BOPD. Eksekusi proyek MSF sumur horizontal tersebut dilakukan selama kurang lebih tiga bulan sejak April 2024, dan mulai diproduksikan sejak 27 Juli 2024," katanya.

Dari Regional Jawa lanjut Arya, untuk menjaga ketahanan energi, Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) berkomitmen untuk mengoptimalkan potensi cadangan migas domestik.

Salah satu strategi untuk meningkatkan produksi tersebut, PHE ONWJ mengaktifkan kembali platform LES.

Platform LES yang terletak di lepas pantai 25 Kilometer dari Cilamaya, Kabupaten Karawang ini diperkirakan menyimpan potensi minyak mencapai 0.34 Million Stock Tank Barrels (MMSTB) dan 24.23 Billion Standard Cubic Feet (BSCF) untuk gas.

Lapangan LES pertama kali ditemukan pada tahun 1994 melalui sumur eksplorasi LESA-1.

Platform LESA mulai produksi pada tahun 2001 dengan performa produksi hingga 3,5 MMSCFD melalui 3 (tiga) sumur aktif.

"Tiga sumur eksisting akan diaktifkan kembali setelah sebelumnya di non-aktifkan pada November 2017," katanya.

Baca juga : Data Dukcapil Bantu Rumuskan Kebijakan Ketenagakerjaan Tepat Sasaran

Arya menambahkan, kolaborasi di lingkungan Subholding Upstream Pertamina juga terus membawa semangat baru dan simbol kebangkitan nasional untuk mewujudkan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional.

Salah satunya melalui capaian Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) yang berhasil membawa jackup rig ‘Emerald Driller’ yang sudah tiba di laut Jawa.

Tujuannya untuk digunakan dalam proyek pengeboran offshore PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) dan PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).

Sementara dari Regional Kalimantan, PT Pertamina Hulu Mahakam baru-baru ini meresmikan tiga proyek di wilayah kerja (WK) Mahakam.

Tiga proyek tersebut yakni, Proyek Bekapai Artificial Lift (Bekapai AL), Proyek Peciko 8A dan 8B. Proyek Bekapai AL merupakan sebuah proyek pemasangan Gas Lift Compressor di anjungan existing Bekapai BA dengan gas-lift yang diinjeksikan ke sumur-sumur di anjungan existing Bekapai BG dan BL.

Sedangkan Proyek Peciko 8A, merupakan pilot project PHM dalam memproduksi minyak dan gas pada mode Low Low Pressure (LLP) di anjungan existing SWPG.

Terakhir, Proyek Peciko 8B yang merupakan kelanjutan upaya PHM untuk menambah produksi gas dan kondensat dari Lapangan Peciko.

Baca juga : 4 Kecamatan dan 21 Desa di Kabupaten Luwu Dukung Operasional MDA

Tiga proyek ini akan berkontribusi untuk menambah kapasitas produksi gas sebesar 36 MMSCFD, minyak dan kondesat sebesar 16.000 BOPD.

Puncak produksi yang diharapkan dari ketiga proyek tersebut untuk gas sebesar 11,9 MMSCFD, serta minyak dan kondensat sebesar 2.025 BOPD.

Arya mengatakan, dalam mendukung kebijakan transisi energi ke gas, PHE melalui anak usahanya PT Badak NGL berhasil melakukan inovasi di Kilang LNG Bontang, Kalimantan Timur melaui program LPG Production Booster System (LPBS).

Lewat inovasi ini, Badak LNG sukses mengurangi impor LPG nasional. Badak LNG sukses meningkatkan produksi LPG mencapai 323 persen melalui program LPBS.

Dari Regional 4 Indonesia Timur, Pertamina EP Donggi Matindok Field resmi memulai pengeboran sumur eksplorasi Tedong (TDG)-001 sebagai bagian dari Sulawesi Drilling Campaign Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina.

Pengeboran dengan rig PT Pertamina Drilling Services Indonesia #32.2/N80UE (1000 HP) ini ditargetkan mencapai kedalaman 2500 mSSTVD / 2534 mMD selama 67 hari.

"Drilling campaign yang dilaksanakan di wilayah Regional Indonesia Timur terutama di Sulawesi merupakan upaya untuk mendukung sentra produksi gas baru," kata Arya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.